hari sabtu pagi atau ahad pagi, biasanya memang menjadi jadwal “wajib” saya untuk memenuhi salah satu kegemaranku, berkencan dengan makhluk mungil nan manis yang bermuka bulet…. siapa lagi kalau bukan si Bola. bermain bola memang menjadi menu lezat jjika pada hari yang bersangkutan sedang tidak ada agenda laen yang lebih penting dan mendesak.
Sabtu pagi seperti biasanya, mulai pukul 6 pagi udah mulai menimang-nimang bola futsal. bersama dengan temen2 se rumah, langsung meluncur ke lapangan basket yang kami alih fungsikan jadi lapangan futsal. alhamdulillah.. setelah bermain 3 on 3 di lapangan basket tersebut, kami kedatangan tamu-tamu istimewa dari “perkumpulan” lain dan mengajak maen bersama. gayung bersambut, tak lagi bertepuk sebelah tangan.
menggunakan separuh lapangan sepakbola ukuran normal, kami memulai dengan kick off. bola di oper kesana kemari dan kadang di backpass kebelakang sebentar, kemudian di longpass ke striker, dan sampailah di sisi kiri mulut mulut gawang, umpan tarik ke saya. dan … saya tembak.. GOOOLLL. senengnya bisa membuka skor.sebagai playmaker, kadang mampu memecah kebuntuan dengan menjadi second striker yang mampu menjebol gawang lawan.
Setelah selesai sepakbola selama 1 jam, ternyata otot lutut kaki kanan tertarik sedikit hingga nyeri beberapa hari. ini lantaran tanpa pemanasan terlebih dahulu seh… hiks. tapi ga masalah yang penting hati seneng…………
dalam istirahat setelah letih bermain sepak bola, saya sempat berfikir, bola futsal kalau di giring seorang diri dari belakang belum sampai depan paling sudah direbut oleh lawan, begitu pula kalau “bola” kekuasaan digiring sendirian pasti akan mudah direbut oleh saingan politiknya. tetapi jika dimainkan lalu dioper kesana kemari, kadang backpass kebelakang sebentar untuk menarik lawan agar keluar dari sarangnya, sehingga malupakan pertahanannya, akan lebih mudah untuk membobol “gawang” lawan politiknya. bahkan bukan hanya untuk membobol “jala” lawan main, “gawang” negara pun tak luput dari serangan.
sebagaimana filosofi dalam sepak bola modern, menyerang adalah pertahanan terbaik. filosofi ini juga diterapkan dengan baik oleh Mr. Bush yunior dkk untuk menyerang Islam dan kaum muslimin terlebih dahulu, tak lain dan tak bukan juga sebagai bentuk “pertahanan” agar ideologi yang di perjuangkannya dapat langgeng di muka bumi. filosofi ini pula yang kiranya juga banyak diterapkan oleh kalangan “pemain” politik yang seakan mendapat angin segar tatkala melihat lawan maennya sedang mengalami sebuah masalah, atau bahkan hanya berbeda sikap mengenai suatu hal.
bagitu pula untuk ‘pertandingan’ yang sedang naik daun saat ini. siapa lagi kalau bukan kenaikan BBM. dengan di motori oleh playmaker, bola ‘alasan’ dioper kesana kemari dengan temen-temen mainnya, seakan biar bisa leluasa menjebol “gawang” negara. walaupun yang dipertaruhkan adalah “perut” rakyatnya. sedang yang bersorak hanya segaian kecil kalangan yang masih bisa tetap “bermain” di atas lapangan. BLT yang digagas pun seakan hanya sebuah “obat pati rasa” sementara. padahal yang sedang diderita sebagian besar rakyat miskin adalah pemain yang sudah cidera patah kaki. belum lagi jika dilihat apakah memang BLT memang sudah tepat sasaran. bukankah data penduduk yang digunakan adalah data BLT tahun 2005?.
soo….sampai kapan ‘pertandingan’ tersebut akan berakhir? sampai tenaga terkuras habis, sampai rakyat ‘cidera’ dan ditandu keluar lapangan, atau cukup 90 menit dengan opsi perpanjangan waktu. atau sampai datangnya pemain baru?