Berbagi Cerita

Agustus 27, 2008

laksana burung ‘Emprit’ atau jadi Ular

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:39 am

“mas, saya itu seorang yang belum lama belajar agama, nah trus sekarang khan menjelang Ramadhan. padahal saya bekerja dengan membuka warung makan kecil-kecilan di pinggir jalan. buka tiap hari mulai jam 9 pagi sampai jam 6 sore. setelah jam 6 sore tersebut, lokasinya gantian dengan teman saya yang jualan nasi kucing. lha selama Ramadhan ini saya harus bagaimana?, apakah menutup warung saya, atau tetap jualan, atau tetap jualan dengan dijalankan oleh orang lain yang “tidak berpuasa” sedang saya sebagai pengawas saja”

sebuah pertanyaan yang jawabannya mudah, tetapi aplikasi dilapangan yang sangat susah. Di satu sisi sudah faham hukum makan di hadapan orang yang berpuasa, atau dalam kasus ini hampir serupa, menjual makanan saat orang berpuasa. Disisi lain tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki yang telah berkeluarga, bekerja mencukupi kebutuhan keluarganya.

Memang, setiap menusia dikaruniai rezeki oleh Allah dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian sebagaimana burung emprit, pagi keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, dan sore kembali ke sarang sudah dalam keadaan kenyang. Jika hari tersebut tidak keluar dari sarang maka tidak akan makan. Tetapi sebagian yang laen sebagaimana Ular, sekali makan dapat anak kambing, lalu istirahat selama sebulan sudah cukup.

jikalau yang ditanyain mempunyai kemampuan untuk menanggung biaya hidup si ikhwan yang bertanya selama sebulan, maka unutk menjawab, silahkan kamu tutup sebulan saja, dan fokuslah untuk menuntut ilmu, sambil mencari kerja yang laen” akan lebih mudah untuk diucapkan. Tetapi jika kemampuan menanggung biaya hidup itu tak ada, rasanya seperti dilema simalakama.

so, marilah berusaha melihat bagaimana para Shahabat dalam menyambut Ramadhan dengan tetap mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Kebanyakan para shahabat menghabiskan bulan Ramadhan untuk urusan akherat, bagaimanakah dengan diri kita??

Agustus 5, 2008

Panitia Isra’ Mi’raj 100% Non Muslim

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:03 pm

Apa yang sedang melanda manusia Indonesia memang benar-baner aneh. tak cukup waktu semalam suntuk untuk membayangkannya. Dari sederetan peristiwa yang membuat “berdecak kagum”, mulai dari kasus suap, korupsi, pemimpin negeri dengan fasilitas serba wah sedangkan rakyatnya sangat gelisah lantaran ga tau besok pagi bisa makan atau tidak sampai kasus “penjagalan” berantai sesama manusia dan yang satu ini tak kalah luput dari “decak Kagum” saya.

Sebuah acara Peringatan Isro’ Mi’raj di Malut 100% panitianya dari kalangan Non Muslim (baca: KAFIR). Bagi saya pribadi (yang telah enggan melaksanakan peringatan Isra’ mi’raj tsb) melihatnya sebagai sebuah hal yang menggelikan. Peringatan Isra’ Mi’raj sendiri yang dari kalangan Kaum muslimin masih memperdebatkan manfaat dan mudlaratnya, atau bahkan sampai pada tatanan kebid’ahannya, kenapa justru dari kalangan Non Muslim (baca lagi : KAFIR) yang memprakarsai (baca : 100% panitia dari kalangan non muslim)

terlepas dari pernyataan bahwa hal tersebut menjadi indikasi bahwa suasana di Malut sudah “Kondusif” masalah toleransi antar umat beragama, tetapi apakah Kita akan melupakan begitu saja kasus pembantaian berdarah Iedul Fitri atas Kaum Muslimin di Malut beberapa waktu lalu hanya lantaran “hadiah” peringatan Isra’ Mi’raj doank???….

Blog pada WordPress.com.