Berbagi Cerita

Januari 29, 2009

Lompatan Hidup

Diarsipkan di bawah: get the spirit — masibnu @ 7:13 am

Tidak semua anak manusia melalui jalur hidup yang selalu enak dan menggembirakan. Tidak selalu berada pada jalan yang lempeng lagi alus sehingga sejak start mesin bisa digeber teratur meningkat kecepatannya. Tetapi ada kalanya mesin sedang bermasalah, baik itu karena aus akibat gesekan, mlepek lantaran musim penghujan kebanjiran, atau memang karena mesinnya udah ga punya tenaga alias sudah saatnya dimusiumkan.

Jika kondisi memaksa untuk istirahat sementara waktu lantaran sedang mengalami masalah dengan mesin, maka ketika mulai memacu kendaraannya butuh kecepatan yang lebih dibanding yang lain sehingga mampu menyusul ketertinggalan.

Hidup terkadang identik dengan hal itu. Saat merasa tertinggal dari yang lain, maka butuh lompatan hidup untuk menyusul mereka yang telah melaju. Tidak menutup kemungkinan ketika hendak melakukan lompatan hidup terkadang secara kasat mata terlihat mundur beberapa langkah dari perjalanan yang dilakukan. Dalam istilahnya hendak melakukan ancang-ancang.

Begitu pula akibat dari melompat banyak diantara mereka terpeleset terlebih dahulu, bahkan tidak sedikit yang berkali-kali mengalami terpeleset. Tetapi tidak sedikti pula yang langsung sukses. Bukankah jika berhasil seorang manusia hanya mengusahakan apa yang dia mampu, hasil merupakan hadiah dari Allah, sehingga tidak ada pintu untuk membanggakan diri apalagi sombong. Kecuali bagi mereka yang jumawa telah dikuasai oleh syaithon.

Begitu pula jika belum berhasil melompat, bukankah hanya sebuah kepingan puzle dari jalan menuju kesuksesan. Jika tidak patah arang mencoba dan terus mencoba niscaya akan menemukan ancang-ancang, pijakan kaki yang tepat, tinggi dan kecepatan lompatan, dan tumpuan pendaratan yang safety.

So, Jangan berhenti berpengharapan pada Allah, Dialah yang menentukan jalur hidup yang akan dilalui oleh manusia.

Januari 26, 2009

The Power of “Kepepet”

Diarsipkan di bawah: get the spirit — masibnu @ 7:41 am

Dengan status baru sebagai kontaktor dan keadaan rumah yang masih apa adanya memang mengharuskan untuk bersabar sementara waktu. Salah satunya kran kamar mandi warisan dari penghuni sebelumnya telah rusak dan hanya disumbat dengan plastik ireng. Kondisi ini masih dapat ditanggulangi lantaran masih ada kran di depan rumah yang bisa di salurkan ke bak dalam rumah menggunakan bantuan selang plastik ijo yang panjangnya sekitar 15 meter. Selama ini memang dirasa masih oke-oke aja, terasa tak ada ganjalan, sehingga niatan memperbaiki kran di dalam kamar mandi tak begitu jadi perhatian.

Tetapi keadaan seakan berubah dari sebuah cerita sederhana, Ahad kemarin, ba’da acara acara arisan ummi-ummi di tempat kami. Pipa kran air yang berada di luar rumah rusak dan patah, padahal air di dalam bak penampungan di kamar mandi sudah menipis.  Padahal Ahad malam jadwal PDAM mengalir, maklum air mengalir tiap 2 hari sekali.

Lantas saya mulai berfikir harus ada upaya pembenahan salah satu kran. Melihat pipa kran diluar rumah butuh biaya dengan membeli kran T, dan perlu gergaji lagian hari sudah malam, mati lampu lagi, maka muncul isengnya membenahi kran yang dalam rumah.  Ide punya ide akhirnya memanfaatkan bekas kran depan rumah yang ternyata masih bisa dipakai dan ditempatkan di dalam kamar mandi.

Hmm, seandainya pipa kran depan rumah tidak rusak mungkin tak akan segera terpikirkan membenahi kran dalam rumah. This is kepepet. Dari pada kagak mandi lantaran ga ada air, coz kran rusak mendingan memutar otak agar air PDAM bisa di manfaatkan.

Akhirnya walau dengan tangan yang masih sedikit sakit lantarak kena musibah, saya puter kran yang seret, yang penting tidak bisa lepas. Yups… terpasang dan…. Alhamdulillah air bisa ngalir dan dimanfaatkan. Bisa mandi pagi dirumah nich. hehe

Kepepet, memang terkadang seseorang akan muncul idenya berasal dari kepepet. Bagi sebagian orang justru lantaran kepepet ini mampu melahirkan sebuah semangat yang membara bagaikan api ang berkobar untuk bertindak keluar dari kungkungan kepepet. Berapa banyak manusia yang menjadi juragan lantaran awalnya kepepet tak punya uang lalu “terpaksa” memulai bisnis dengan modal nol rupiah, atau bahkan modal minus alias minjem ‘jas buka iket blangkon sama juga alias sami mawon‘ (hehe) dengan kata lain utang. Inilah betapa keadaan yang kepepet terkadang menjadi motivasi yang luar biasa untuk menjadi maju.

Januari 22, 2009

Uban

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:45 am

Tadi pagi, ketika hendak berangkat kerja, saya sempatkan menyisir rambut di depan cermin. Melihat diri sendiri, apakah sudah cukup ganteng untuk ukuran manusia seperti saya. Tetapi sayangnya saat itu tidak ada pembanding untuk ukuran “kegantengan” saya di depan cermin. Kalau membandingkan dengan istri jadinya paling ganteng. hehehe.

Saat di depan cermin itulah saya baru sadar, ternyata uban di kepala saya sudah mulai banyak. Apakah ini gara-gara menikah yach. hehehe. Saya jadi teringat akan dialog dengan seorang teman yang ubannya mulai tambah banyak setelah menikah. Ketika ditanya apakah lantaran beratnya menanggung istri?.

Dengan santainya menjawab “Setiap hari istri saya suruh jalan sendiri loh, ngga’ saya gendong ataupun saya panggul, jadi ga ada alasan berat menanggung istri lalu tambah banyak ubannya”. hehe

Hmm, Entah karena menikah atau tidak, uban sebagai tanda awal semakin berkurangnya jatah umur alias semakin bertambah tuwir. Emang sih, seiring bertambahnya waktu, jatah umur manusia akan semakin berkurang. Dan tentunya bagi yang belum menikah jangan takut tambah ubannya lantaran menikah. Tetapi dengan menikah banyak rahasia ibadah yang tak mampu didapat jika masih melajang.

Panggil Aku : Rijaluddien

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:03 am

Ibnu, sebuah nama yang sudah cukup lama melekat dalam diri saya. Apalagi jika dibelakangnya ditambahi nama Mukmin, mengambil nama ayah kelihatan lebih pas. Keberlangsungannya waktu, beberapa teman baik itu teman maya maupun teman nyata menambahi nama panggilan didepannya dengan bang atau mas, maka jadilah MasIbnu, sebagaimana nama blog ini.

Setelah menggenapkan dien dengan salah seorang akhwat asli Semarang,  muncullah beberapa kerisauan. Nama saya jadi terkesan kurang SREG, dengan tetap memakai nama Ibnu. Apalagi “pacar” baru (baru 7 bulan hehehe) kurang suka dengan panggilan Masibnu. Dia pun menyarankan agar ganti nama aja.  Memang sihh, panggilan Ibnu memiliki kesan tetap menjadi seorang “walad” padahal status sekarang sedang mengharap kehadiran seorang walad. (Apa hubungannya??)

Saya kemudian berfikir, merenung, mencerna beberapa kata yang terlintas dalam benak beberapa saat lamanya, akhirnya terpikirlah sebuah nama pena baru :

“Rijaluddien”

Sebuah nama yang memiliki tanggung jawab yang besar. Bukankah seorang tentara mampu mengangkat bebean yang berat lantaran sering dilatih (baca : dipaksa pada awalnya) untuk mengangkat beban yang berat pada masa awal diklat.

Disamping itu, tetap menampilkan nama As Sinay, yang diambil dari nama sebuah kecamatan tempat lahir yang terletak di kaki gunung Lawu, SINE.

so, Call me : Rijaluddien As Sinay

Januari 20, 2009

Bahasa Malaysia yang “Unik”

Diarsipkan di bawah: Guyon, iseng — masibnu @ 7:32 am

Wah bagi kita bahasa Indonesia bahasa yang cukup enak buat telinga yach, coba bandingkan dengan bahasa Malaysia..

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (oh please…)

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : ” Pasukaaan.. bubar jalan !!! “
MALAYSIA : ” Pasukaaan.. cerai berai !!! “

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi

INDONESIA : rumah sakit bersalin
MALAYSIA : hospital korban lelaki (bener juga sih…)

INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA : talipon bimbit

INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut

Ayo ada lagi yang mau nambahin??

*hadiah sore dari seorang rekan, dengan sedikit editan.

Januari 19, 2009

Krisis Gaza dan Krisis Global

Diarsipkan di bawah: Renunganku, sharing — masibnu @ 7:43 am

Menilik langkah Yahudi Israel yang berangsur-angsur menarik pasukannya dari beberapa wilayah penting di Jalur Gaza, setelah sejak 27 Desember menggempur salah satu markaz HAMAS, yang mengakibatkan lebih dari 1200 orang meninggal dunia (semoga menjadi syuhada’). Berbanding dengan 13 “penjagal” Israel yang Tewas, memang menimbulkan sebuah pertanyaan besar dalam benak kita. Langkah mundur Israel tersebut diambil setelah Israel menyatakan telah terpenuhi “target” penyerangan ke Gaza.

Jika menilik lebih jauh tentang beberapa stategi Yahudi “menguasai” dunia dalam rangka mendirikan Israel Raya, sebagaimana dipaparkan dalam Akar Konflik Palestina-Israel, memang beralasan jika kita melihat dalam skenario global Yahudi.  Menilik krisis global yang mendera negeri “boneka” Yahudi, siapa lagi kalau bukan Amrik, dan mulai hancurnya kepercayaan dunia pada finansialnya, maka tidak menutup kemungkinan yahudi memunculkan intrik untuk mengalihkan perhatian dunia dari krisis global, salah satunya yaitu dengan penyerangan ke Gaza. Untuk mencari dalih penyerangan tersebut rasanya tidaklah sulit, mengingat Gaza merupakan salah satu markaz HAMAS, kelompok militan perlawanan Israel.

Ketika dunia mulai beralih perhatiannya kepada konflik Gaza, maka Yahudi mampu kembali “pasang kuda-kuda” untuk memperbaiki perekonomian ribawi yang sedang sekarat tersebut. Jika memang waktunya persiapan “pembenahan” tersebut telah dirasa cukup, pasukan ditarik dari Gaza. Hal ini terlihat pula dari reaksi VETO Amrik atas Resolusi DK PBB ketika penyerangan baru berlangsung beberapa hari. Disamping itu target penyerangan Israel tidaklah murni mecari “militan” HAMAS sebagaimana alasan yang dikemukakan oleh Israel. Jika memang memburu HAMAS, tayangan di media tidak pernah menukilkan militan hamas yang tertangkap, ditawan ataupun disiksa sebagaimana penyarangan AMrik atas Iraq.

so, Bagi kaum Muslimin, mari selalu waspada atas tipu daya Israel Yahudi.

Januari 15, 2009

Tentara Yahudi Vs “Teriakan” Umat Islam

Diarsipkan di bawah: get the spirit — masibnu @ 7:30 am

Setiap hari dalam berita selalu menampilkan kebrutalan Yahudi Israel yang tak lagi berwujud manusia, sudah hilang rasa kemanusiannya, berganti menjadi kera sebagaimana kisah bani Israel yang mafhum kita dengar. Dengan alasan tetek bengek Yahudi israel berusaha membumi hanguskan Gaza bumi Palestina. Segala persenjataan modern digunakan Israel, baik dari jenis rudal, roket, bom napalm, bom jenis phospor putih, dan isu terbaru Israel akan menggunakan Bom atom untuk meluluh lantakkan Gaza, sebagaimana yang tertera dalam headline TEMPO hari ini.

PBB hanyalah tinggal “koar-koar” laksana sapi ompong. Itupun jika tidak di VETO oleh Amrik yang sok jago. Bangsa Arab yang diharapkan mampu berbuat lebih banyak membantu saudaranya tak ubahnya kambing yang diikat dan diberi sepanggul rumput hijau segar. Setali dua uang dengan OKI yang tak ada lagi gaungnya. Isu Boikot produk yang membiayai agresi Israel pun belum sepenuhnya dilakukan oleh Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Salah satunya yang barusan terlihat kasat mata saya adalah masih “antri” nya orang-orang yang membeli produk M’cD.

Aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat Islam tak ubahnya menjadi “sendau gurau” nyanyian pengiring bagi aksi Israel. Terlepas dari sebuah sumbang sih moral yang diberikan lewat aksi tersebut, kiranya menjadi bahan renungan bersama, Aksi senjata kok dilawan dengan teriakan. “Kurang Ngefek”, begitu kata seorang muslim yang suatu ketika berbincang- bincang dengan saya.

Jika menilik jumlah kaum muslimin, tidak perlu terlalu risau. Jika kaum muslimin semua di muka bumi “kencing” di bumi Israel saja, maka israel akan hanyut dan menjadi lautan air kencing. Apalagi jika ditambah dengan berak di israel. Tetapi kebanyakan kaum muslimin sudah terjangkiti wahn, hubbud dun-ya wakarohiyatul maut.

Walaupun begitu masih tetap ada kaum muslimin yang mengangkat senjata membela darah kaum muslimin. Bagitu pula ikon Jihad Internasional Usama bin Laden yang baru-baru ini merilis rekaman Seruan Jihad akbar di Gaza. Akankah Gaza menjadi “pemantik” kehancuran Israel dan pendukungnya, sebagaimana Iraq bagi Amerika?.

Januari 12, 2009

Bakso “formalin” yang Ramai Pembeli

Diarsipkan di bawah: petualangan — masibnu @ 7:33 am

Perjalanan pulang dari acara Outbound di Magelang membuat saya lebih ilfill. Awal tahun baru lebih macet lagi. Mungkin masih tersisa keramaian malam menjelang tahun baru, dan terbawa sampai siangnya. Atau memang ramai orang pulang dari berlibur bersama orang-orang yang dicintainya bertepatan dengan libur panjang cuti kerja.

Dalam perjalanan, kami sepakat untuk memberikan reward bagi tim lantaran suksesnya acara yang dilakukan. Tak perlu mahal yang penting berkesan dan membahagiakan, dan tentunya bisa bikin kenyang di perut :D

Sepanjang perjalanan di daerah Jambu (terkenal lantaran Syaikh Puji), melihat buah durian yang dijajakan di pinggir jalan. Tapi sayang, mas sopir sedang tidak berminat dengan buah yang banyak durinya tersebut. Akhirnya kami sepakat mampir ke warung Bakso pinggir jalan jika warung tersebut ramai dikunjungi pembeli. Sebagai indikasi baksonya memang enak disantap.

Setelah melewati monumen palagan Ambarawa, kami menemukan warung bakso di sisi kiri jalan yang ramai dikunjungi pembeli. Instingpun pun berbicara, ini baksonya enak. 3 orang memesan 3 mangkuk bakso, 2 teh anged dan 1 es teh. Tetapi ternyata warung kehabisan air panas untuk membuat teh anged. duhhh kacian !!.

Dan ketika sepiring bakso dihidangkan, ditambah sambal dan saus secukupnya, satu sendok kuahnya dicicipi… Kok rasanya begitu “gurih” dan pedas doank. Coba beralih ke baksonya, begitu kenyal. Wah bakso yang ramai tetapi tidak sesuai selera. Dengan berat hati saya makan mie dan baksonya dengan menyisakan kuahnya.

Ditengah perjalanan obrolan pun tak jauh dari bakso yang baru saja disantap. Tak banyak berbeda, antara saya dan bos Safrudin, baksonya kebanyakan formalin dan kuahnya kebanyakan michin alias penyedap rasa. Sehingga tenggorokanku terasa serak mirip orang terkena radang tenggorokan. Tapi anehnya kok laris dan sampai banyak yang ngantri yach??. Jadi bingung nich. Yang tak kalah aneh ternyata sang sopir tidak menyadari kalau baksonya banyak formalin dan kebanyakan michin. Ealahhhh.. Kudu lebih sering-sering melatih lidah lagi ya mas sop.

Outbound Magelang (lagi)

Diarsipkan di bawah: petualangan — masibnu @ 7:56 am

Setelah sukses dengan acara Islamic Outbound, kini panitia setempat kembali mengundang kami untuk kembali mengisi Islamic Outbound. Acara yang diadakan bertepatan dengan awal tahun baru masehi ini diadakan sebagai bentuk upgrading bagi pengurus dan anggota FOSMA (Forum silaturahmi Majelis Taklim) se karesidenan Kedu.

Saya yang kebagian job mengkonsep rangkaian games yang akan dilaksanakan kaget bukan kepalang, informasi dari panitia setempat jumlah peserta kurang lebih 30 orang, tetapi 2 menjelang keberangkatan tim rombongan dari semarang, panitia mengabari jumlahnya bisa melonjak menjadi dua kali lipat. Padahal peralatan yang disiapkan hanya untuk 30 orang nich, disamping itu jumlah tim yang berangkat “cuma” 3 orang (“cuma” begitu kata salah seorang panitia pada kami).

Perjalanan bertiga dengan mobil menjelang tahun baru memang membuat ilfill, MACET. Ah mendingan saya tidur untuk persiapan energy sambil berharap mimpi indah :) lagian tubuh rasanya butuh istirahat setelah pagi sampai siang pergi ke Salatiga. Peserta yang kebanyakan berasal dari pengurus masjid begitu antusias mengikuti gelaran acara yang berlangsung 2 hari 1 malam tersebut.

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.