Edisi perdana pasca menggenapkan separuh dien ….
Apakah bayangan yang ada dalam benak ketika mendengar sepatah kata TA’ARUF mengiang di telinga kita? bayangan proses “perkenalan” 2 orang yang sebelumnya tidak kenal… untuk lebih mampu mengenal lawan “maen”nya.
Ops…. Tulisan ini bukan bermaksud mengupas sisi “pra” tersebut, tetapi kiranya manusia bukanlah makhluk statis, yang senantiasa sama seiring berlangsungnya waktu. Tetapi manusia adalah makhluk yang mampu berubah, dinamis seiring berkurangnya jatah usia.
Sehingga proses “Tak Kenal Maka Tak Aruf” akan berlangsung sepanjang hayat.
Begitu pula ketika baru memasuki jenjang pernikahan. Manusia yang sebelumnya asing, kini menjadi teman tidur, teman makan (sepiring berdua), teman bercerita, bahkan teman hidup. (dalam bahasa Jawa adalah GARWO = Sigarane Nyowo*). Akan banyak terjadi “penyesuaian” dengan adanya orang “baru” dalam hidupnya. bagi seorang akhwat, tanggung jawab sepenuhnya yang awalnya milik orang tua, kini berpindah tangan menjadi milik suami, begitu pula bagi seorang ikhwan, tanggung jawab akan bertambah dengan hadirnya seorang akhwat “baru” yang mengisi hari-hari dalam hidupnya.
Sikap berusaha saling memahami dan saling menerima kelebihan dan kekurangannya kiranya menjadi salah satu senjata ampuh untuk mengurangi jurang yang terjadi….
“Jika aku merasa nyaman dalam pelukmu adalah suatu kesalahan, aku akan melakukannya lagi..
Jika menciummu adalah suatu dosa, aku akan selalu melakukannya lagi…
dan jika Allah telah menuliskan aku menjadi istrimu saat ini, aku berharap tinta takdir telah kering, agar aku senantiasa berada disisimu selalu suamiku,.. selamanya…….
Aku Mencintaimu Apa Adanya”
To Be Continu
*Sigarane nyowo = belahan jiwa,
