Berbagi Cerita

April 28, 2008

Ada Petugas Keamanan ?!

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:44 am
“mas, kelihatanya tambah parah dech, tadi jalan-jalan ke bukit cinta, rencana mau AKSI, eee sekarang udah ada keamanannya sendiri yaa. orang memakai rompi pink, kalau ada orang yang berduaan, didatangi dan dimintai “uang keamanan”. kalau mereka ngasih tetep dibiarkan tapi kalau ga dikasih yaa “penjaga keamanan” ga mau nanggung resiko” suara penerusku suatu malam di kontrakan kami
“naudzubillah. Tambah Ra nggenah wae. Ide bisnis pengangguran kampung jalan juga yach. Adzab apa lagi yang akan ditimpakan untuk masyarakata negeri ini???” jawabku seadanya
“iya mas, ide bisnisnya jalan, tapi barokah uangnya ga bakalan jalan”
=====

sekelumit percakapan singkat malam ahad kemarin. ketika ada keinginan untuk mencoba berbuat sedikit, khususnya di lingkungan kampus ini, langsung dihadapkan pada manusia-manusia yang dengan rela dan bangga hati mengorek “fulus” dari kemaksiatan di lingkungan kampus, atau yang lebih terkenal dengan sebutan bukit cinta. begitu pula beberapa waktu yang lalu, ketika kami dan rombongan mencoba melihat situasi, kami mendapati justru hadangan datang dari orang-orang yang telah siap dengan batu di dekatnya, untuk menghalau orang-orang yang berusaha “menyelamatkan” mereka dari adzab yang pedih.

Allah, berikanlah hidayahMu pada mereka. dan janganlah Engkau adzab kami lantaran maksiat yang kami perbuat. berikanlah kekuatan bagi kami untuk melawan kemaksiatan yang sedang menggurita ini

April 22, 2008

Jins dan Rohis

Diarsipkan di bawah: sharing — masibnu @ 7:06 am

beberapa waktu lalu, saya teringat akan sebuah cerita yang menurut saya agak lucu. yaa agak lucu. seorang ketua Rohis Fakultas di tempatku kuliah. ketika saya baru masuk kuliah di era 200x, yang langsung bergaul akrab dengan mas’ul rohis Fakultas. apalagi beliau satu kontrakan denganku (halah bahasanya, saya yang satu kontrakan dengan beliau). kami menempati satu-satunya “Base Camp” anak-anak rohis yang baru dibentuk.

seiring berjalannya waktu, ketika sang ketua Rohis hendak kuliah ke kampus untuk mengajukan proposal skripsinya, karena semua celana selain jins beliau kotor dan baru dicuci, maka dari pada tidak menghadap dosen mendingan pakai jins ke kampus.

tak disangka tak di duga, sekembalinya dari kampus, sang mas’ul rohis di SMS sama seorang Akhwat yang mengkomplain “Seorang mas’ul Rohis kok memakai Jins”. saya kurang faham apakah ini sebuah indikasi perhatian seorang akhwat kepada seorang ikhwan atau murni sebuah peringatan agar istiqomah dengan paradigma bahwa anak rohis tak pantas memakai jins. jika hal ini murni sebatas pehatian kepada mas’ulnya tanpa embel-embel “penyakit hati”, kok dalam kesempatan lain, ketika rambut kepala sang mas’ul sudah mulai panjang datang lagi Sms yang bernada “akh, seorang mas’ul lebih pas kalau rambutnya tidak gondrong”. sampai sejauh itu???

hmm. sampai saat ini pun saya tak habis pikir, image bahwa anak-anak rohis “tak pantas” memakai celana jins, seakan tetap terjaga kualitasnya :D . begitu pula ketika saya di beri tahu oleh salah seorang santri sebuah pondok pesantren putra di Semarang, bahwa terdapat peraturan dilarang memakai celana jins dengan pertimbangan celana jins merupakan sebuah bentuk lahwun dan lebih dekat menyerupai orang-orang KxfxR

terlepas dari itu semua, bagi saya pribadi yang memang sejak kecil tidak memiliki celana Jins (memang saya kurang suka dan biasanya harga jins relative lebih tinggi dari pada yang bukan jins). jika larangan memakai jins itu sudah menjadi sebuah peraturan di sebuah lembaga maka bagi saya itu sebuah peraturan yang memang harus diikuti, apalagi sebuah lembaga keislaman seperti ponpes yang memang dalam menentukan peraturan tentunya sudah dengan pertimbangan syariat.

Berbeda halnya jika hal itu sebuah image yang berkembang. Saya lebih bisa menerima memakai jins tetapi tidak isbal dari pada memakai selain jins tetapi masih isbal (apalagi dalam hal ini jika sudah dalam keadaan sholat). Walaupun memang terdapat perbedaan pendapat mengenai isbal ini. Antara dengan kesombongan dan tanpa kesombongan. Tetapi bukankah tidak salah memilih salah satu diantaranya yang saya nilai lebih kuat dasarnya. Tetapi dalam keadaan sholat saya mendapati larangan isbal menjadi jumhur ulama’. Berdasar sebuah riwayat bahwa suatu ketika ada salah seorang arab badui yang sholat 2 raka’at dengan isbal kemudian Rasulullah menyuruh arab badui tersebut untuk mengulangi sholatnya (mohon jika salah saya diingatkan).

Allahu a’lam

April 21, 2008

Ya Allah Aku Jatuh Cinta (lagi)

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:35 am

itulah judul buku yang (kembali) di bedah di MPD Semarang dalam rangkaian spiritual Transformation 2008 hari ahad 20 April kemarin. dengan pembedah adalah penulisnya sendiri (kang Burhan Shadiq). walaupun judul yang sama telah di bedah disini, tetapi perbedaan segmentasi yang membuat panitia membedah buku yang sama. jika dulu disini segmentasi adalah pelar SMA, maka ahad kemarin lebih segmented ke mahasiswa,… sehingga lebih Fresh dan GERRRRRR jika sudah disinggung masalah tindak lanjutnya, YA Allah Aku Tak Ingin Sendiri

walaupun beberapa kendala masalah pengiriman buku, dan juga kunci ruang LCD yang Ketlingsut … jadinya kendala tersebut manjadi bumbu pemanis acara…

dengan peserta yang cukup banyak hampir memenuhi seisi masjid,.. dengan antusiasnya mengikuti kajian yang dilaksanakan… sambil sesekali diselingi joke ikhwan “bakwan” atau akhwat “kawat”.

pada Forum diskusi seorang peserta ikhwan bertanya “Ust. Kalau ada seorang istri yang suaminya meninggal, kemudian akhwat tersebut menikah lagi, bagaimana di akherat kelak?.. siapakah yang menjadi suaminya kelak?”..

akhirnya acara selesai dengan tanggapan peserta yang kembali menyerukan () agar diadakan kajian tindak lanjutnya setiap pekan sekali……

sukron kang Burhan telah mampir ngasih ilmu ke kita-kita, jangan bosan-bosannya yach… banyak bandeng presto di semarang loh…. ditunggu juga buku yang baru Gombal Warning (sebuah pesan bagi akhwat terhadap rayuan GOMBAL “pseudo” ikhwan), yang dengan tampang jenggot tipis dan jidat item sambil majang tampang innocent…..hihi

April 19, 2008

Siang jadi malam, malam jadi siang

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:37 am

bismillah

ketika saya dahulu memutuskan untuk mengais maisyah diantara serpihan-serpihan Internet (hehe jadi satpam), maka ada sebuah asa yang senantiasa dipegang teguh. ketika jadwal mulai dibuat per shift, maka dengan banyak pertimbangan saya memutuskan untuk memilih jadwal shift pagi atau siang. dengan harapan ketika malam hari bisa berkativitas yang laen yang lebih bermanfaat untuk urusan ukhrowi.

tetapi ketika kesibukan bertambah dan bertambah, komitmen itu seakan mulai dipertanyakan. dengan adanya beberapa shift jaga malam (baik itu mulai ba’da maghrib atau mulai tengah malam sampai pagi), maka secara otomatis harus menggusur jadwal “istirahat dan rekreasi” saya.

mungkin risau hati (cieee) belum seberapa mengingat status yang masih “single”. bagaimana kelak jika sudah tidak “single” lagi…

seakan tergusurnya jadwal membuat beberapa perubahan yang ketika disikapi dengan lebih teliti membawa dampak yang cukup signifikan. BERUBAHNYA POLA HIDUP.

begitu pula ketika saya membandingkan antara kehidupan semasa Es Em A dengan semasa kuliah.

semasa Es Em A, tidur pukul 21.00 terasa sudah cukup larut malam (jika malam tersebut tidak ada aktivitas bersama teman-teman pengajian). hal tersebut begitu terasa mengingat tempat tinggal saya saat itu di sebuah dusun kecil di kaki gunung lawu, sehingga ketika ba’da isya’ sudah terasa menjadi dusun mati. hampir semua penduduknya sibuk dengan acara televisi masing-masing.

semasa Kuliah, istirahat pukul 21.00 bisa di cap bukan Mahasiswa, tetapi masih Es Em A. mahasiswa tidurnya paling cepat jam 12 malam.  paling tidak itulah doktrin yang kemudian menjadi brand image yang terbentuk di jurusanku, image yang ditanamkan oleh senior-senior semasa OSPEK. sebuah image yang sebetulnya kurang begitu berdasar. apalagi jika kita korelasikan dengan sebuah pesan Rasulullah, bahwa lebih utama mempercepat tidur selepas isya’ kecuali jika ada tamu atau belajar ilmu.

diantara kita mungkin banyak dijumpai orang-orang yang memang telah berubah pola hidupnya. siang jadi malam dan malam jadi siang. ketika ditanya mengapa pola hidup tersebut berubah? kebanyakan jawabnya hanya simpel “tuntutan pekerjaan”.

“Dan Kami jadikan malam sebagai perhiasan.  Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (An Naba’ : 10-11).

bagitulah kondisi kehidupan masa sekarang yang memang sudah mulai keluar dari fitrahnya. ada sebuah kisah menarik dari salah seorang ulama’ salaf. ketika malam mulai datang, sang ulama’ mulai memakai pakaian yang paling bagus dan memakai wangi-wangian. selepas isya’ sang ulama langsung berkholwah dengan Sang Kholiq. menikmati  malam-malamnya dengan “rekreasi”.

kiranya tulisan ini menjadi sebuah koreksi bagi saya pribadi, jika mengingat untuk apakah saya bekerja?

Abdullah bin Mubarok salah seorang tabi’in yang sangat kaya-raya, seorang ulama besar, Mujahid besar, ketika ditanya untuk apa beliau tetap bekerja, maka Ibnu Mubarok menjawab “Saya bekerja agar Dien ini tetap tegak dan murni” Masya Allah. Dalam catatan sejarah, kekayaan Ibnu Mubarok dipergunakan untuk menggaji para Ulama’ dan penuntut ilmu agar fokus dalam mempelajari dien, tidak risau dengan penghidupannya (disamping sebagian harta beliau untuk fie sabilillah). sebuah sosok Mujahid yang rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk fie sabilillah.

Berbeda halnya jika saya melihat lebih seksama beberapa motivasi  manusia untuk bekerja (yang sampai lupa waktu untuk ibadah), kabanyakan diantara kita merasa telah cukup berandil jika sudah menginfaqkan harta di jalan Allah. seakan jika sudah pada tataran jiwa atau nyawa kebanyakan akan menjadi pengecut. pikiran-pikiran tentang pekerjaannya senantiasa ada di benak nya, yang menjadi penghalang jika di tuntut untuk berkorban jiwa dan raga. maka keadaan seperti ini bertolak belakang dengan sebuah ungkapan Umar Ibn Khotob “jadikan hartamu di tanganmu dan akhirat di hatimu”

banyak contoh kaum salaf yang mampu dijadikan contoh. Salman Al Farisi, seorang sahabat asal persia, dalam hidupnya beliau bekerja sebagai pedagang. keuntungan yang diperoleh dibagi menjadi 3 bagian, sebagian untuk modal yang akan diputar kembali, sebagian untuk nafkah keluarganya, dan sebagian yang lain diinfaqkan fie sabilillah. apalagi jika kita melihat infa yang diberikan Abu Bakar, Umar, Utsman. membuat hati ini terasa sangat kerdil.

to be continu….

*maaaf jika alur tulisannya ga jelas… sedang terburu-buru nulisnya, di kejar deadline tugas
wassalam….

April 15, 2008

Sukses itu….

Diarsipkan di bawah: petualangan, santai aja.. — masibnu @ 7:38 am

Episode kali ini adalah review dari acara Ahad, 13 April 2008 di MPD Tembalang, dengan mangambil tema Never Ending Sucses (hihi Mirip Buku Terbitannya Pro You, karya Mas Budi)…

walaupun acara dimuali agak telat sekitar 15 menit (coz pembicaranya telat datang, ada gangguan macet di perjalanan) acara tetap berjalan dengan lancar. dengan peserta yang sedikit berkurang dibanding tema sebelumnya Campur Tangan JIN di Alam manusia dan Misteri Sholat Subuh. dengan pembicara Ust Hanif Hardoyo (Mantan Presiden BEM FT UGM) yang mengupas masalah kesuksesan hakiki.

sedikit pengantar materinya

Ketika kita mendengar kata kesuksesan, maka masing-masing dari kita akan mempunyai persepsi yang beraneka ragam dalam memaknai kesuksesan tersebut. Tetapi hal yang senantiasa sama dalam setiap manusia adalah bahwa setiap manusia akan bersaha mati-matian untuk mengapai kesuksesan sesuai dengan yang dipersepsikan. Kesuksesan diibaratkan sebuah Piala bergilir yang menjadi rebutan setiap manusia yang berusaha meraihnya dengan berbagai cara, bahkan tidak jarang melalui cara-cara yang melanggar syariat.

Maka penting bagi kita bersama untuk kembali menengok ke belakang, sebelum terlanjur jauh kita melangkah dalam mengapai kesuksesan yang telah bersemayam dalam benak kita, kita bertanya pada masing2 diri kita “apa makna kesuksesan dalam hidup manusia”. Diibaratkan pemahaman yang benar tentang makna kesuksesan ini adalah sebuah tujuan, maka jika tujuan yang benar dan jelas, maka jalan yang diusahakan akan lebih mudah untuk diraba dan dilalui. Tidak sedikit kita jumpai dalam kehidupan sekitar kita manusia berlomba-lomba mengejar kesuksesan, mereka ngotot menghabiskan waktu mereka, siang dijadikan malam, malam dijadikan siang hanya untuk mengejar kesuksesan Tidak sedikit dari mereka yang terjatuh dalam lorong-lorong kegelapan lantaran terjebak dalam tipu daya duniawi, yang mau tak mau harus “bertransaksi dengan setan”. Hal ini disebabkan pemahaman yang perlu diluruskan tentang kesuksesan itu sendiri.

Pada dasarnya, kesuksesan merupakan milik setiap orang, tetapi persoalannya adalah tidak semua orang tahu bagaimana mendapatkan kesuksesan tersebut. Bahkan bukan hanya dalam mendapatkan kesuksesan, memaknai kesuksesanpun beraneka ragam.

Allah Ta’ala berfirman dalam Ali Imran : 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”.

Sudah menjadi sifat manusia bahwa mereka mencintai wanita, membangga-banggakan anak, menginginkan harta kekayaan yang melimpah, dan juga berambisi untuk memiliki kedudukan atau pangkat yang tinggi sebagai manifestasi dari eksistensinya diantara manusia lain. Kebanyakan manusia mempunyai orientasi kehidupannya hanya ditujukan untuk kehidupan duniawi. Bagaimana bisa memiliki harta kekayaan, rumah megah lengkap dengan segala perabotan yang serba wah, kedaraan mewah, wanita cantik, kursi jabatan dan kedudukan yang tinggi. Mereka merasa hebat dan sudah berhasil dengan sukses jika sudah memiliki itu semua. Walaupun pada hakekatnya nafsu tidak akan pernah merasa puas. Jika diibaratkan nafsu adalah ibarat meminum air lautan, semakin banyak kita meminumnya maka akan semakin merasa haus ditengorokan kita.

Bahkan pada saat sekarang ini pandangan masyarakat tentang kesuksesan hidup sudah keliru. Terbukti bahwa tolok ukur kesuksesan adalah jika manusia telah berhasil mengumpulan dunia dan menumpuk harta kekayaan. Sehingga tidak aneh jika kita menjumpai di kalangan remaja, memiliki cita-cita bisa masuk perguruan tingi yang terkenal, lulus cepat dengan IP tiga koma sekian, diterima di perusahaan bonafit bergaji besar, menikah dengan wanita cantik yang sudah menjadi dambaan hatinya, membentuk rumah tangga yang harmonis di huniah mewah, kemudian memiliki kendaraan yang membuat decak kagum manusia yang melihatnya, tiap akhir pekan tinggal manikmati kesenangan duniawinya bersama istri dan anak-anak yang menggemaskan sambil berlibur, dengan tetap menjalankan ibadah sholat (walaupun dengan sholat sendirian di rumah, itupun dilaksakan menjelang habis waktunya), puasa dan zakat di bulan ramadlan, kurban dan naik haji. Jika ada proposal kegiatan keagamaan tinggal “setor dana”. Seakan akan sudah cukup sebagai penebus harga surga di akherat kelak. Mengesampingkan banyak kelalaian dalam memikirkan Kondisi Umat Islam. Pertanyaannya “Apakah hal tersebut jelek?”.

Tetapi ternyata realita tak seindah bayangan. Ternyata diantara mereka hanya tinggal di rumah-rumah yang sederhana, dengan gaji pas-pasan (maksudnya pas butuh biaya pas di kantong belum tersedia), kendaraanpun warisan orang tua, kalau tidak bisa disebut “besi tua”. Atau kalaupun toh ternyata mampu memperoleh fasilitas duniawi, mempunyai kekayaan tetapi tidak mampu menikmati kekayaannya (misalnya dengan adanya penyakit yang menimpanya sehingga menurut anjuran dokter dinasehati agar meninggalkan beberapa makanan tertentu), takut dengan kekayaannya karena memikirkanya, takut kehilangan karena dicuri, dirampok. Para pejabat yang justru tersiksa dengan jabatannya, public figure dan orang-orang tenar yang senantiasa tereksploitasi kehidupan pribadinya sehingga setiap hari merasa tidak nyaman karena terlanjur jauh dicampuri kehidupan pribadinya, yang harusnya jadi privasi setiap individu mempunyai istri cantik rupawan bak bidadari turun dari surga tetapi bukan ketentraman yang didapat justru malah banyak menuntut untuk berusaha senantiasa tampil cantik walaupun itu dihadapan khalayak umum, sehingga banyak menimbulkan fitnah di sana sini.

bahkan ada pula pada titik ekstrim yang lain, ketika menganggap kesuksesan itu ada pada bersikap zuhud yang berlebihan sehingga meninggalkan fasilitas dunia. hidup dengan pakaian yang lusuh, makan dengan menggantungkan pada “bantuan” orang lain, tidak mau menikah, tidak mau makanan yang enak walaupun itu halal, semua dianggapnya sebagai bentuk ghulluw.

“Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kahidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan yang bermegah-megahan diantara kamu, serta membangga-baggakan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya membangggakan para petani, kemudian tanaman itu mejadi kering, kemudian menjadi hancur. Dan di akherat nanti adzab yang keras, dan ampunan serta keridlaan_Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (al Hadid 20)

Kunci rahasia kesuksesan hakiki adalah ketenangan dan ketentraman dalam hati yang membuat manusia mampu menikmati kehidupannya, itulah rasa yang pernah disampaikan oleh Ibnu Qoyyim dalam kata-katanya “Dalam hati ada kekusutan yang tidak bisa diuraikan kecuali dengan menghadap kepada Allah, ada juga kebuasan yang tidak akan terjinakkan kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah, di dalamnya da juga kesedihan yang tidak akan bisa hilang melainkan dengan kegembiraan mengenal Allah dan ketulusa berperilaku sesuai dengan ketentuaNya. Dalam hati ada juga kerisauan yang tak akan bisa ditenangkan kecuali dengan perasaan bersama denganNya dan kembali kepadaNya, di dalamnya ada juga api perasaan yang bergejolak yang tak akan padam kecuali dengan keredlaan akan perintah, larangan dan ketentuanNya serta mengarunginya dengan kesabaran hingga hari pertemuan denganNya, di dalamnya ada juga keinginan yang tak akan bisa terpuaskan kecuali dengan cinta dan kepasrahan serta mengingatNya terus menerus penuh ikhlash mengabdi kepadaNya, meski diberikan bumi seisinya keinginan tersebut tak akan pernah terpuaskan sama sekali”.

acara berakhir dengan penyerahan door price kepada yang berhak, berhubung yang mengajukan pertanyaan banyak tetapi waktu yang tidak memungkinkan, soo door price diberikan bagi mereka yang pertanyaannya dianggap lebih JOS. hehe…. ups door pricenya kurang satu … mana panitianya … tambah satu dunks…

April 8, 2008

Sholat menghadap Selatan

Diarsipkan di bawah: iseng, santai aja.. — masibnu @ 7:53 am

pernahkah teman2 mengalami hal serupa yang saya alami dua hari yang lalu (hihi maaf baru sempat posting)… ketika saya dan rombongan dengan mobil menuju Sukoharjo dalam ranga takziyah. ketika pulang sudah kelewat maghrib, saya dan rombongan berusaha mencari masjid sambil mencari jalan ke Terminal Tirtonadi Solo, karena saya hendak balik ke tempat asal.

di tengah jalan kok kami semua pada blank, bingung arah mata angin. padahal tuch sudah 6 tahun pasti lewat solo jika pulang dan pergi ke semarang. hiks… saya dan rombongan akhirnya sholat maghrib dan isya’ (jama’ qoshor) di sebuah SPBU sambil ngisi bensin. *Isi perutnya belum loh* Merurut benak saya saat itu, saya sholat menghadap ke selatan (arah mata angin)…. kekee

kamipun akhirnya bertanya kepada penjaga SPBU tentang arah ke Tirtonadi (udah muter2 ga ketemu2,mendingan bertanya aja dech)….
oo anda sudah salah jalan mas, udah terlalu jauh… mas balik kiri kemudian ada Lampu Bangjo belok kanan. lalu terusss sampai mentok. nanti ketemu Terminal Tirtonadi”...

eee ladalah,… Nalikone nyang Tirtonadiiiii……

April 5, 2008

kembali terhenyak

Diarsipkan di bawah: get the spirit — masibnu @ 7:25 pm

sore tadi, ba’da asar memperoleh sebuah tausiyah dari seorang ustadz yang mengisi acara kajian Misteri sholat subuh. sebuah nasehat yang menukil dari sebuah buku yang menurut saya sangat-sangat special, khusunya bagi saya sendiri. Nasehat Kepada Aktivis Muslim karya Dr. Najih Ibrahim terbitan pustaka Rabitha, sebuah buku yang mampu membangkitkan jiwa dan semangat aktivis. sebuah buku yang ditulis ketika beliau berada dalam terali besi negerinya Musa Vs Fir’aun. buku yang dengan penuh penghayatan dan pemaknaan dalam setiap kata-kata yang tertuang…. yang mampu kembali membakar jiwa pemuda Islam setelah keterpurukannya, mengangkat derajad dan martabat serta izzah seorang muslim dihadapan kaum Kuffar.

pagi ini, tepat pukul 03.32 am kembali aku teringat akan sebuah tulisanku jumlah banyak kerja sedikit, tentang sebuah resah salah seorang sahabat dekatku, segala jerih payahmu semoga mampu menjadikan inspiracy bagi saya agar kembali teringat akan jalan penur bara ini, pengorbananku yang hanya seberapa jika dibanding dengan pengorbanan yang telah engkau berikan untuk kembali tegaknya dien ini.

yaa Allah, ijinkan aku kembali. kokohkanlah langkahku menapaki jalan panjang ini…

”Sesungguhnya….

Yang dikehendaki oleh islam adalah sebagian besar waktumu

Hampir seluruh hartamu,

Dan segarnya masa mudamu,………………

Islam menghendakimu saat kamu bertenaga, bukan saat loyo,

Islam menghendaki saat mudamu, saat kuatmu, masa sehatmu dan masa perkasamu, bukan saat rentamu.

Islam menghendaki yang termulia, terbaik dan teragung darimu”.

(DR. Najih Ibrahim, dalam buku Kepada Aktivis Muslim)

Blog pada WordPress.com.