ujian Allah datang tak pernah meminta ijin manusia, dan pergi hanya berlalu begitu saja, sesuai kehendak Allah. jika telah sampai pada batas waktu yang ditentukan ujian akan dicabut oleh Allah dan akan diganti dengan ujian lain sehingga seorang muslim akan semakin tinggi derajadnya disisi Allah dengan adanya ujian yang bertubi-tubi. “inna akromakum ‘indAllahi atqokum”. atau dengan ujian tersebut seorang muslim akan semakin terkikis habis dosa-dosanya yang tak mampu dihapus dengan taubat kepada Allah saja. manusia tingal memilih sikap terhadap ujian, semua ujian telah menjadi “paket” hidup manusia.
kembali kita diingatkan akan ujian Allah atas hambanya, hadirnya anggota keluarga baru membawa ujian tersendiri.. semoga dengan ujian ini mampu mencapai derajad yang lebih tinggi yang tidak akan dilalui oleh setiap manusia.
Tingkatan sikap manusia terhadap Ujian Allah:
1. Senantiasa mengeluh dan menggerutu. sikap yang tidak pernah ridho terhadap ujian Allah, baik mengeluh secara lesan ataupun perbuatan. menganggap seolah-olah Allah tidak adil dengan ujian yang ditimpakan_Nya. Na’udzubillah min dzalik. atau berkata dengan “pertanyaan” yang tidak pantas diucapkan seorang muslim menghadapi ujian Allah “Yaa Allah Apa dosa saya sehingga Engkau menimpakan ini semua”. sesungguhnya koreksi terhadap dosa lebih bermanfaat dari pada melontarkan perkataanyang tidak pantas tersebut. tiada manusiapun di dunia yangtidak berdosa kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bahkan setiap saat manusia bisa melakukan dosa baik itu dengan hati, lesan atau perbuatan.
2. sabar. sifat yang mulia yang terkadang tidak bisa dijalani manusia kecuali dengan adanya “pemaksaan” sehingga akhirnya setiap muslim akan merasakannya. toh jika manusia tidak bersabar ujian itu telah dan pasti terjadi, lebih baik memilih sabar sehingga mandapat imbalan dari Allah dari pada sikap menggerutu. Sabar pilihan yang sikap yang bijak. sungguh menakjubkan seorang muslim, jika diberi nikmat dia bersyukur dan jika ditimpa musibah dia bersabar. dua sifat yang membawa keberuntungan.
3. Syukur. Bukan hanya ketika mendapat nikmat, rasa syukur terpanjat kepada Allah. ketika mendapat ujian dari Allah rasa syukur yang dihaturkan. bukankan semua telah menjadi Qodlo’ dan Qodar Allah?
4. Ridlo. Tingkatan tertinggi yang dicapai manusia. bukankah setiap manusia tidak mempunyai “hak” atas dirinya sendiri? setiap manusia dan segala yang melingkupinya adalah milik Allah. seluruh fasilitas manusia dipinjamkan Allah, jika Allah mengambilnya tiada sedikitpun manusia berhak memprotesnya. Ridlo dengan ujian Allah akan membawa pada tempat tertinggi di hadapan Allah. bukankan setiap pagi dan petang telah dianjurkan membaca do’a Radhiitu billahi Rabba wabil islaami diina wabimuhammadinnabiyya wa rasulan. Allahu a’lam bish showab
