Berbagi Cerita

Januari 17, 2008

kisah Israiliyat

Diarsipkan di bawah: kisah sarat makna, ruhiyah — masibnu @ 7:36 am

pagi hari ini, dapat nasehat dari seorang ustadz tentang ayat ini :

Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri[578] yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu[579], di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. (Al A’rof :163)

(maaf bukan merupakan sebuah tafsir, hanya korelasi dengan zaman sekarang ini)

maka imajinasi saya langsung tertuju pada sebuah kondisi yang akhir-akhir ini kelihatan lebih “enak”. jika dibanding masa-masa yang lalu, lebih mending hari ini. semua memang ujian. jikadalam kisah Isroiliyat tersebut Allah menguji Bani Israil dengan mendatangkan ikan-ikan yang banyak pada hari Sabtu sehingga sebagian diantara mereka banyak yang meninggalkan pergi ke Tempat ibadah pada hari Sabtu, dan lebih memilih mencari ikan.

sungguh Allah akan menguji hambanya dengan semua fasilitas, baik itu keberadaan fasilitas atau ketidak adaan fasilitas tersebut. maka mari kita lihat kondisi sekarang, banyak diantar kita yang semakin luntur keimanan ketika banyak fasilitas duniawi. menjadi aktivis saat masih kuliah, tetapi ketika lulus kuliah lupa akan aktivitasnya. menjadi penggerak keislaman saat belum mendapat pekerjaan yang “layak”, tetapi tak sedikit yang lupa akan perannya setelah mendapat pekerjaan yang “menyenangkan”. aktivis tak kenal lelah saat masih lajang, saat telah berkeluarga menjadi nomor ke sekian kalinya aktivitasnya, rajin mengaji dan ikut majelis taklim saat masih “nganggur” tetapi tak terlihat keberadaannya saat disibukkan dengan kerja, tak ada waktu luang, kilahnya. dan lain sebagainya yang sejenis.

apakah untuk urusan Akhirat kita perlu memilih dan mencari waktu luang kita?, bukan kita yang meluangkan waktu?.. Astaghfirullah…

maka tak menutup kemungkinan, ketika pintu-pintu dunia dibukakan dengan sangat luas banyak diantara kiat yang seakan LUPA ibadahnya. tak seperti perjuangan saat masih susah, saat fasilitas harus pontang-panting untuk memenuhinya. justru saat seperti itu rasa tawakal kita akan sangat kuat kepada Allah. maka benarlah sebuah kabar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam

“Bergembiralah dengan apa yang kalian senangi (harta ). Demi Allah sesungguhnya bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi aku takut jika dunia dibukakan atas kalian sebagaimana dibukakan atas ummat sebelum kamu lalu kalian berlomba-lomba memperolehnya, sebagaimana orang-orang dahulu telah berlomba, lalu dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana orang dahulu hancur karenanya.”

dilanjutkan pada ayat selanjutnya

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu[580], dan supaya mereka bertakwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik( Al A’rof :164 – 165)

dalam tafsir Qurthubi disebutkan (dengan teks saya sendiri), bahwa Ibnu Mas’ud menjelaskan kondisi bani Israil yang terbagi dalam 3 kelompok, yang pertama tetap pergi ke laut mencari ikan pada hari sabtu, kedua tetap beribadah tetapi mengabaikan saudaranya yang tetap pergi ke laut mencari ikan, dan ketiga beribadah serta beramar ma’ruf nahyi munkar.

maka ketika kelompok ketiga ditanya oleh kelompok kedua

“Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”

jawaban yang muncul adalah “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu”.

masyaAllah…

maka Allahpun menyelamatkan orang2 kelompok ketiga dan mengadzab dua kelompok sebelumnya dengan menjadikan mereka kera yang hina.

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina[581].” (al A’rof 166).

maka ketika dibangkitkan kelak Allah akan melihat kondisi 2 kelompok tersebut berdasarkan amalnya masing-masing.

Allahu a’lam bish showab

 

[578]. Yaitu kota Eliah yang terletak di pantai laut Merah antara kota Mad-yan dan bukit Thur.
[579]. Menurut aturan itu mereka tidak boleh bekerja pada hari Sabtu, karena hari Sabtu itu dikhususkan hanya untuk beribadat.

[580]. Alasan mereka itu ialah bahwa mereka telah melaksanakan perintah Allah untuk memberi peringatan.

 

[581]. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa ini sebagai suatu perumpamaan , artinya hati mereka menyerupai hati kera, karena sama-sama tidak menerima nasehat dan peringatan. Pendapat Jumhur mufassir ialah mereka betul-betul beubah menjadi kera, hanya tidak beranak, tidak makan dan minum, dan hidup tidak lebih dari tiga hari.

 

 

September 4, 2007

Ridha itu…

Diarsipkan di bawah: kisah sarat makna — masibnu @ 7:18 pm

Ahli Sirah menceritakan bahwa ‘Urwah bin Zubair diamputasi kakinya dari pahanya. saat itu belum ditemukan obat bius dan tidak ada dokter, melainkan dengan gergaji. pahanya dipotong dengannya sebagaimana kayu digergaji.

mereka berkata kepada ‘Urwah bin Zubair saat hendak memotong betisnya :

“maukah engkau bila kami beri minum Khamr, karena tiada yang dapat menenangkan akalmu dari kesadaran selain Khamr”

‘Urwah bin Zubair menjawab “Apakah aku harus menghilangkan akalku sesudah Allah memberiku akal? Tidak, jangan kalian lakukan itu. akan tetapi, bila aku mulai masuk dalam shalatku, potonglah kakiku, karena sesungguhnya aku, InsyaAllah, tidak akan merasakan sakitnya.”

Urwah bin Zubair berwudlu dan mulai shalat serta bermunajad kepada Allah. merekapun mulai mengamputasi bagian kakinya yang sakit yang tak dapat disembuhkan. Urwah bin Zubair pun pingsan selama beberapa jam. lalu mereka mencipratkan air ke wajahnya.

apakah yang dikatakannya setelah ia sadar dari pingsannya?

sesungguhnya ada seseorang yang berkata ketika ia mulai sadar dari pingsannya :

“Wahai ‘Urwah semoga Allah membalasmu dengan pahala yang terbaik karena musibah yang menimpa kakimu dan semoga Allah membalasmu pula dengan pahala yang terbaik karena anakmu yang meninggal dunia sebab ditendang oleh hewan tunggangan milik Al Walid ibnu ‘Abdul Malik”

‘Urwah berkata : “Yaa Allah hanya milik_Mu lah segala puji. Jika Engkau mengambil, maka sesungguhnya Engkau telah memberi. Jika aku mendapat cobaan, maka sesungguhnya selama ini aku telah diberi kesehatan. Engkau telah memberiku empat orang anak laki-laki, lalu Engkau hanya mengambil seorang dari mereka. Engkau telah memberiku empat buah anggota tubuh, tetapi Engkau hanya mengambil salah satunya. maka hanya bagi_Mulah segala puji hingga Engkau Ridha. Bagi_Mulah segala puji apabila Engaku ridha dan bagi_MUlah segala puji sesudah Engaku Ridha”

selanjutnya ‘Urwah bersyair :

demi usiamu, aku belum pernah menjulurkan telapak tangtanku untuk

berbuat dosa dan kakiku belum pernah membawaku pada

perbuatan keji

pikiranku belum pernah tertuju padanya

dan pandanganku belum pernah melirik padanya

begitu pula pendenganran dan akalku

tidak pernah menuntunku padanya

aku yakin tiada suatu musibahpun

yang menimpaku dari Allah

melainkan pernah pula dialami oleh orang lain sebelumku

ucapan seorang mukmin hanyalah firman Allah

Sesungguhnya kami hanyalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada_Nyalah kami akan kembali (Al BAqarah : 156)

Ampunan itu…..

Diarsipkan di bawah: kisah sarat makna — masibnu @ 7:36 pm

amp2.jpg

dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa dahulu pernah ada seorang laki-laki yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri karena banyak melakukan dosa-dosa. setelah tanda-tanda kematian datang menjemputnya, ia berpesan kepada anaknya

“jika aku meninggal dunia, kumpulkanlah kayu bakar buat diriku, lalu bakarlah mayatku dan tumbuklah abuku hingga lembut, lalu taburkanlah ia bersama angin”.

sesungguhnya laki-laki ini mengira bahwa dengan perbuatannya itu Allah tidak akan dapat menghidupkannya kembali untuk menanyai dosa-dosa yang telah dilakukannya, padahal Allah yang Maha Suci telah berfirman dalam kitabNya

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “IA akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali pertama da Dia Maha Mengetahui tentang segala Makhluk” (Q.S. YAASIN : 78-79)

setelah lelaki itu wafat, anak-anaknya menunaikan wasiatnya. selanjutnya Allah menanyainya

“Hai hamba_KU, apakah yang mendorongmu melakukan hal tersebut?” IA menjawab “Wahai Tuhanku, aku takut kepada_Mu dan khawatir akan dosa-dosaku yang banyak.” Allah berfirman ” HAi para malaikat_Ku, saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya Aku memberikan ampunan baginya dan memasukkannya ke dalam surga.” Dalam teks lain disebutkan “Aku mangampuninya” (diketengahkan oleh bukhari no.3406 dan muslim no.6930 melalui Abu Hurairah).

Ampunan itu, mutlak Kehendak Allah. semoga membawa manfaat…..

Blog pada WordPress.com.