hampir setiap akhir tahun, Indonesia mendapat “jatah” yang senantiasa belum mampu lepas, bencana.
sebagiam orang akan berfikiran mengapa Indonesia diterpa musibah yang bertubi-tubi, padahal mayoritas penduduknya adalah “muslim”. bukankah Allah telah berfirman :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang
tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan
siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka
sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang
yang merugi”. (QS 7:96-99).
maka marilah kita melihat lebih seksama,…
Tahun 2004, Aceh di terpa Tsunami yang menelan korban lebih dari 200 juta jiwa. tepatnya pada tanggal 26 Desember 2007 pukul 07 : 52 (waktu Dluha). belum lagi masalah banjir yang menghampiri ibukota Jakarta setinggi 1 meter lebih
Tahun 2005, banjir seakan tak lepas dari Ibukota, tanah longsor di Purworejo, gempa di NTB dan beberapa wilayah lain di Indonesia. semua terjadi di penghujung tahun 2005
Tahun 2006, tidak lebih baik, Gempa berkekuatan 5,6 SR mengguncang Sumatera Utara, begitu pula banjir melanda Tanah yang belum genap 2 tahun diterjang Tsunami; Aceh dan wilayah-wilayah lain. belum lagi berita tenggelamnya KM senopati Rute Semarang-Kumai yang menewaskan banyak nyawa. dan tentunya sederet bencana yang menimpa negeri Gemah Ripah Loh jinawi, Tanah Subur Rakyat nganggur…..
Tahun 2007 tak jauh berbeda, genangan air juga melanda sebagian besar wilayah di Jawa, mulai dari DKI, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus, Grobogan, Blora, Ngawi, Madiun, Trenggalek, Malang, bahkan Solo; kota yang selama ini agak asing dengan banjir tak luput dari genangan air sungai Bengawan Solo yang meluber. Praktis, rangkaian banjir tersebut melumpuhkan jalur Transportasi. belum lagi tanah longsor yang menimpa lereng gunung lawu tepatnya di kabupaten Karanganyar.
hampir semua bencana tersebut terjadi di waktu Dhuha.
Allahu Akbar
jika kita mau menelaah, Allah telah membuat perumpamaan sebuah negeri yang awalnya subur makmur menjadi epnuh bencana,… tetapi sedikit yang mau merenungi..
“.Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…”. (QS 2:155)
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang
dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari
segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena
itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan
apa yang selalu mereka perbuat”. (QS. 16:112).
apakah kita akan terus LALAI dengan adzab Allah yang bertubi-tubi yang menimpa negeri ini?… akankan kita selalu menganggap semua bencana tersebut hanya sebatas ujian dari Allah?, bukan sebuah adzab atas kemaksiatan yang dilakukan masyarakat Indonesia,.
cobalah melihat, berapa banyak kaum muslimin yang telah menghilangkan konsekuensi syahadat dari dirinya dengan memberikan selamat natal, atau bahkan ikut menghadiri acara natalnya, seakan-akan ini bukan urusan Aqidah. Atau bentuk-bentuk kesyirikan yang menggerogori Aqidah kaum muslimin, baik itu syirik Qubur maupun syirik Qushur.
atau sudah menyiapkan “upacara” khusus menyambut tahun baru yang tidak ada contohnya dari Islam sama-sekali. semua terjadi di akhir tahun. beserta sederet kemaksiatan yang merajalela yang sudah menjadi barang umum. Orang muslim meninggalkan Sholat, meninggalkan zakat, Khomer bebas dijajakan, pelacuran dan perzinahan bukan hal tabu, KKN menjadi komoditi yang paling digemari baik itu untuk pejabat maupun rakyat jelata, gosip menjadi menu keseharian yang laris manis, dan setumpuk kemaksiatan yang lain.
bahkan orang-orang yang berusaha menghapus kemaksiatan tak jarang malah dikira ekstrimis, fundamentalis, kelompok garis keras. orang-orang yang tak rela syariatnya dilecehkan malah mendapat perlawanan yang ketat..
na’udzubillah…
mari berusaha mengoreksi diri, banyak kesyirikan, kemaksiatan yang dilakukan masyarakat Indonesia, segera berbenah diri…
Apakah kita masih merasa aman dengan azab dan siksaan Allah yang datangnya di
waktu dhuha, ketika kita sedang asyik bermain-main atau di malam hari, ketika
kita sedang enak-enaknya tidur ?
Ingatlah, tidak akan ada tempat yang aman di Indonesia ini dari azab Allah
kecuali masuk ke dalam perlindungan-Nya, yang hanya dapat dicapai dengan Taubat
yang sesungguhnya.
Saudaraku, tak usah merasa takut dan ngeri dengan pertanyaan ini, karena hal
itu memang benar-benar bisa terjadi untuk seluruh Indonesia. Bukankah kita ini
adalah orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Selama kita tetap ingat
kepada semua pesan Allah kepada kita, baik yang disuruh maupun yang
dilarangnya, maka tak akan ada kekhawatiran dan kesedihan di dalam diri kita.
“. orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS
13:28)
Meskipun, katakanlah bahwa jumlah orang yang tetap berzikir kepada Allah di
Indonesia ini sangat sedikit dan orang-orang berzikir itu berada di
tengah-tengah manusia yang bermaksiat dan melakukan kefasikan, sedangkan Allah
akan mengazab mereka, kita semua harus tetap teguh yakin, pastilah Allah akan
menyelamatkan hamba-Nya yang telah ingat dan berserah diri kepada-Nya dengan
cara yang sangat rahasia.
Maka kepada hamba-hamba tersebut, Allah telah memberikan perintah-Nya:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ["Ma'ruf":
segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan "Munkar" ialah
segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya]; merekalah orang-orang
yang beruntung”. (QS 3:104)
Allahu a’lam..