Kisah ini saya tulis sebagai sebuah bentuk cerminan, bagi kita bersama. Sebagai sebuah contoh yang baik akan sifat
Khouf kepada Allah. Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi sekitar abad 6/7 HIjriyah.
Kisah ini terjadi di sebuah kota Damascus di sebuah masjid At Taubah (sekarang masih ada masjid tersebut). Di masjid tersebut terdapat seorang Syaikh kehidupannya pas-pasan, setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengajarkan Dien. Suatu ketika datanglah seorang pemuda miskin yang hendak menuntut ilmu pada syaikh tersebut. Pemuda tersebut menceritakan kisah perjalanannya
“Wahai Syaikh, saya ini orang miskin, bolehkah saya menuntut ilmu dan tinggal di masjid bersama dengan anda?”
Syaikh menjawab :
“Jika engkau bersedia hidup sebagaimana saya hidup, maka silahkan engkau tinggal dan menuntut ilmu disini”.
Kemudian saya tinggal bersama syaikh dengan mengikuti “gaya” hidup sebagaimana syaikh hidup. setelah 2 bulan berselang sebuah kejadian yang begitu lapar menimpa saya
“Saya selalu mengikuti syaikh saya. syaikh saya benar-benar Zahid (orang yang sangat zuhud), jika ada makanan maka syaikh saya makan, dan jika tidak ada makanan maka dia berpuasa pada hari tersebut. Dia makan dengan kurma dan ditambah air, begitu pula jika berbuka, dan syaikh ini meninggalkan sifat meminta-minta”.
Kemudian dia bercerita “sudah 2 hari ini saya tidak makan dan tidak ada yang bisa saya makan, saya menggunakan tangan saya untuk mengganjal perut, dan kadang saya membungkukkan badan agar perut saya jadi terlipat. Saya tidak bisa konsentrasi mengikuti taklim, dan akhirnya saya meninggalkan taklim. Saya ingin minta makanan padahal saat itu tidak ada makanan, saya minta makanan di luar belum tentu dikasih. Maka saya berpendapat saat itu saya sudah halal untuk mencuri untuk mengganjal perut saya”
Kemudian saya keluar dan di rumah pertama saya dapati 3 orang wanita yang sedang tidak memakai hijab. Kemudian saya alihkan pandangan saya karena memandang hal yang haram.Kemudian saya mengalihkan ke rumah ke 2. Ternyata kosong dan terdapat bau makanan dari dapur. Kemudian ke dapur dan melhat ada panci yang sedang menyala. Karena saking laparnya, langsung saya buka panci dan saya ambil salah satu dari ketika makanan tersebut dan langsung saya masukkan ke mulut.
Ketika masih mengunyah tiba-tiba ketaqwaannya muncul.
“Subhanallah, syaithan telah berhasil mengalahkan saya dengan berbuat 3 dosa sekaligus.
1. Masuk rumah orang lain tanpa izin
2. Mencuri
3. Makan makanan haram
dan saya yakin jika saya tinggalkan yang haram, karen takut kepada Allah maka Allah akan menggantikan dengan yang baik”.
Kemudian saya kembali ke masjid dnegan perut yang semakin lapar.
Sesampainya di masjid, saya dapati taklim telah usia. Dan saat itu syaikh sedang berbincang-bincang dengan seorang laki-laki, kemudian masuklah seorang wanita yang memakai cadar. saya tidak tahu apa yang dipebincangkannya.
Kemudian syaikh mendekati saya dan bertanya “wahai Muridku, apakah kamu telah menikah”?
maka saya jawab “Belum”
“apakah kamu ingin menikah?”
Saya hanya diam saja. kemudian syaikh mengulangi pertanyaannya 3 kali dan saya menjawab “Syaikh, anda tahu, setelah kepada Allah, hidup saya bergantung pada anda. Jika anda makan maka saya juga makan. Apa yang anda makan, begitu pula yang saya makan. Bagaimana saya mencukupi kebutuhan keluarga saya?”
“Wahai pemuda, ketahuilah, perempuan di sebelahmu ini, adalah seorang wanita yang telah ditinggal mati oleh suaminya dan ditinggali harta yang banyak. Karena takut terkena fitnah, wanita ini meminta kepada orang tua tersebut (satu-satunya walinya) untuk mencarikan jodoh untuknya”.
kamudian saya menerimanya dan pernikahan dilakukan saat itu juga, dengan langsung menghadirkan wali, saksi dan mahar seadanya yang berasala dari pemberian syaikh.
setelah nikah pemuda dengan istrinya tersebut kemudian disuruh pulang kerumah istrinya (yang sekarang telah menjadi rumahnya juga). Betapa kagetnya saya, ketika saya temui bahwa rumahnya adalah rumah yang tadi saya masuki yang hendak saya curi makanannya.
sesampainya di dalam rumah, istri saya berkata
“Saya tadi mendengar bahwa kamu tadi lapar, apakah kamu mau makan?”
Kemudian dia pergi ke dapur dan didapatinya panci yang sedah terbuka dan makanan yang sudah digigit. Kemudian dia bilang
“Siapa yang telah makan makanan saya?”
“Demi Allah begini istriku,…………..
dia menceritakan kisahnya sejak awal.
“Dan demi Allah gumpalan makanan di dapurmu masih basah dan saya tinggalkan hal yang haram karena takut kepada Allah, dan saya yakin Allah akan mengganti dengan hal yang lebih baik”.
Kemudian istri saya menjawab pula dengan bersaksi kepada Allah,
“Demi Allah, engkau meninggalkan segumpal makanan yang haram, Allah jadikan makanan itu, pancinya, rumahnya, dan pemiliknya, yaitu diriku jadi milikmu sekarang”
ternyata Allah membalas ketaqwaan seseorang langusng seketika.