Jika teringat masa sekolah dahulu, mungkin kita akan sangat bangga jika memperoleh nilai sempurna atau nilai tertinggi di kelas. Bahkan bisa jadi dengan modal nilai tertinggi tak jarang akan menjadi modal untuk bersikap takabur.Bisa jadi nilai yang diperoleh mencerminkan kemampuan seorang siswa bisa jadi pula nilai yang diperoleh merupakan nilai “manusiawi”. Sebagaimana cerita seorang guru yang mempunyai pengalaman mengajar di sekolah yang terkenal kelas “buangan” bagi para siswa. Bukan hanya “buangan” dari segi kecerdasan, tetapi juga “buangan” dari segi akhlaqnya. Tetapi kebijakan yang diambil oleh sekolah memberikan nilai A dan B kepada hampir seluruh siswanya.
Jika memang demikian, kiranya siapa yang lebih patut untuk disalahkan?. Apakah memang standart “benar dan salah” bagi ummat manusia telah mengalami pergeseran?. Bukankah yang dinamakan kebenaran adalah jika setiap manusia bertanya pada hati nurani yang paling dalam akan mengatakan itu perbuatan benar. Dan jika seorang manusia melakukannya tidak ada secuilpun perasaan takut dilihat orang.
Kiranya kesalahan memang tidak hanya bertumpu pada pihak sekolah yang memang mendapat “jatah” murid yang kelas buangan, sehingga harus berusaha sekuat tenaga agar siswanya “baik”. Tetapi terkadang tuntutan terhadap standart yang dibuat seakan mengharuskan berbuat seperti itu. Ataukah disisi lain sang siswa hanya melaksanakan “tes” hanya sekedar menjalankan sebuah kewajiban sebagai seorang murid. Toh nantinya nilai akan “dibuat” oleh dewan guru. Bukan motivasi memperoleh nilai terbaik.
Terlepas dari itu semua, kiranya ketika masih hidup di dunia ini, banyak “nilai-nilai” yang belum bisa mencerminkan keadaan obyektif sang pemilik nilai. Manipulasi dan rekayasa seakan sudah bukan barang tabu. Bisa diutak-atik, direvisi, dimanipulasi. Tetapi jika sudah berhubungan dengan “nilai” disisi Allah, maka tidak ada lagi urusan utak-atik, revisi, manipulasi.
Segala yang telah diperbuat manusia akan mendapatkan nilai disisi Allah. Baik nilai plus atau nilai minus. Nilai plus tentunya dalam bahasa kita adalah nilai yang diberikan sebagai “upah” bagi kebaikan yang dilakukan, begitu pula nilai minus diberikan sebagai “balasan” atas keburukan yang diperbuat.
Sehingga bagaimana upaya seorang manusia untuk mendapatkan nilai plus atau bahkan nilai paling baik disisi Allah merupakan sebuah usaha yang butuh pengorbanan. Bukan hanya sebagai penggugur kewajiba seorang “abdi” kepada “Majikan”, tetapi memberikan yang terbaik sekuat dan seoptimal mungkin. Tentunya hal ini harus sesuai dengan keinginan “Sang Majikan”. Bukan hanya atas dasar motivasi ingin memberikan yang terbaik sekuat tenaga tetapi dalam perspektif Majikan justru akan membuat kerusakan. ….