Berbagi Cerita

Februari 26, 2009

Aku Rindu

Diarsipkan di bawah: resah — masibnu @ 7:01 am

Sore ini, saat hujan rintik rintik, aku sendiri menatap layar monitor. Ada yang bergemuruh di dalam dada. Endapan kristal yang bergemuruh yang tak mampu terbendung lagi, kini tumpah menguraikan kesedihan. Ada yang bergejolak di dalam jiwa. Semua beradu memainkan nuansanya…Dengan segenap hati kurangkaikan kata demi kata untuk mengobati kerinduaku. Kerinduan pada mereka yang kini entah di mana. Aku merasa kehilangan…sangat kehilangan! Karena itu, kucoba tuliskan rinduku, pada mereka yang dulu…

Ah, masih terekam dalam ingatan seorang ikhwan yang rela berjalan kaki sejauh 10 KM seminggu 2 kali untuk mengajar anak-anak kecil belajar membaca Al Qu’ran. Mengeja A Ba Ta Tsa. Berangkat pukul 2 siang dan kembali ke rumah selepas jam 8 malam. Atau “terpaksa” menginap di salah satu rumah penduduk lantaran jalan tidak memungkinkan, karena harus menyeberang sungai dan keadaan sedang banjir. Semua itu tanpa “gaji” dari manusia walau hanya sepeserpun.

Aku rindu ikhwan di sebuah kecamatan yang cukup pelosok yang sibuk lalu lalang kehujanan hingga sakit saat itu juga lantaran mengurusi Acara Kemah lomba antar TPQ se-kecamatan. Aku rindu seorang ikhwan yang pembicaraannya untuk urusan dakwah dan jihad, mengalakan pembicaraan tentang akhwat yang terasa bak bidadari surga sedang singgah dirumahnya, menyapa dengan seutas senyum manisnya.

Aku rindu, ikhwan-ikhwan yang rela kehujanan berjalan kaki untuk mendatangi sebuah majelis ilmu. Berjalan kaki 3 KM 2 atau 3 orang atau bahkan hanya seorang diri. Walaupun kondisi jalan gelap gulita yang saking gelapnya tak mampu melihat orang yang ada didepannya. Pernah dia ampir bertabrakan dengan seorang ikhwan lain yang melintas didepannya sepulang dari sebuah acara. Ia berjalan anya menggunakan “insting naluri” telah sering melewati jalan tersebut baik siang ataupun malam. Jangan ditanya jam pulangnya, paling cepat pulang dari tempat acara jam 11 malam.

Aku rindu, ikhwan-ikhwan yang hampir 2 minggu sekali berenang. Jangan dibayangkan berenang di kolam rangan yang enak setelah itu disuguhi santapan pengganjal perut. Bukan!. Mereka melakukan renang di sungai yang cukup besar lagi dalam dengan aliran yang cukup deras pula. Tentunya lokais jauh dari tatapan orang-orang yang lalu lalang. Jangan bayangkan pula menuju lokasi dengan mudah karena jalan sudah halus diaspal goreng. Mereka menuju lokasi dengan berjalan kaki pula dan harus mendaki dan menuruni sebuah bukit yang cukup tinggi dengan waktu perjalanan paling cepat 1 jam. Jalan yang dilalui hanyalah jalan setapak yang hanya cukup dilalui oleh seorang saja sehingga arus berjejer ke belakang. Sesekali pula melewati tepi jurang yang dalam yang jika terperosok ke dalamnya resiko paling ringan patak tulang. Perna 2 kali kejadian jatuh ke jurang dan ditemukan di pinggir sungai dengan diiringi lantunan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Sesekali pula disaat renang diselingi dengan tarung diatas pasir di tepi sungai hingga salah satu diantara mereka menjadi pemenang turnamen.

Aku rindu, majelis muroja’ah hafalan, yang seminggu sekali setor untuk didengarkan tambahan afalan tentang ayat-ayat yang menentramkan jiwa. Muroja’ah dengan penuh penghayatan. Seakan tidak ada kedamaian hati selain mengulang dan terus mengulang ayat demi ayat sambil berusaha mengingat dan meresapi arti dari ayat yang sedang diucapkan.

Aku rindu,!! Ikhwan ikhwan yang berusaha sekuat tenaga menjaga lisannya. Yaa menjaga lisannya dari mengucapkan kesanggupan melakukan sebuah amanah tetapi kenyataannya belum mampu dilakukan sesuai dengan batas waktu yang disanggupinya. Bukan hanya mengucapkan sanggup melakukan amanah dengan deadline waktu, tetapi lebih dari itu, berusaha melakukan amanah dengan hasil yang terbaik. Karena mereka sadar, amanah yang diembannya akan berimbas pada terbengkalainya rentetan amanah dakwah yang diemban oleh ikhwan yang lain.

Aku rindu, ikhwan lajang yang meluangkan banyak waktunya untuk kemakmuran masjid. Jika ingin mencarinya cari saja ikhwan tersebut di masjid nisacaya akan dijumpainya. Dan setumpuk rinduku pada ikhwan-ikhwan yang aku tak lagi berkenan untuk mengungkapkannya…..

Februari 24, 2009

Hidup Ini Terlalu Indah untuk Disesali

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:49 am

Jalinan hidup manusia adalah sebuah rangkaian puzzle yang susah untuk ditebak. Terkadang menjadi begitu rumit dan di lain waktu begitu mudah terurai permasalahan hidup. Di lain waktu pula sebuah episode hidup terkadang menjadi sebuah penyesalan yang tak kunjung berhenti. Epiode “terbodoh” yang dilakukan oleh seorang anak manusia. Yach begitu mudahnya untuk menyebut episode “terbodoh” yang dilakukan lantaran menurut perspektif manusia melakukan perbuatan yang tidak bernilai atau terkesan cenderung ceroboh.

Memang tidak perlu dipungkiri, kesalahan menjadi bumbu-bumbu penyedap kehidupan manusia. Toh tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan. Kesalahan menjadi pendidik paling berharga dalam kehidupan.

Masih segar dalam ingatan kita, masa-masa kecil, lantaran tidak membantu ibu mencuci piring, atau membantu ayah mencari rumput untuk makanan ternak, karena keasyikan bermain sepanjang hari. Lantas sore harinya mendapat teguran atau bahkan yang lebih keras dari itu “dimarahi” sang ayah. Dalam waktu seketika sang anak pastilah jadi ikut mangkel atau bahkan jadi ngambek lantaran dimarahi orang tua. Tidak tanggung-tanggung, bias jadi sang anak jadi ogah makan, ogah minum dan membiarkan dirinya kelaperan sepanjang malam. Sebagai bentuk “protes” meraka atas apa yang baru diterimanya. Bukankah masa kanak-kanak adalah masa bermain? Seandainya anak yang masih kecil telah mampu membantah.

Lantas bagaimana persepsi orang tua??. Sesuaikah dengan persepsi anak saat itu?. Bukankah teguran dan “marah” dari orang tua hakekatnya kembali untuk mengingatkan anaknya, agar tidak melupakan “membantu” orang tua.

Sepenggal kisah “sedih” tinggal meramu menjadi kenangan “manis”. Dengan sedikit merubah persepsi tentang hal itu. Bukan terbawa arus untuk menangisi berlarut larut hingga sebuah penyesalan tak kunjung henti. Toh orang tua yang meninggal tak kan kembali bangkit dan hidup kembali lantaran tangis sang anak selama sebulan penuh. Penyesalan yang tak kunjung henti takkan mampu merubah keadaan. Nasi yang terlanjur menjadi bubur bukanlah menjadi barang yang tak memiliki nilai guna. Tinggal menambahkan ayam dan bumbu-bumbu yang lain hingga menjadi bubur ayam yang lezat disantap dikala pagi.

Penyesalan tiada henti tak layak selalu dikumandangkan. Belajar dari kesalahan dan bangkit dari keterpurukan!. Bukankah penyesalan di dunia tak seberapa dibanding penyesalan di akherat???

Februari 3, 2009

Minimalis, Oke tuh

Diarsipkan di bawah: petualangan — masibnu @ 7:18 am

Ahad, saya beserta rombongan berkesempatan jeng-jeng silaturohim ke kota spirit of java. Manalagi kalau bukan Solo. sempet mampir juga di Sukoharjo untuk nunut ngiyup kok sekalian dikasih ngombe, alhamdulillah (hehe).

Walaupun kondisi hujan lebat, kami ber 6 tetap meneruskan perjalanan ke tempat kang burhan. Awalnya sempat dibuat bingung, belum mengetahui alamat lengkapnya, pokoke asal jalan dan asal menghubungi yang bersangkutan.

Dari jembatan palur ke sini, ada lampu merah (berhenti dulu) kalau ijo baru jalan, lalu belok sini, mentok dan ketemu rumah minimalis… wuihhhh. sejuk bener. minimalis dan cukup buat hidup. Apalagi pemandangan di depan rumah yang terhampar luas dengan pematang sawah dan pegunungan yang menjulang tinggi. Kalau malam masih di iringi nyanyian alam oleh jangkrik-jangkrik yang bersenandung wujud mereka bertasbih kepada Allah.

Untuk lebih lanjut kita lihat apa kata mereka tentang jeng-jeng kami. Kang IWanK dan sang empunya sendiri kang Burhan

Januari 29, 2009

Lompatan Hidup

Diarsipkan di bawah: get the spirit — masibnu @ 7:13 am

Tidak semua anak manusia melalui jalur hidup yang selalu enak dan menggembirakan. Tidak selalu berada pada jalan yang lempeng lagi alus sehingga sejak start mesin bisa digeber teratur meningkat kecepatannya. Tetapi ada kalanya mesin sedang bermasalah, baik itu karena aus akibat gesekan, mlepek lantaran musim penghujan kebanjiran, atau memang karena mesinnya udah ga punya tenaga alias sudah saatnya dimusiumkan.

Jika kondisi memaksa untuk istirahat sementara waktu lantaran sedang mengalami masalah dengan mesin, maka ketika mulai memacu kendaraannya butuh kecepatan yang lebih dibanding yang lain sehingga mampu menyusul ketertinggalan.

Hidup terkadang identik dengan hal itu. Saat merasa tertinggal dari yang lain, maka butuh lompatan hidup untuk menyusul mereka yang telah melaju. Tidak menutup kemungkinan ketika hendak melakukan lompatan hidup terkadang secara kasat mata terlihat mundur beberapa langkah dari perjalanan yang dilakukan. Dalam istilahnya hendak melakukan ancang-ancang.

Begitu pula akibat dari melompat banyak diantara mereka terpeleset terlebih dahulu, bahkan tidak sedikit yang berkali-kali mengalami terpeleset. Tetapi tidak sedikti pula yang langsung sukses. Bukankah jika berhasil seorang manusia hanya mengusahakan apa yang dia mampu, hasil merupakan hadiah dari Allah, sehingga tidak ada pintu untuk membanggakan diri apalagi sombong. Kecuali bagi mereka yang jumawa telah dikuasai oleh syaithon.

Begitu pula jika belum berhasil melompat, bukankah hanya sebuah kepingan puzle dari jalan menuju kesuksesan. Jika tidak patah arang mencoba dan terus mencoba niscaya akan menemukan ancang-ancang, pijakan kaki yang tepat, tinggi dan kecepatan lompatan, dan tumpuan pendaratan yang safety.

So, Jangan berhenti berpengharapan pada Allah, Dialah yang menentukan jalur hidup yang akan dilalui oleh manusia.

Januari 26, 2009

The Power of “Kepepet”

Diarsipkan di bawah: get the spirit — masibnu @ 7:41 am

Dengan status baru sebagai kontaktor dan keadaan rumah yang masih apa adanya memang mengharuskan untuk bersabar sementara waktu. Salah satunya kran kamar mandi warisan dari penghuni sebelumnya telah rusak dan hanya disumbat dengan plastik ireng. Kondisi ini masih dapat ditanggulangi lantaran masih ada kran di depan rumah yang bisa di salurkan ke bak dalam rumah menggunakan bantuan selang plastik ijo yang panjangnya sekitar 15 meter. Selama ini memang dirasa masih oke-oke aja, terasa tak ada ganjalan, sehingga niatan memperbaiki kran di dalam kamar mandi tak begitu jadi perhatian.

Tetapi keadaan seakan berubah dari sebuah cerita sederhana, Ahad kemarin, ba’da acara acara arisan ummi-ummi di tempat kami. Pipa kran air yang berada di luar rumah rusak dan patah, padahal air di dalam bak penampungan di kamar mandi sudah menipis.  Padahal Ahad malam jadwal PDAM mengalir, maklum air mengalir tiap 2 hari sekali.

Lantas saya mulai berfikir harus ada upaya pembenahan salah satu kran. Melihat pipa kran diluar rumah butuh biaya dengan membeli kran T, dan perlu gergaji lagian hari sudah malam, mati lampu lagi, maka muncul isengnya membenahi kran yang dalam rumah.  Ide punya ide akhirnya memanfaatkan bekas kran depan rumah yang ternyata masih bisa dipakai dan ditempatkan di dalam kamar mandi.

Hmm, seandainya pipa kran depan rumah tidak rusak mungkin tak akan segera terpikirkan membenahi kran dalam rumah. This is kepepet. Dari pada kagak mandi lantaran ga ada air, coz kran rusak mendingan memutar otak agar air PDAM bisa di manfaatkan.

Akhirnya walau dengan tangan yang masih sedikit sakit lantarak kena musibah, saya puter kran yang seret, yang penting tidak bisa lepas. Yups… terpasang dan…. Alhamdulillah air bisa ngalir dan dimanfaatkan. Bisa mandi pagi dirumah nich. hehe

Kepepet, memang terkadang seseorang akan muncul idenya berasal dari kepepet. Bagi sebagian orang justru lantaran kepepet ini mampu melahirkan sebuah semangat yang membara bagaikan api ang berkobar untuk bertindak keluar dari kungkungan kepepet. Berapa banyak manusia yang menjadi juragan lantaran awalnya kepepet tak punya uang lalu “terpaksa” memulai bisnis dengan modal nol rupiah, atau bahkan modal minus alias minjem ‘jas buka iket blangkon sama juga alias sami mawon‘ (hehe) dengan kata lain utang. Inilah betapa keadaan yang kepepet terkadang menjadi motivasi yang luar biasa untuk menjadi maju.

Januari 22, 2009

Uban

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:45 am

Tadi pagi, ketika hendak berangkat kerja, saya sempatkan menyisir rambut di depan cermin. Melihat diri sendiri, apakah sudah cukup ganteng untuk ukuran manusia seperti saya. Tetapi sayangnya saat itu tidak ada pembanding untuk ukuran “kegantengan” saya di depan cermin. Kalau membandingkan dengan istri jadinya paling ganteng. hehehe.

Saat di depan cermin itulah saya baru sadar, ternyata uban di kepala saya sudah mulai banyak. Apakah ini gara-gara menikah yach. hehehe. Saya jadi teringat akan dialog dengan seorang teman yang ubannya mulai tambah banyak setelah menikah. Ketika ditanya apakah lantaran beratnya menanggung istri?.

Dengan santainya menjawab “Setiap hari istri saya suruh jalan sendiri loh, ngga’ saya gendong ataupun saya panggul, jadi ga ada alasan berat menanggung istri lalu tambah banyak ubannya”. hehe

Hmm, Entah karena menikah atau tidak, uban sebagai tanda awal semakin berkurangnya jatah umur alias semakin bertambah tuwir. Emang sih, seiring bertambahnya waktu, jatah umur manusia akan semakin berkurang. Dan tentunya bagi yang belum menikah jangan takut tambah ubannya lantaran menikah. Tetapi dengan menikah banyak rahasia ibadah yang tak mampu didapat jika masih melajang.

Panggil Aku : Rijaluddien

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:03 am

Ibnu, sebuah nama yang sudah cukup lama melekat dalam diri saya. Apalagi jika dibelakangnya ditambahi nama Mukmin, mengambil nama ayah kelihatan lebih pas. Keberlangsungannya waktu, beberapa teman baik itu teman maya maupun teman nyata menambahi nama panggilan didepannya dengan bang atau mas, maka jadilah MasIbnu, sebagaimana nama blog ini.

Setelah menggenapkan dien dengan salah seorang akhwat asli Semarang,  muncullah beberapa kerisauan. Nama saya jadi terkesan kurang SREG, dengan tetap memakai nama Ibnu. Apalagi “pacar” baru (baru 7 bulan hehehe) kurang suka dengan panggilan Masibnu. Dia pun menyarankan agar ganti nama aja.  Memang sihh, panggilan Ibnu memiliki kesan tetap menjadi seorang “walad” padahal status sekarang sedang mengharap kehadiran seorang walad. (Apa hubungannya??)

Saya kemudian berfikir, merenung, mencerna beberapa kata yang terlintas dalam benak beberapa saat lamanya, akhirnya terpikirlah sebuah nama pena baru :

“Rijaluddien”

Sebuah nama yang memiliki tanggung jawab yang besar. Bukankah seorang tentara mampu mengangkat bebean yang berat lantaran sering dilatih (baca : dipaksa pada awalnya) untuk mengangkat beban yang berat pada masa awal diklat.

Disamping itu, tetap menampilkan nama As Sinay, yang diambil dari nama sebuah kecamatan tempat lahir yang terletak di kaki gunung Lawu, SINE.

so, Call me : Rijaluddien As Sinay

Januari 20, 2009

Bahasa Malaysia yang “Unik”

Diarsipkan di bawah: Guyon, iseng — masibnu @ 7:32 am

Wah bagi kita bahasa Indonesia bahasa yang cukup enak buat telinga yach, coba bandingkan dengan bahasa Malaysia..

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (oh please…)

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : ” Pasukaaan.. bubar jalan !!! “
MALAYSIA : ” Pasukaaan.. cerai berai !!! “

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi

INDONESIA : rumah sakit bersalin
MALAYSIA : hospital korban lelaki (bener juga sih…)

INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA : talipon bimbit

INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut

Ayo ada lagi yang mau nambahin??

*hadiah sore dari seorang rekan, dengan sedikit editan.

Januari 19, 2009

Krisis Gaza dan Krisis Global

Diarsipkan di bawah: Renunganku, sharing — masibnu @ 7:43 am

Menilik langkah Yahudi Israel yang berangsur-angsur menarik pasukannya dari beberapa wilayah penting di Jalur Gaza, setelah sejak 27 Desember menggempur salah satu markaz HAMAS, yang mengakibatkan lebih dari 1200 orang meninggal dunia (semoga menjadi syuhada’). Berbanding dengan 13 “penjagal” Israel yang Tewas, memang menimbulkan sebuah pertanyaan besar dalam benak kita. Langkah mundur Israel tersebut diambil setelah Israel menyatakan telah terpenuhi “target” penyerangan ke Gaza.

Jika menilik lebih jauh tentang beberapa stategi Yahudi “menguasai” dunia dalam rangka mendirikan Israel Raya, sebagaimana dipaparkan dalam Akar Konflik Palestina-Israel, memang beralasan jika kita melihat dalam skenario global Yahudi.  Menilik krisis global yang mendera negeri “boneka” Yahudi, siapa lagi kalau bukan Amrik, dan mulai hancurnya kepercayaan dunia pada finansialnya, maka tidak menutup kemungkinan yahudi memunculkan intrik untuk mengalihkan perhatian dunia dari krisis global, salah satunya yaitu dengan penyerangan ke Gaza. Untuk mencari dalih penyerangan tersebut rasanya tidaklah sulit, mengingat Gaza merupakan salah satu markaz HAMAS, kelompok militan perlawanan Israel.

Ketika dunia mulai beralih perhatiannya kepada konflik Gaza, maka Yahudi mampu kembali “pasang kuda-kuda” untuk memperbaiki perekonomian ribawi yang sedang sekarat tersebut. Jika memang waktunya persiapan “pembenahan” tersebut telah dirasa cukup, pasukan ditarik dari Gaza. Hal ini terlihat pula dari reaksi VETO Amrik atas Resolusi DK PBB ketika penyerangan baru berlangsung beberapa hari. Disamping itu target penyerangan Israel tidaklah murni mecari “militan” HAMAS sebagaimana alasan yang dikemukakan oleh Israel. Jika memang memburu HAMAS, tayangan di media tidak pernah menukilkan militan hamas yang tertangkap, ditawan ataupun disiksa sebagaimana penyarangan AMrik atas Iraq.

so, Bagi kaum Muslimin, mari selalu waspada atas tipu daya Israel Yahudi.

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.