Lho judulnya kok persis sama dengan judul bukunya Ust. Cahyadi Takariawan..
(minjem Istilah dan cover buku beliau, ga kena “pajak” khan hehe).
muslim mana sihh yang tidak ingin mempunyai pendamping yang sholih/sholihah?? jika memperoleh pendamping yang sholih/sholihah laksana sudah ada jaminan awal akan keluarga bahagia (walaupun terkadang materi kurang). bukankah kebahagiaan bukan ditakar dengan ukuran materi??. Kebahagiaan adalah bahasa bathin, bukan bahasa lesan.
sehingga terkadang saya teringat akan pertanyaan seorang suami kepada istrinya
“dik selama ini apakah engkau bahagia menikah denganku?”
“insyaAllah mas, saya bahagia sekali”
“kalau memang engkau bahagia dengan kondisi sekarang yang masih kekurangan materi, untuk apa kita mengejar materi yang berlimpah ruah jika sekedar untuk mengenyangkan perut. jika selama ini kita makan dengan sayur bening saja sudah bahagia, untuk apa kita menghabiskan semua harta untuk makan dengan menu yang lebih mahal, jika selama ini kita hanya punya sepeda motor saja sudah cukup dan bahagia, mengapa harus memburu mobil mewah, sehingga kita menghabiskan waktu kita untuk mengejar dunia. materi hanya sebagai alat buat hidup kekal kelak.”
masyaAllah
back to topic
jika ada harapan memperoleh pendamping yang sholih/sholihah maka jalan untuk mencapainya yang pertama kali adalah berusaha menjadi pribadi yang sholih atau sholihah dulu. baru pada tahapan selanjutnya proses “pencarian” yang juga tidak melangggar syari’at. (weleh2 koyo’ wis nduwe wae) ![]()
ketika jalan “pencarian” sudah sesuai dengan syari’at, azzam tertanam sejak awal “dijalan dakwah aku menikah” sehingga akan bersama-sama menjadi teman berbagi mengenyam pahit getirnya dakwah,
tetapi langkah mirisnya hatt ini, melihat beberapa ikhwah (semoga kita terhindar darinya, amien). sebelum nikah ikut aktif di berbagai lembaga dakwah, dengan jam terbang yang lumayan, menjadi aktor di balik acara-acara islami, ikut memikirkan nasib ikhwan-ikhwan yang pembinaannya masih terseok-seok. bahkan menjelang pernikahannya pun juga masih sibuk mengusuri sebuah acara besar. setelah menikah sedikit demi sedikit mulai berubah, (semoga jadi berubah jadi tambah baik). terkadang dengan segudang alasan yang (maaf. dengan sedikti su’udzan, terasa di buat-buat), sering tidak hadir di halaqoh, dengan alasan sering nganter istri pulang kampung, jarang ikut syuro’ dengan alasan (maaf lagi) habis waktunya untuk ngurusi “anaknya orang”… (sekali lagi maaf dengan sangat)
bahkan sebuah perbincangan singkatku dengan seorang ikhwah, yang mulai disibukkan dengan “ngurusi” istrinya. bukan lagi menjadi aktor di balik acara-acara islami sebagaimana yang dahulu. bahkan ketika di minta bantuan untuk mengurus lembaga dakwah karena kader yang mulai menipis, dan amanah sang ketua semakin menumpuk dengan santainya menjawab “Bukankah sudah ada si Fulan yang ngurusi?” Yaaa Allah.Ampuni kami yaa Allah….
Sehingga tak jarang saya temui beberapa ustadz yang “menunda” keinginan ikhwah yang masih sangat “belia” untuk segera menikah. bukan bermaksud menunda kebaikan, tetapi dengan pertimbangan sebuah “ketakutan” jika kelak jadi menikah lantas meninggalkan aktivitas dakwahnya (padahal secara “bergerak” masih sangat butuh bimbingan).
memang, banyak urusan baru yang harus di emban oleh seorang ketika memutuskan untuk menikah. banyak amanah baru yang harus segera diselesaikan. dan rasanya tidak baik pula ketika kita hanya menghakimi orang lain tanpa melihat realitas dia yang sesungguhnya.
memang ketika kita memposisikan diri sebagai “pewaris para nabi dan Rasul (sebagai da’i), maka pastilah ada konsekuensi dari posisi tersebut. konsekuensi untuk meluangkan waktu untuk ummat. kita tidak hanya menjadi milik suami atau istri seorang, tetapi milik Ummat. jika gara-gara menikah lantas mulai meninggalkan hampir sebagian besar aktivitas dakwahnya maka marilah koreksi bagi kita bersama. Istilah “dijalan dakwah aku menikah”. memang benar!! ketika menikah masih di jalan dakwah, tetapi belum tentu “di jalan dakwah aku berkeluarga” setelah menikah mulai menjauh dari jalan dakwah. “di jalan lain aku berkeluarga”. Astaghfirullah.
mungkin tidak sedikit akan kita temui kasus yang seperti ini. dan tak menutup kemungkinan bagi yang belum berumah tangga, suatu saat ketika sudah berumah tangga akan terjangkiti “virus” ini. hanya do’a pada Allah saja semoga di langgengkan di jalan dakwah. bukan hanya ketika menikah tetapi setiap saat sampai ajal menjemput. Yaa Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala diinika
*dalam sebuah renungan pagiku,

Menikah bukanlah cara mengurangi perjuangan dakwah. Menikah justru menjadi penguat perjuangan dakwah. Oleh karena itu istri shalihah merupakan harapan para pejuang dakwah. Oleh karena itu bila di antara kita telah dirahmati oleh Allah SWT, dengan memberikan istri shalihah. Maka ia harus meningkatkan perjuangan dakwahnya, agar Allah SWT tidak mencabut rahmatNya. Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com
Comment oleh Aristiono Nugroho — Februari 11, 2008 @ 7:56 am |
yups..
seyogyanya memang demikian pak..
tapi yang namanya manusia terkadang memang kenyataanlah yang berbicara, dan sedikit tulisan di atas merupakan sebuah renungan dari realitas yang sedikit sy temui di kalangan “aktivis”,..
sukron sharenya pak..
Comment oleh masibnu — Februari 14, 2008 @ 7:38 am |
jika ada harapan memperoleh pendamping yang sholih/sholihah maka jalan untuk mencapainya yang pertama kali adalah berusaha menjadi pribadi yang sholih atau sholihah dulu. baru pada tahapan selanjutnya proses “pencarian” yang juga tidak melangggar syari’at.
Comment oleh Abbas — Februari 18, 2008 @ 7:50 am |
Setuju banget
Comment oleh Abbas — Februari 18, 2008 @ 7:51 am |
yoi…
~udah punya kang~
Comment oleh masibnu — Februari 19, 2008 @ 7:40 am |
Ada kecenderungan orang melihat dakwah adalah jalan yang sempit dan minim harta. Padahal kalaulah mereka mau melihat ke samping. Orang yang beragama lain begitu bangga akan setatus mereka sebagai pendakwah. Dan, mereka begitu cerdik sehingga dapat menghasilkan materi serta meraih tujuannya secara serempak.
Tak harus mengenakan atribut keagamaan untuk menjadi pendakwah. Banyak pendeta yang gaul dan bisa meraih komunitas anak muda.
Miris sekali ketika melihat pemberitaan di media. Seorang mengenakan atribut keagamaan seperti sekh puji, dia melakukan hal yang bertentangan dengan norma masyarakat. Dan, Seketika pemberitaan miring menghujam. bukan hanya pada kepada orang tersebut, atribut keagamaan yang dikenakannya juga ikut tercoreng.
Comment oleh maryadi setiawan — Januari 8, 2009 @ 7:31 am |
seorang muslim berpijakan pada norma dien, terserah masyarakat menilai lurus atau miring. karena memang pola pikir masyarakat secara umum masih dicetak oleh media massa yang sebagian besar tidak membawa norma dien. sehingga perspektif tercorengnya keagamaan akan tergantung dari sudut pandang mana manusia melihatnya, tentunya berdasarkan pemahaman yang telah dibentuk dalam benaknya.
Comment oleh masibnu — Januari 12, 2009 @ 7:39 am |