Berbagi Cerita

November 11, 2008

Tetep Jalan Dengan Komentar Orang lain

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:39 am

Sebuah cerita yang tiba tiba terlintas dalam benak saya,
Suatu ketika seorang bapak melakukan safar dengan anak laki-lakinya menggunakan keledai yang kurus. Ditengah jalan muncullah ide diantara mereka bahwa, anak laki-lakinya yang naik keledai dan sang ayah menuntun keledainya. Ditengah jalan mereka berpapasan dengan seseorang yang mengomentari tindakan tersebut, bahwa sang anak tidak berbakti pada orang tua dengan naik keledai sedang orang tuanya yang menuntun keledai.

Mendengar komentar tersebut, akhirnya gantian sang anak yang menuntun keledai dan sang ayah naik ke atasnya. Kemudian mereka berpapasan lagi dengan orang lain yang juga ikut berkomentar, bahwa seorang anak dibiarkan kelelahan menuntun keledai sedang orang tuanya enak-enakan diatas keledai. Mendengar komentar tersebut, mereka kemudian memutuskan untuk bersama-sama naik diatas keledai.

Dijalan, merekapun kembali mendapat komentar dari orang yang berpapasan, bahwa mereka tidak mempunyai belas kasihan pada binatang, seekor keledai yang kurus dinaiki berdua.
Lagi-lagi mereka memutuskan untuk berubah dengan jalan bersama-sama menuntun keledai.

Sebuah cerita yang saya sendiri kurang begitu faham keotentikan cerita tersebut, tetapi bagi saya cerita tersebut memberikan sebuah pelajaran yang berharga. Bagaimanapun perbuatan dan tindakan kita baik perbuatan baik atau buruk, ada saja orang-orang yang akan mengomentari. Baik itu komentar baik dan mendudung atau komentar yang bernada sinis bahkan terkesan berusaha menjatuhkan mental.

Terkait itu semua, tentunya Amrozi dkk, mempunyai dalil rujukan dan keadaaan empiris dilapangan dalam segala tindak tanduknya, terlepas dari komentar-komentar yang mengiringinya hingga akhir hayatnya. Mulai dari Komentar mendukung aksinya, Komentar yang “Diam” tidak mendukung tetapi juga tidak mengutuknya, atau komentar yang mengutuk aksi yang dilakukan mereka Oktober 2002 di Bali.

So, Terserahlah seseorang akan berkomentar sesuka hatinya menghadapi sebuah kejadian, toh mereka pulalah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Persepsi seseorang pastilah berbeda-beda. Asal seseorang melakukan perbuatan berdasarkan pijakan yang jelas dan Qoth’i yang diyakininya, toh dialah jua yang kelak akan menerima balasan baik dan buruknya dari Sang Maha Adil.

Blog pada WordPress.com.