Posted by: masibnu | Juni 1, 2008

Sepak Bola Ria

hari sabtu pagi atau ahad pagi, biasanya memang menjadi jadwal “wajib” saya untuk memenuhi salah satu kegemaranku, berkencan dengan makhluk mungil nan manis yang bermuka bulet…. siapa lagi kalau bukan si Bola. bermain bola memang menjadi menu lezat jjika pada hari yang bersangkutan sedang tidak ada agenda laen yang lebih penting dan mendesak.

Sabtu pagi seperti biasanya, mulai pukul 6 pagi udah mulai menimang-nimang bola futsal. bersama dengan temen2 se rumah, langsung meluncur ke lapangan basket yang kami alih fungsikan jadi lapangan futsal. alhamdulillah.. setelah bermain 3 on 3 di lapangan basket tersebut, kami kedatangan tamu-tamu istimewa dari “perkumpulan” lain dan mengajak maen bersama. gayung bersambut, tak lagi bertepuk sebelah tangan.

menggunakan separuh lapangan sepakbola ukuran normal, kami memulai dengan kick off. bola di oper kesana kemari dan kadang di backpass kebelakang sebentar, kemudian di longpass ke striker, dan sampailah di sisi kiri mulut mulut gawang, umpan tarik ke saya. dan … saya tembak.. GOOOLLL. senengnya bisa membuka skor.sebagai playmaker, kadang mampu memecah kebuntuan dengan menjadi second striker yang mampu menjebol gawang lawan.

Setelah selesai sepakbola selama 1 jam, ternyata otot lutut kaki kanan tertarik sedikit hingga nyeri beberapa hari.  ini lantaran tanpa pemanasan terlebih dahulu seh…  hiks. tapi ga masalah yang penting hati seneng…………

dalam istirahat setelah letih bermain sepak bola, saya sempat berfikir, bola futsal kalau di giring seorang diri dari belakang belum sampai depan paling sudah direbut oleh lawan, begitu pula kalau “bola” kekuasaan digiring sendirian pasti akan mudah direbut oleh saingan politiknya. tetapi jika dimainkan lalu dioper kesana kemari, kadang backpass kebelakang sebentar untuk menarik lawan agar keluar dari sarangnya, sehingga malupakan pertahanannya, akan lebih mudah untuk membobol “gawang” lawan politiknya. bahkan bukan hanya untuk membobol “jala” lawan main, “gawang” negara pun tak luput dari serangan.

sebagaimana filosofi dalam sepak bola modern, menyerang adalah pertahanan terbaik. filosofi ini juga diterapkan dengan baik oleh Mr. Bush yunior dkk untuk menyerang Islam dan kaum muslimin terlebih dahulu, tak lain dan tak bukan juga sebagai bentuk “pertahanan” agar ideologi yang di perjuangkannya dapat langgeng di muka bumi. filosofi ini pula yang kiranya juga banyak diterapkan oleh kalangan “pemain” politik yang seakan mendapat angin segar tatkala melihat lawan maennya sedang mengalami sebuah masalah, atau bahkan hanya berbeda sikap mengenai suatu hal.

bagitu pula untuk ‘pertandingan’ yang sedang naik daun saat ini. siapa lagi kalau bukan kenaikan BBM. dengan di motori oleh playmaker, bola ‘alasan’ dioper kesana kemari dengan temen-temen mainnya, seakan biar bisa leluasa menjebol “gawang” negara. walaupun yang dipertaruhkan adalah “perut” rakyatnya. sedang yang bersorak hanya segaian kecil kalangan yang masih bisa tetap “bermain” di atas lapangan. BLT yang digagas pun seakan hanya sebuah “obat pati rasa” sementara. padahal yang sedang diderita sebagian besar rakyat miskin adalah pemain yang sudah cidera patah kaki. belum lagi jika dilihat apakah memang BLT memang sudah tepat sasaran. bukankah data penduduk yang digunakan adalah data BLT tahun 2005?.

soo….sampai kapan ‘pertandingan’ tersebut akan berakhir? sampai tenaga terkuras habis, sampai rakyat ‘cidera’ dan ditandu keluar lapangan, atau cukup 90 menit dengan opsi perpanjangan waktu. atau sampai datangnya pemain baru?

Posted by: masibnu | Mei 26, 2008

Masa Depan Ditangan Islam (II)

Sibuk, semua manusia memang disibukkan dengan segudang urusannya masing masing. Kesibukan yang bisa bermacam-macam membuat kita mempunyai banyak pilihan untuk mencari kesibukan, kesibukan yang bermanfaat atau membawa mudlarat. Life is choice (inget pesennya seorang dosen yang arif dan bijak).

Tetapi yang kadang saya merasa aneh, beberapa kesempatan saya menjumpai orang-orang yang sok sibuk, entah itu mondar-mandir tak tentu arahnya (mirip setrika listrik aja).

Eee, kok terasa hari ahad kemarin giliran saya yang merasa sok sibuk yach (hiks)…
Jam 06.00 pagi dapet kabar dari penghubung dengan pembicara Masa Depan Ditangan Islam bahwa jam 03.00 beliau harus pergi ke Jakarta dan tak boleh ditinggalkan. Panitia yang jumlahnya tak sampai hitungan jari tangan, panik untuk seketika. padahal 2 hari sebelumnya pembicara ketika dikonfirmasi masih menyatakan bisa datang.

“Piye Jal”

KOK mendadak BGT !!
Pembicara juga tidak menyediakan pengganti lagi… Padahal tema yang diangkat merupakan tema yang tidak semua Ustadz mumpuni membedahnya. Sehingga harus “mengobrak abrik” cari Link agar dapat ustadz pengganti. dan semua panitia saya harap tetap husnudzan terhadap Ust Abu Fatiah Al Adnani dengan kejadian ini.

Telp sana-Telp sini, mulai dari ustadz yang dari Klaten, Solo, Kudus, dan tentunya Semarang sendiri. Kebanyakan Jawaban yang diperoleh yaitu sama. Bahkan sampai Rektor Universitas Islam Sultan Agung Semarang yang memang sangat Antusias dengan Perkembangan dunia Islam dan Kaum Muslimin berusaha dihubungi. jawabnya?? hampir sama semua

“maaf mas, Saya sudah ada jadwal ngisi yang laen. Coba antum hubungi ustadz ini”….

ketika masih dalam kepanikan seorang panitia bilang pada saya,

“mas kalau dibatalkan acaranya gimana, atau mas ibnu yang jadi ustadz dadakan?, mirip bukunya mas Burhan yang baru”

“TIDAK!!. Acara tetap dan harus berlangsung!, pokoknya cari ustadz yang bisa. sedapatnya. dan enak aja…emang saya ustadz po?? suruh gantiin…”.


jawab saya sambil dengan nada bercanda agar suasana kalut agak hilang

akhirnya jam 7.30 sang pembicara pengganti diperoleh.. Alhamdulillah. Walaupun memang persiapan yang minim dan Materi yang disampiakan dari sudut pandang Historis Berdiri dan Hancurnya sebuah Peradaban, Baik itu Peradaban Romawi, Peradaban Islam maupun Peradaban Barat. sehingga Sudut pandang Dalil Syar’i dan data empirik kurang banyak mendapat perhatian.

akhirnya acara tetap berlangsung dengan antusias. beberapa tulisan terkait tema yang diangkat ada disini dan disini

diakhir acara, ketika sang moderator menutup acara dengan menukil sebuah tulisan ust. Farid

…………………………George Bush bahwa ini adalah Perang Salib (Crusade), meski kemudian dia menarik lagi kata-kata itu. Amerika Akan Hancur dari Dalam Sebenarnya Amerika itu mengandung banyak kelemahan. Kata Al-Maududi, andaikan umat Islam bagaikan lalat-lalat yang mengiang di telinga sang gajah, maka gendang telinganya akan pecah. Tapi sayangnya, suara umat Islam tidak bulat. Mereka dipecah-pecah menjadi tiga kelompok.

  1. Kelompok pertama adalah kelompok formalistik, yaitu mayoritas umat Islam yang mempraktikkan Islam sebatas ritual.
  2. Kedua, kelompok umat Islam yang substansialistis atau modernis, atau inklusif, atau liberalis, atau nasionalis, atau sekularis, yang hanya mau roh Islam tapi jasad syaitan. Mereka adalah anak-anak emas Barat.
  3. Sedangkan yang menjadi target mereka dan harus dihancurkan adalah kelompok fundamentalis (istilah mereka), yaitu umat Islam yang ingin kembali menerapkan Islam secara kaffah atau menyeluruh, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, dll.

muncul beberapa komentar dari seorang panitia “moderatornya galak”.. hehehe

jika ingin mengetahui lebih mendetail, silahkan baca sebuah buku karya Abu Fatiah Al Adnani yang covernya di bawah ini….

Posted by: masibnu | Mei 20, 2008

Masa Depan Ditangan Islam

Pertempuran dan pertarungan antara Al Haq yang diwakili oleh Islam dan Al Bathil yang diwakili USA dan kroni-kroninya telah, sedang dan akan terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat. dan Semua pertempuran akan menghadirkan sang pemenang dan sang pecundang. Bagi kaum Muslimin, Tak ada lagi keraguan, bahwa Kemenangan ada ditangan Islam. Islam akan kembali muncul sebagai pemenang. detik-detik kehancuran USA dan antek-anteknya yang di komandoi oleh Mr. Drakula bin Monster G.W.Bush* mulai terlihat. Bahkan batupun di akhir zaman akan berbicara pada ummat Islam jika di baliknya terdapat kaum yahudi, agar umat Islam menghabisinya. so segera bersiap menyambut datangnya fajar kemenangan.

Akankah kita hanya jadi penonton yang ikut bersorak ketika Tim yang “digemari” memperoleh kemenangan?? dan menyalahkan ketika mendapat kekalahan?? atau bahkan (nau’dzubillah) kita ridlo dengan keadaan ketertindasan kaum muslimin saat ini??. tidakkah mempunyai setitik hasrat ikut ambil bagian (walaupun hanya sekeping kecil) dalam “kereta” menuju kemulyaan Islam dan kaum Muslimin.

Ikuti ulasan dalil-dalilnya yang disertai data-data yang akurat tentang bibit-bibit kehancuran USA dan yahudi dalam rangkaian Spiritual Transformation 2008 IV oleh pakar Penulis Buku-buku Akhir Zaman Abu Fatiah Al Adnani, Ahad 25 Mei 2008 di Masjid P. Diponegoro Tembalang Semarang pukul 08.30 Thet.

Don Mis It !!

* meminjam istilahnya seorang ustadz yang sedang Kholwah

Posted by: masibnu | Mei 10, 2008

Malu yang hilang

Sabtu, awal Mei 2008 pukul 11.30, ketika dalam perjalan dari Ngawi menuju Semarang. Sesampainya di Termonal Tirtonadi Solo, saya memutuskan untuk naik Bus AC (bukan patas), yang memang keadaannya saat itu sedang panas . Ternyata saya menjadi penumpang pertamax (dapet diskon karcis ga yach hihi). Saya putuskan untuk menempati kursi paling depan, dengan harapan agar tidak tidur di perjalanan Solo Semarang. Sambil menunggu penumpang yang lain, beberapa pedagang asogan datang menawarkan jajanannya, yang pertama adalah seorang laki-laki yang sudah cukup tua datang menawarkan aneka kacang godok dan tahu asinnya,

“Kacang-kacang, tahu asin, kacang mas?, seribu rupiah aja”…

sampai dihadapanku saya lambaikan dengan isyarat tangan tanda tidak berminat dengan salah satu jajanan tersebut. Pedagang kedua adalah penjual Koran yang sukup terkenal di jawa tengah yang mengabarkan salah seorang bakal calon Guberur Jateng dalam Pilkadal Juni mendatang (yang juga di dukung oleh salah satu Partai Islam) dikabarkan dicekal dengan tuduhan kasus Korupsi. Saya pun tak ambil pusing dengan penjual Koran tersebut.

Pedagang ketiga adalah seorang penjual minuman kemasan, yang sejak saya naik bus mondar-mandir didekat bus yang saya naiki tersebut, lalu mendekati saya dan menawarkan dagangannya. Saya lihat dari penampilannya, orangnya cukup santun, penampilannya dengan celana di atas mata kaki, jenggotnya cukup tebal untuk ukuran orang Indonesia, dan jidatnya berwarna hitam. Akhirnya saya lihat barang dagangannya dan saya putuskan untuk membeli air minum kemasan. Ketika menawarkannyapun si bapak tadi menyuruh saya untuk memilih sendiri barang yang akan saya beli. Saya pun mengambil sebuah merk yang saya rasa bukan milik orang Yahudi (yang sebagian uang hasil produksiya untuk membantai kaum muslimin di penjuru dunia)

“berapa pak air minum dan ekstra josnya”

“4000 mas”.

“Oh ya ini pak. Sukron”.

Sambil menunggu berangkatnya armada bus, saya menyalakan MP3 yang saya pinjam dari teman sekontrakan yang saya isi dengan murotalnya Syaikh Misyari Rasyid Al Ifasi, untuk mendengarkan surah Al Anfaal. Ditengah asyiknya mendengarkan merdunya murotal, masuklah 2 orang mbak-mbak yang maaf (malunya hampir habis terkikis angin), dengan celana jins hanya setengah pahanya langsung duduk “jegang” dengan kaki kanan disilangkan di atas kaki kiri, mengambil duduk teap di kursi disebelah saya, dan yang satunya dibelakang pak sopir. Padahal jok di bagian belakang yang berisi dua kursi masih sangat banyak yang kosong…

Huh…… ini orang pakaian adiknya kok dipakai terus, ntar masuk angin gimana?. Batin saya dalam hati. Kok yaa ga punya malu sih?

Dengan hati deg-degan, saya putuskan untuk “menyingkir” dari kursi tersebut. Saya pindah ke kursi yang belakang. Ketika saya memutuskan pindah mbaknya berujar

“makasih ya mas”.

akhirnya setelah saya pindah mereka berdua bisa duduk bersebelahan.

“kurang ajar”, batin saya..

Awalnya saya ragu-ragu untuk memutuskan pindah kursi, dengan maksud saya mendengarkan murotal sambil menirukan dengan lidah saya agar mbak yang duduk di samping saya ini merasa bahwa saya ini orang muslim, tapi apakah masih ada perasaan menghormati bahwa saya seorang laki-laki muslim yang sedang duduk disampingnya??

Apa karena tampang saya yang jenggoten tipis dan kumis saya cukur habis menandakan saya seorang muslim yang akan mengambil langkah seribu kalau si mbak duduk didekat saya.

Kejadian hampir serupa juga terjadi ketika saya dalam kendaraan sewaktu balik. Dari arah Sragen ke Ngawi saya memutuskan untuk mengambil duduk di jok paling belakang yang masih kosong. Ketika sedang asyiknya mendengarkan murotal juga, masuklah serombongan anak-anak SMA cewek yang dengan candaan khasnya langsung duduk berjejer di dekat saya, baik di sebelah kanan maupun di sebelah kiri saya. Sehingga tinggallah saya laki-laki yang diapit oleh beberapa wanita baru gede. Dengan mangkel dan ngrundel saya putuskan pula untuk maju ke beberapa jok depannya yang masih kosong.

Hmmm… inikah sedikit gambaran sebagian kaum hawa yang rasa malunya telah dijual atau bahkan tanpa dibeli, rela dan ikhlas hati…

Nau’dzubillah min dzalik..

“Allah, apalagi adzab yang akan Engaku timpakan pada kami, jika kemaksiatan di depan mata kami, kami menjadi manusia kerdil yang tak berani menegurnya. Ampuni atas kesalahan dan kekhilafan kami Yaa Allah, dan berikanlah hidayahMu bagi mereka yang belum menemukan jalan terindahMu”

Posted by: masibnu | April 28, 2008

Ada Petugas Keamanan ?!

“mas, kelihatanya tambah parah dech, tadi jalan-jalan ke bukit cinta, rencana mau AKSI, eee sekarang udah ada keamanannya sendiri yaa. orang memakai rompi pink, kalau ada orang yang berduaan, didatangi dan dimintai “uang keamanan”. kalau mereka ngasih tetep dibiarkan tapi kalau ga dikasih yaa “penjaga keamanan” ga mau nanggung resiko” suara penerusku suatu malam di kontrakan kami
“naudzubillah. Tambah Ra nggenah wae. Ide bisnis pengangguran kampung jalan juga yach. Adzab apa lagi yang akan ditimpakan untuk masyarakata negeri ini???” jawabku seadanya
“iya mas, ide bisnisnya jalan, tapi barokah uangnya ga bakalan jalan”
=====

sekelumit percakapan singkat malam ahad kemarin. ketika ada keinginan untuk mencoba berbuat sedikit, khususnya di lingkungan kampus ini, langsung dihadapkan pada manusia-manusia yang dengan rela dan bangga hati mengorek “fulus” dari kemaksiatan di lingkungan kampus, atau yang lebih terkenal dengan sebutan bukit cinta. begitu pula beberapa waktu yang lalu, ketika kami dan rombongan mencoba melihat situasi, kami mendapati justru hadangan datang dari orang-orang yang telah siap dengan batu di dekatnya, untuk menghalau orang-orang yang berusaha “menyelamatkan” mereka dari adzab yang pedih.

Allah, berikanlah hidayahMu pada mereka. dan janganlah Engkau adzab kami lantaran maksiat yang kami perbuat. berikanlah kekuatan bagi kami untuk melawan kemaksiatan yang sedang menggurita ini

Posted by: masibnu | April 22, 2008

Jins dan Rohis

beberapa waktu lalu, saya teringat akan sebuah cerita yang menurut saya agak lucu. yaa agak lucu. seorang ketua Rohis Fakultas di tempatku kuliah. ketika saya baru masuk kuliah di era 200x, yang langsung bergaul akrab dengan mas’ul rohis Fakultas. apalagi beliau satu kontrakan denganku (halah bahasanya, saya yang satu kontrakan dengan beliau). kami menempati satu-satunya “Base Camp” anak-anak rohis yang baru dibentuk.

seiring berjalannya waktu, ketika sang ketua Rohis hendak kuliah ke kampus untuk mengajukan proposal skripsinya, karena semua celana selain jins beliau kotor dan baru dicuci, maka dari pada tidak menghadap dosen mendingan pakai jins ke kampus.

tak disangka tak di duga, sekembalinya dari kampus, sang mas’ul rohis di SMS sama seorang Akhwat yang mengkomplain “Seorang mas’ul Rohis kok memakai Jins”. saya kurang faham apakah ini sebuah indikasi perhatian seorang akhwat kepada seorang ikhwan atau murni sebuah peringatan agar istiqomah dengan paradigma bahwa anak rohis tak pantas memakai jins. jika hal ini murni sebatas pehatian kepada mas’ulnya tanpa embel-embel “penyakit hati”, kok dalam kesempatan lain, ketika rambut kepala sang mas’ul sudah mulai panjang datang lagi Sms yang bernada “akh, seorang mas’ul lebih pas kalau rambutnya tidak gondrong”. sampai sejauh itu???

hmm. sampai saat ini pun saya tak habis pikir, image bahwa anak-anak rohis “tak pantas” memakai celana jins, seakan tetap terjaga kualitasnya :D. begitu pula ketika saya di beri tahu oleh salah seorang santri sebuah pondok pesantren putra di Semarang, bahwa terdapat peraturan dilarang memakai celana jins dengan pertimbangan celana jins merupakan sebuah bentuk lahwun dan lebih dekat menyerupai orang-orang KxfxR

terlepas dari itu semua, bagi saya pribadi yang memang sejak kecil tidak memiliki celana Jins (memang saya kurang suka dan biasanya harga jins relative lebih tinggi dari pada yang bukan jins). jika larangan memakai jins itu sudah menjadi sebuah peraturan di sebuah lembaga maka bagi saya itu sebuah peraturan yang memang harus diikuti, apalagi sebuah lembaga keislaman seperti ponpes yang memang dalam menentukan peraturan tentunya sudah dengan pertimbangan syariat.

Berbeda halnya jika hal itu sebuah image yang berkembang. Saya lebih bisa menerima memakai jins tetapi tidak isbal dari pada memakai selain jins tetapi masih isbal (apalagi dalam hal ini jika sudah dalam keadaan sholat). Walaupun memang terdapat perbedaan pendapat mengenai isbal ini. Antara dengan kesombongan dan tanpa kesombongan. Tetapi bukankah tidak salah memilih salah satu diantaranya yang saya nilai lebih kuat dasarnya. Tetapi dalam keadaan sholat saya mendapati larangan isbal menjadi jumhur ulama’. Berdasar sebuah riwayat bahwa suatu ketika ada salah seorang arab badui yang sholat 2 raka’at dengan isbal kemudian Rasulullah menyuruh arab badui tersebut untuk mengulangi sholatnya (mohon jika salah saya diingatkan).

Allahu a’lam

Posted by: masibnu | April 21, 2008

Ya Allah Aku Jatuh Cinta (lagi)

itulah judul buku yang (kembali) di bedah di MPD Semarang dalam rangkaian spiritual Transformation 2008 hari ahad 20 April kemarin. dengan pembedah adalah penulisnya sendiri (kang Burhan Shadiq). walaupun judul yang sama telah di bedah disini, tetapi perbedaan segmentasi yang membuat panitia membedah buku yang sama. jika dulu disini segmentasi adalah pelar SMA, maka ahad kemarin lebih segmented ke mahasiswa,… sehingga lebih Fresh dan GERRRRRR jika sudah disinggung masalah tindak lanjutnya, YA Allah Aku Tak Ingin Sendiri

walaupun beberapa kendala masalah pengiriman buku, dan juga kunci ruang LCD yang Ketlingsut … jadinya kendala tersebut manjadi bumbu pemanis acara…

dengan peserta yang cukup banyak hampir memenuhi seisi masjid,.. dengan antusiasnya mengikuti kajian yang dilaksanakan… sambil sesekali diselingi joke ikhwan “bakwan” atau akhwat “kawat”.

pada Forum diskusi seorang peserta ikhwan bertanya “Ust. Kalau ada seorang istri yang suaminya meninggal, kemudian akhwat tersebut menikah lagi, bagaimana di akherat kelak?.. siapakah yang menjadi suaminya kelak?”..

akhirnya acara selesai dengan tanggapan peserta yang kembali menyerukan () agar diadakan kajian tindak lanjutnya setiap pekan sekali……

sukron kang Burhan telah mampir ngasih ilmu ke kita-kita, jangan bosan-bosannya yach… banyak bandeng presto di semarang loh…. ditunggu juga buku yang baru Gombal Warning (sebuah pesan bagi akhwat terhadap rayuan GOMBAL “pseudo” ikhwan), yang dengan tampang jenggot tipis dan jidat item sambil majang tampang innocent…..hihi

Posted by: masibnu | April 19, 2008

Siang jadi malam, malam jadi siang

bismillah

ketika saya dahulu memutuskan untuk mengais maisyah diantara serpihan-serpihan Internet (hehe jadi satpam), maka ada sebuah asa yang senantiasa dipegang teguh. ketika jadwal mulai dibuat per shift, maka dengan banyak pertimbangan saya memutuskan untuk memilih jadwal shift pagi atau siang. dengan harapan ketika malam hari bisa berkativitas yang laen yang lebih bermanfaat untuk urusan ukhrowi.

tetapi ketika kesibukan bertambah dan bertambah, komitmen itu seakan mulai dipertanyakan. dengan adanya beberapa shift jaga malam (baik itu mulai ba’da maghrib atau mulai tengah malam sampai pagi), maka secara otomatis harus menggusur jadwal “istirahat dan rekreasi” saya.

mungkin risau hati (cieee) belum seberapa mengingat status yang masih “single”. bagaimana kelak jika sudah tidak “single” lagi…

seakan tergusurnya jadwal membuat beberapa perubahan yang ketika disikapi dengan lebih teliti membawa dampak yang cukup signifikan. BERUBAHNYA POLA HIDUP.

begitu pula ketika saya membandingkan antara kehidupan semasa Es Em A dengan semasa kuliah.

semasa Es Em A, tidur pukul 21.00 terasa sudah cukup larut malam (jika malam tersebut tidak ada aktivitas bersama teman-teman pengajian). hal tersebut begitu terasa mengingat tempat tinggal saya saat itu di sebuah dusun kecil di kaki gunung lawu, sehingga ketika ba’da isya’ sudah terasa menjadi dusun mati. hampir semua penduduknya sibuk dengan acara televisi masing-masing.

semasa Kuliah, istirahat pukul 21.00 bisa di cap bukan Mahasiswa, tetapi masih Es Em A. mahasiswa tidurnya paling cepat jam 12 malam.  paling tidak itulah doktrin yang kemudian menjadi brand image yang terbentuk di jurusanku, image yang ditanamkan oleh senior-senior semasa OSPEK. sebuah image yang sebetulnya kurang begitu berdasar. apalagi jika kita korelasikan dengan sebuah pesan Rasulullah, bahwa lebih utama mempercepat tidur selepas isya’ kecuali jika ada tamu atau belajar ilmu.

diantara kita mungkin banyak dijumpai orang-orang yang memang telah berubah pola hidupnya. siang jadi malam dan malam jadi siang. ketika ditanya mengapa pola hidup tersebut berubah? kebanyakan jawabnya hanya simpel “tuntutan pekerjaan”.

“Dan Kami jadikan malam sebagai perhiasan.  Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (An Naba’ : 10-11).

bagitulah kondisi kehidupan masa sekarang yang memang sudah mulai keluar dari fitrahnya. ada sebuah kisah menarik dari salah seorang ulama’ salaf. ketika malam mulai datang, sang ulama’ mulai memakai pakaian yang paling bagus dan memakai wangi-wangian. selepas isya’ sang ulama langsung berkholwah dengan Sang Kholiq. menikmati  malam-malamnya dengan “rekreasi”.

kiranya tulisan ini menjadi sebuah koreksi bagi saya pribadi, jika mengingat untuk apakah saya bekerja?

Abdullah bin Mubarok salah seorang tabi’in yang sangat kaya-raya, seorang ulama besar, Mujahid besar, ketika ditanya untuk apa beliau tetap bekerja, maka Ibnu Mubarok menjawab “Saya bekerja agar Dien ini tetap tegak dan murni” Masya Allah. Dalam catatan sejarah, kekayaan Ibnu Mubarok dipergunakan untuk menggaji para Ulama’ dan penuntut ilmu agar fokus dalam mempelajari dien, tidak risau dengan penghidupannya (disamping sebagian harta beliau untuk fie sabilillah). sebuah sosok Mujahid yang rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk fie sabilillah.

Berbeda halnya jika saya melihat lebih seksama beberapa motivasi  manusia untuk bekerja (yang sampai lupa waktu untuk ibadah), kabanyakan diantara kita merasa telah cukup berandil jika sudah menginfaqkan harta di jalan Allah. seakan jika sudah pada tataran jiwa atau nyawa kebanyakan akan menjadi pengecut. pikiran-pikiran tentang pekerjaannya senantiasa ada di benak nya, yang menjadi penghalang jika di tuntut untuk berkorban jiwa dan raga. maka keadaan seperti ini bertolak belakang dengan sebuah ungkapan Umar Ibn Khotob “jadikan hartamu di tanganmu dan akhirat di hatimu”

banyak contoh kaum salaf yang mampu dijadikan contoh. Salman Al Farisi, seorang sahabat asal persia, dalam hidupnya beliau bekerja sebagai pedagang. keuntungan yang diperoleh dibagi menjadi 3 bagian, sebagian untuk modal yang akan diputar kembali, sebagian untuk nafkah keluarganya, dan sebagian yang lain diinfaqkan fie sabilillah. apalagi jika kita melihat infa yang diberikan Abu Bakar, Umar, Utsman. membuat hati ini terasa sangat kerdil.

to be continu….

*maaaf jika alur tulisannya ga jelas… sedang terburu-buru nulisnya, di kejar deadline tugas
wassalam….

Posted by: masibnu | April 15, 2008

Sukses itu….

Episode kali ini adalah review dari acara Ahad, 13 April 2008 di MPD Tembalang, dengan mangambil tema Never Ending Sucses (hihi Mirip Buku Terbitannya Pro You, karya Mas Budi)…

walaupun acara dimuali agak telat sekitar 15 menit (coz pembicaranya telat datang, ada gangguan macet di perjalanan) acara tetap berjalan dengan lancar. dengan peserta yang sedikit berkurang dibanding tema sebelumnya Campur Tangan JIN di Alam manusia dan Misteri Sholat Subuh. dengan pembicara Ust Hanif Hardoyo (Mantan Presiden BEM FT UGM) yang mengupas masalah kesuksesan hakiki.

sedikit pengantar materinya

Ketika kita mendengar kata kesuksesan, maka masing-masing dari kita akan mempunyai persepsi yang beraneka ragam dalam memaknai kesuksesan tersebut. Tetapi hal yang senantiasa sama dalam setiap manusia adalah bahwa setiap manusia akan bersaha mati-matian untuk mengapai kesuksesan sesuai dengan yang dipersepsikan. Kesuksesan diibaratkan sebuah Piala bergilir yang menjadi rebutan setiap manusia yang berusaha meraihnya dengan berbagai cara, bahkan tidak jarang melalui cara-cara yang melanggar syariat.

Maka penting bagi kita bersama untuk kembali menengok ke belakang, sebelum terlanjur jauh kita melangkah dalam mengapai kesuksesan yang telah bersemayam dalam benak kita, kita bertanya pada masing2 diri kita “apa makna kesuksesan dalam hidup manusia”. Diibaratkan pemahaman yang benar tentang makna kesuksesan ini adalah sebuah tujuan, maka jika tujuan yang benar dan jelas, maka jalan yang diusahakan akan lebih mudah untuk diraba dan dilalui. Tidak sedikit kita jumpai dalam kehidupan sekitar kita manusia berlomba-lomba mengejar kesuksesan, mereka ngotot menghabiskan waktu mereka, siang dijadikan malam, malam dijadikan siang hanya untuk mengejar kesuksesan Tidak sedikit dari mereka yang terjatuh dalam lorong-lorong kegelapan lantaran terjebak dalam tipu daya duniawi, yang mau tak mau harus “bertransaksi dengan setan”. Hal ini disebabkan pemahaman yang perlu diluruskan tentang kesuksesan itu sendiri.

Pada dasarnya, kesuksesan merupakan milik setiap orang, tetapi persoalannya adalah tidak semua orang tahu bagaimana mendapatkan kesuksesan tersebut. Bahkan bukan hanya dalam mendapatkan kesuksesan, memaknai kesuksesanpun beraneka ragam.

Allah Ta’ala berfirman dalam Ali Imran : 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”.

Sudah menjadi sifat manusia bahwa mereka mencintai wanita, membangga-banggakan anak, menginginkan harta kekayaan yang melimpah, dan juga berambisi untuk memiliki kedudukan atau pangkat yang tinggi sebagai manifestasi dari eksistensinya diantara manusia lain. Kebanyakan manusia mempunyai orientasi kehidupannya hanya ditujukan untuk kehidupan duniawi. Bagaimana bisa memiliki harta kekayaan, rumah megah lengkap dengan segala perabotan yang serba wah, kedaraan mewah, wanita cantik, kursi jabatan dan kedudukan yang tinggi. Mereka merasa hebat dan sudah berhasil dengan sukses jika sudah memiliki itu semua. Walaupun pada hakekatnya nafsu tidak akan pernah merasa puas. Jika diibaratkan nafsu adalah ibarat meminum air lautan, semakin banyak kita meminumnya maka akan semakin merasa haus ditengorokan kita.

Bahkan pada saat sekarang ini pandangan masyarakat tentang kesuksesan hidup sudah keliru. Terbukti bahwa tolok ukur kesuksesan adalah jika manusia telah berhasil mengumpulan dunia dan menumpuk harta kekayaan. Sehingga tidak aneh jika kita menjumpai di kalangan remaja, memiliki cita-cita bisa masuk perguruan tingi yang terkenal, lulus cepat dengan IP tiga koma sekian, diterima di perusahaan bonafit bergaji besar, menikah dengan wanita cantik yang sudah menjadi dambaan hatinya, membentuk rumah tangga yang harmonis di huniah mewah, kemudian memiliki kendaraan yang membuat decak kagum manusia yang melihatnya, tiap akhir pekan tinggal manikmati kesenangan duniawinya bersama istri dan anak-anak yang menggemaskan sambil berlibur, dengan tetap menjalankan ibadah sholat (walaupun dengan sholat sendirian di rumah, itupun dilaksakan menjelang habis waktunya), puasa dan zakat di bulan ramadlan, kurban dan naik haji. Jika ada proposal kegiatan keagamaan tinggal “setor dana”. Seakan akan sudah cukup sebagai penebus harga surga di akherat kelak. Mengesampingkan banyak kelalaian dalam memikirkan Kondisi Umat Islam. Pertanyaannya “Apakah hal tersebut jelek?”.

Tetapi ternyata realita tak seindah bayangan. Ternyata diantara mereka hanya tinggal di rumah-rumah yang sederhana, dengan gaji pas-pasan (maksudnya pas butuh biaya pas di kantong belum tersedia), kendaraanpun warisan orang tua, kalau tidak bisa disebut “besi tua”. Atau kalaupun toh ternyata mampu memperoleh fasilitas duniawi, mempunyai kekayaan tetapi tidak mampu menikmati kekayaannya (misalnya dengan adanya penyakit yang menimpanya sehingga menurut anjuran dokter dinasehati agar meninggalkan beberapa makanan tertentu), takut dengan kekayaannya karena memikirkanya, takut kehilangan karena dicuri, dirampok. Para pejabat yang justru tersiksa dengan jabatannya, public figure dan orang-orang tenar yang senantiasa tereksploitasi kehidupan pribadinya sehingga setiap hari merasa tidak nyaman karena terlanjur jauh dicampuri kehidupan pribadinya, yang harusnya jadi privasi setiap individu mempunyai istri cantik rupawan bak bidadari turun dari surga tetapi bukan ketentraman yang didapat justru malah banyak menuntut untuk berusaha senantiasa tampil cantik walaupun itu dihadapan khalayak umum, sehingga banyak menimbulkan fitnah di sana sini.

bahkan ada pula pada titik ekstrim yang lain, ketika menganggap kesuksesan itu ada pada bersikap zuhud yang berlebihan sehingga meninggalkan fasilitas dunia. hidup dengan pakaian yang lusuh, makan dengan menggantungkan pada “bantuan” orang lain, tidak mau menikah, tidak mau makanan yang enak walaupun itu halal, semua dianggapnya sebagai bentuk ghulluw.

“Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kahidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan yang bermegah-megahan diantara kamu, serta membangga-baggakan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya membangggakan para petani, kemudian tanaman itu mejadi kering, kemudian menjadi hancur. Dan di akherat nanti adzab yang keras, dan ampunan serta keridlaan_Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (al Hadid 20)

Kunci rahasia kesuksesan hakiki adalah ketenangan dan ketentraman dalam hati yang membuat manusia mampu menikmati kehidupannya, itulah rasa yang pernah disampaikan oleh Ibnu Qoyyim dalam kata-katanya “Dalam hati ada kekusutan yang tidak bisa diuraikan kecuali dengan menghadap kepada Allah, ada juga kebuasan yang tidak akan terjinakkan kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah, di dalamnya da juga kesedihan yang tidak akan bisa hilang melainkan dengan kegembiraan mengenal Allah dan ketulusa berperilaku sesuai dengan ketentuaNya. Dalam hati ada juga kerisauan yang tak akan bisa ditenangkan kecuali dengan perasaan bersama denganNya dan kembali kepadaNya, di dalamnya ada juga api perasaan yang bergejolak yang tak akan padam kecuali dengan keredlaan akan perintah, larangan dan ketentuanNya serta mengarunginya dengan kesabaran hingga hari pertemuan denganNya, di dalamnya ada juga keinginan yang tak akan bisa terpuaskan kecuali dengan cinta dan kepasrahan serta mengingatNya terus menerus penuh ikhlash mengabdi kepadaNya, meski diberikan bumi seisinya keinginan tersebut tak akan pernah terpuaskan sama sekali”.

acara berakhir dengan penyerahan door price kepada yang berhak, berhubung yang mengajukan pertanyaan banyak tetapi waktu yang tidak memungkinkan, soo door price diberikan bagi mereka yang pertanyaannya dianggap lebih JOS. hehe…. ups door pricenya kurang satu … mana panitianya … tambah satu dunks…

Older Posts »

Kategori