“mas, saya itu seorang yang belum lama belajar agama, nah trus sekarang khan menjelang Ramadhan. padahal saya bekerja dengan membuka warung makan kecil-kecilan di pinggir jalan. buka tiap hari mulai jam 9 pagi sampai jam 6 sore. setelah jam 6 sore tersebut, lokasinya gantian dengan teman saya yang jualan nasi kucing. lha selama Ramadhan ini saya harus bagaimana?, apakah menutup warung saya, atau tetap jualan, atau tetap jualan dengan dijalankan oleh orang lain yang “tidak berpuasa” sedang saya sebagai pengawas saja”
sebuah pertanyaan yang jawabannya mudah, tetapi aplikasi dilapangan yang sangat susah. Di satu sisi sudah faham hukum makan di hadapan orang yang berpuasa, atau dalam kasus ini hampir serupa, menjual makanan saat orang berpuasa. Disisi lain tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki yang telah berkeluarga, bekerja mencukupi kebutuhan keluarganya.
Memang, setiap menusia dikaruniai rezeki oleh Allah dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian sebagaimana burung emprit, pagi keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, dan sore kembali ke sarang sudah dalam keadaan kenyang. Jika hari tersebut tidak keluar dari sarang maka tidak akan makan. Tetapi sebagian yang laen sebagaimana Ular, sekali makan dapat anak kambing, lalu istirahat selama sebulan sudah cukup.
jikalau yang ditanyain mempunyai kemampuan untuk menanggung biaya hidup si ikhwan yang bertanya selama sebulan, maka unutk menjawab, silahkan kamu tutup sebulan saja, dan fokuslah untuk menuntut ilmu, sambil mencari kerja yang laen” akan lebih mudah untuk diucapkan. Tetapi jika kemampuan menanggung biaya hidup itu tak ada, rasanya seperti dilema simalakama.
so, marilah berusaha melihat bagaimana para Shahabat dalam menyambut Ramadhan dengan tetap mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Kebanyakan para shahabat menghabiskan bulan Ramadhan untuk urusan akherat, bagaimanakah dengan diri kita??