Berbagi Cerita

Desember 21, 2009

Nilai

Diarsipkan di bawah: Renunganku, lebih serius — masibnu @ 7:17 pm

Jika teringat masa sekolah dahulu, mungkin kita akan sangat bangga jika memperoleh nilai sempurna atau nilai tertinggi di kelas. Bahkan bisa jadi dengan modal nilai tertinggi tak jarang akan menjadi modal untuk bersikap takabur.Bisa jadi nilai yang diperoleh mencerminkan kemampuan seorang siswa bisa jadi pula nilai yang diperoleh merupakan nilai “manusiawi”. Sebagaimana cerita seorang guru yang mempunyai pengalaman mengajar di sekolah yang terkenal kelas “buangan” bagi para siswa. Bukan hanya “buangan” dari segi kecerdasan, tetapi juga “buangan” dari segi akhlaqnya. Tetapi kebijakan yang diambil oleh sekolah memberikan nilai A dan B kepada hampir seluruh siswanya.

Jika memang demikian, kiranya siapa yang lebih patut untuk disalahkan?. Apakah memang standart “benar dan salah” bagi ummat manusia telah mengalami pergeseran?. Bukankah yang dinamakan kebenaran adalah jika setiap manusia bertanya pada hati nurani yang paling dalam akan mengatakan itu perbuatan benar. Dan jika seorang manusia melakukannya tidak ada secuilpun perasaan takut dilihat orang.

Kiranya kesalahan memang tidak hanya bertumpu pada pihak sekolah yang memang mendapat “jatah” murid yang kelas buangan, sehingga harus berusaha sekuat tenaga agar siswanya “baik”. Tetapi terkadang tuntutan terhadap standart yang dibuat seakan mengharuskan berbuat seperti itu. Ataukah disisi lain sang siswa hanya melaksanakan “tes” hanya sekedar menjalankan sebuah kewajiban sebagai seorang murid. Toh nantinya nilai akan “dibuat” oleh dewan guru. Bukan motivasi memperoleh nilai terbaik.

Terlepas dari itu semua, kiranya ketika masih hidup di dunia ini, banyak “nilai-nilai” yang belum bisa mencerminkan keadaan obyektif sang pemilik nilai. Manipulasi dan rekayasa seakan sudah bukan barang tabu. Bisa diutak-atik, direvisi, dimanipulasi. Tetapi jika sudah berhubungan dengan “nilai” disisi Allah, maka tidak ada lagi urusan utak-atik, revisi, manipulasi.

Segala yang telah diperbuat manusia akan mendapatkan nilai disisi Allah. Baik nilai plus atau nilai minus. Nilai plus tentunya dalam bahasa kita adalah nilai yang diberikan sebagai “upah” bagi kebaikan yang dilakukan, begitu pula nilai minus diberikan sebagai “balasan” atas keburukan yang diperbuat.

Sehingga bagaimana upaya seorang manusia untuk mendapatkan nilai plus atau bahkan nilai paling baik disisi Allah merupakan sebuah usaha yang butuh pengorbanan. Bukan hanya sebagai penggugur kewajiba seorang “abdi” kepada “Majikan”, tetapi memberikan yang terbaik sekuat dan seoptimal mungkin. Tentunya hal ini harus sesuai dengan keinginan “Sang Majikan”. Bukan hanya atas dasar motivasi ingin memberikan yang terbaik sekuat tenaga tetapi dalam perspektif Majikan justru akan membuat kerusakan. ….

Desember 18, 2008

Ajari Aku !

Diarsipkan di bawah: lebih serius — masibnu @ 7:07 am

Betapa susah ketika hidup diantara dua pilihan yang sulit, bahkan bagi seorang yang berusaha melalui jalan terjal setapak demi setapak. Jika tidak lagi pandai-pandai membagi waktu, terasa menelantarkan anak dan istri, menelantarkan kebutuhan refreshing mereka.

Begitu mudah ketika menyampaikan tema-tema “Management Waktu”, kenyataannya tidak sedikit diantaranya justru “keblondrok” oleh ucapannya sendiri.  Mengkritik rekan-rekannya agar tetap menanamkan disiplin dalam setiap pertemuan, tetapi seiring berlangsungnya waktu justru ucapan tersebut menimpa diri sendiri.

Muncul pula sebuah ucapan tugas sebulan dengan 2 hari hakekatnya sama, dikerjakan menjelang batas akhir. Tak pelak lagi sebuah deadline untuk memacu kinerja dibuat agar dapat dilaksanakan sesuai target. Kenyataannya?? Deadline  tinggallah kata sepakat tanpa bukti nyata.

Ajari aku !, ajari aku menjadi seorang muslim yang sholih, ajari aku menjadi seorang “pendidik” yang telah melakukan yang disampaikan, ajari aku menjadi seorang qowwam bagi keluarga, ajari aku menjadi seorang suami yang perhatian namun tetap tegas bersikap.  Ajari aku melaksanakan disiplin. Ajari aku tentang kehidupan.

Mei 20, 2008

Masa Depan Ditangan Islam

Diarsipkan di bawah: lebih serius, petualangan — masibnu @ 7:18 am

Pertempuran dan pertarungan antara Al Haq yang diwakili oleh Islam dan Al Bathil yang diwakili USA dan kroni-kroninya telah, sedang dan akan terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat. dan Semua pertempuran akan menghadirkan sang pemenang dan sang pecundang. Bagi kaum Muslimin, Tak ada lagi keraguan, bahwa Kemenangan ada ditangan Islam. Islam akan kembali muncul sebagai pemenang. detik-detik kehancuran USA dan antek-anteknya yang di komandoi oleh Mr. Drakula bin Monster G.W.Bush* mulai terlihat. Bahkan batupun di akhir zaman akan berbicara pada ummat Islam jika di baliknya terdapat kaum yahudi, agar umat Islam menghabisinya. so segera bersiap menyambut datangnya fajar kemenangan.

Akankah kita hanya jadi penonton yang ikut bersorak ketika Tim yang “digemari” memperoleh kemenangan?? dan menyalahkan ketika mendapat kekalahan?? atau bahkan (nau’dzubillah) kita ridlo dengan keadaan ketertindasan kaum muslimin saat ini??. tidakkah mempunyai setitik hasrat ikut ambil bagian (walaupun hanya sekeping kecil) dalam “kereta” menuju kemulyaan Islam dan kaum Muslimin.

Ikuti ulasan dalil-dalilnya yang disertai data-data yang akurat tentang bibit-bibit kehancuran USA dan yahudi dalam rangkaian Spiritual Transformation 2008 IV oleh pakar Penulis Buku-buku Akhir Zaman Abu Fatiah Al Adnani, Ahad 25 Mei 2008 di Masjid P. Diponegoro Tembalang Semarang pukul 08.30 Thet.

Don Mis It !!

* meminjam istilahnya seorang ustadz yang sedang Kholwah

November 19, 2007

Istiqomah

Diarsipkan di bawah: Renunganku, lebih serius — masibnu @ 7:17 am

alangkah mudah mengucap satu kata ini. begitu mudah mengharapkan orang lain ber_istiqomah saat kita sedang berada diatas. ketika sedang terpuruk seakan lupa akan omongan kita,…. astaghfirullah…

Rasulullah pun mewanti-wanti, sebuah amalan yang paling berat untuk dilaksanakan adalah istiqomah, tidak perlu “bernafsu” beramal sebanyak-banyaknya lalu mlempem di hari berikutnya, tetapi sedang dan istiqomah lebih dicintai dari pada banyak lalu drop!. lebih baik banyak dan istiqomah… hmm

istiqomah, yaa istiqomah, menjadi salah satu indikasi keikhlasan seseorang dalam beramal, sekali lagi indikasi, bukan berarti yang tidak istiqomah tidak ikhlas. toh keikhlasan itu hanya Allah yang tahu.

dalam sebuat riwayat (maaf karena tidak hafal teksnya, hanya penggalan intisari saja) ke_istiqomahan seseorang dalam beramal dapat di ukur jika manusia telah mengamalakan secara berturut-turut selama 40. beberapa pendapat mengenai 40 ini adalah semala 40 hari, ada juga yang 40 kali. toh semua pendapat mengindikasikan kontinyuitas kita dalam beramal.

so,…

kembalilah meniti dan mengoreksi akan keistiqomahan kita. semoga dengan istiqomah amal kita akan sampai di hadapan Allah.

* : dalam sebuah renunganku, rapat “team” yang hanya dihadiri  20 % anggota.

November 14, 2007

setangkai mawar mekar

Diarsipkan di bawah: Renunganku, lebih serius — masibnu @ 7:50 am

What’s your perception?

mawar.jpg

tanyalah apa yang menderamu,

saat setangkai mawar merona

dihadiahkan hanya untukmu,

dicium dengan lekat,.

dimasukkan dalam lemari kaca hatimu

lihatlah pula

rona wajahmu,.

merona laksana mawar mekar


–^_^–


Cukup Sobat,…

aku bukanlah manusia pecinta

yang lihai merangkai helai demi helai kata

tetapi..

bukan untuk itu sobat.

setangkai mawar kuhaturkan

 

what’s your perception?

mungkin inilah sedikit persepsi kita,..

1. Mawar merah : indah, harum, merah merona, simbol ungkapan cinta manusia

ingatlah, begitu banyak jenis mawar yang lain, tidak hanya berwarna merah, ada biru, putih. mengapa hanya yang berwarna merah yang mampu melambangkan sejuta rasa? apakah hanya simbol merah yang dikaitkan dengan kekuatan, petualangan, kehangatan, gairah, dan rasa optimis. ancaman,bahaya,

lihatlah dan saksikanlah, petualangan para pecinta (entah untuk apa dan siapa cinta tersebut), memenuhi gelora hatinya, mengisi relung-relung hatinya yang telah kosong karena telah dicuri oleh cinta, berusaha menimbun nafas-nafas cinta dalam alveolus. lihatlah petualangan yang penuh optimis, penuh semangat, dilandasi keyakinan akan kekuatan dirinya sendiri.

dan. jangan dikesampingkan sobat, jika petualangan dan gairah cintamu hanya untuk dunia fana yang indah menipu, niscaya akan binasa dan takkan pernah beruntung selamanya, ada bahaya, dan ancaman. siksaan yang tak pernah kunjung padam untuk selamanya.

2. mawar, harumnya ketika mekar.

sobat, harumnya mawar kan kau temui saat ia benar-benar telah memamerkan kelopak-kelopaknya, takkan pernah kau rasakan harumnya mawar saat kuncup.

saat sang mawar memamerkan kelopaknya, laksana permata merah, penuh daya pikat, berjuta hasta ingin memetiknya.

tetapi lihatlah ada duri disana yang senantiasa melindungi. takkan sembarang tangan mampu memetik dengan sempurna, hanya mereka yang lihai dan beruntung yang mampu memelihara merahnya mawar.

“bukankah sang mawar senantiasa melindung diri dengan duri, yang takkan setiap tangan leluasa memetiknya?, dan takkan rela dipetik sebelum mekar merona, takkan banyak berfaedah ketika masih dalam kungkungan kuncup. takkan rela dipetik sebelum cukup “bekal” untuk menjadi yang berfaedah”.

3. lihatlah……

begitu banyak manusia terpana hanya dengan melihat sepintas warna merah merona yang kau sandang, langsung jatuh hati ingin memetiknya saat pertama melihat mawar yang bermekaran.

lihatlah pula sobat, jika mawar telah dipetik dari tangkainya, takkan lama bertahan kelopaknya, hanya dalam hitungan hari akan berguguran helai demi helai. mengapakah kebanyakan menusia memetik mawar hanya terpana warnanya yang merah merona, mengisyaratkan cinta, tanpa melihat lebih seksama, makna dan hakekatnya?, dan mengapa begitu berhasrat memetik sang mawar hanya dengan sekali hirup aroma mawar…..bukankan pula aroma kan usang dan hilang seiring pudarnya warna dan rontoknya kelopaknya.

lihatlah dengan seksama akan hakekat dan makna yang terkandung, niscaya akan mampu bertahan selamanya,……

4. lihatlan pula,..

ketika sang mawar dipetik ternyata bukan sebagai ungkapan cinta manusia, tetapi untuk menemani sang petualang yang telah selesai berpetualang mengarungi rimba dunia belantara. telah kembali berpulang mengiringi bekal abadi, sebagai peneman gundukan tanah merah, pembaringan terakhir sebelum bangun untuk selamanya mempertanggung jawabkan segala petualangannya,

hanya sebagai peneman. sobat…………

 

this is my perception :

(minimal untuk saat ini)

MAWAR : MANIS TETAPI BERDURI

lihatlah sekelilingmu wahai kawan, niscaya kan kau temui gelagat manusia yang beraneka warna tindak tanduknya, tak sedikit mereka menawarkan bantuan dengan sangat manis, hakekatnya banyak duri yang siap menghujam dalam sanubari.

a. jangan terlena sobat,

banyak pujian yang kan melenakan perjalanan panjangmu, petualanganmu. Pujian yang terkesan manis dan amat manis, membuat manusia seakan terbang tingi di angkasa laksana sang rajawali, siap menerkan mangsa dengan kekuatannya, hanyalah sebuah fatamorgana yangmampu menggelincirkan manusia. manis tetapi sangat berduri. bahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan agar melempar dengan pasir manusia yang sedang memujimu. amat hati-hati dengan pujian sobat.

b. banyak aliran dan faham yang menyesatkan yang terkesan manis, tetapi sangat berduri, salah satunya dalah JIL (Jaringan Iblis Laknatullah). manis, dengan mengandalkan logika berfikir, menafsirkan Ayat AlQur’an dengan Ro’yunya semata, semau gue. manis dan nikmat. telah merubah fungsi akal sebagai jala memahami ayat-ayat yang Qoth’i menjadi Ilah yang diagungkan. manis, dan manis, banyak berhamburan harta dan kekayaan yang berasal dari musuh-musuh Dienullah. tetapi sakit sobat, amat sakit. tak lagi menganggap Muhammad sebagai Rasulullah, karena setiap manusia yang mempunyai otak bisa dan boleh manafsirkan ayat, menafikan para sahabat yang telah Allah janjikan surga….

c. begitu pula banyak di antara kaum muslimin yang begitu manisnya, mengajak manusia untuk ikut berpartisipasi dan bergabung dalam “HIZB” nya, kelompoknya atau partainya, bukan mengajak kembali pada dien yang benar yang di fahami para salafush sholih.
memang, di lapangan banyak yang menggunakan bahasa dan slogan “kita akan kembali pada pemahaman yang benar, sesuai pemahaman para Shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in”.
Tetapi lihatlah sobat, ketika mereka kecewa dan sangat gusar lantaran manusia yang menjadi “target”nya mengaji pada “tempat” lain. berusaha menimba ilmu dari tempat lain, atau bahkan menghalangi dan melarang “berguru” di tempat lain tersebut. na’udzubillah. manis sobat, begitu manis, dengan iming-iming akan memperjuangkan dienullah, berusaha merekrut masa sebanyak-banyaknya, tetapi (mungkin) ada setitik niat tersembunyi, agar bisa melanggengkan posisinya di “kursi” empuk yang ber AC. sangat berduri sobat, sangat berduri. banyak fitnah yang mendera. apakah ada dalam sejarah, memperjuangkan dienullah dengan orientasi masa?, bukankah perjuangan senantiasa berorientasi Ridlo Allah. titik. terserah sedikit atau banyak yang ikut, toh menang atau kalah akan menjadi manusia sukses dalam perjuangan…

sekali lagi

what’s your perception?……

September 18, 2007

Datang tak diundang, pergi tanpa permisi

Diarsipkan di bawah: lebih serius — masibnu @ 7:23 am

ishbiri-ya-ukhti.jpg

ujian Allah datang tak pernah meminta ijin manusia, dan pergi hanya berlalu begitu saja, sesuai kehendak Allah. jika telah sampai pada batas waktu yang ditentukan ujian akan dicabut oleh Allah dan akan diganti dengan ujian lain sehingga seorang muslim akan semakin tinggi derajadnya disisi Allah dengan adanya ujian yang bertubi-tubi. “inna akromakum ‘indAllahi atqokum”. atau dengan ujian tersebut seorang muslim akan semakin terkikis habis dosa-dosanya yang tak mampu dihapus dengan taubat kepada Allah saja. manusia tingal memilih sikap terhadap ujian, semua ujian telah menjadi “paket” hidup manusia.

kembali kita diingatkan akan ujian Allah atas hambanya, hadirnya anggota keluarga baru membawa ujian tersendiri.. semoga dengan ujian ini mampu mencapai derajad yang lebih tinggi yang tidak akan dilalui oleh setiap manusia.

Tingkatan sikap manusia terhadap Ujian Allah:

1. Senantiasa mengeluh dan menggerutu. sikap yang tidak pernah ridho terhadap ujian Allah, baik mengeluh secara lesan ataupun perbuatan. menganggap seolah-olah Allah tidak adil dengan ujian yang ditimpakan_Nya. Na’udzubillah min dzalik. atau berkata dengan “pertanyaan” yang tidak pantas diucapkan seorang muslim menghadapi ujian Allah “Yaa Allah Apa dosa saya sehingga Engkau menimpakan ini semua”. sesungguhnya koreksi terhadap dosa lebih bermanfaat dari pada melontarkan perkataanyang tidak pantas tersebut. tiada manusiapun di dunia yangtidak berdosa kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bahkan setiap saat manusia bisa melakukan dosa baik itu dengan hati, lesan atau perbuatan.

2. sabar. sifat yang mulia yang terkadang tidak bisa dijalani manusia kecuali dengan adanya “pemaksaan” sehingga akhirnya setiap muslim akan merasakannya. toh jika manusia tidak bersabar ujian itu telah dan pasti terjadi, lebih baik memilih sabar sehingga mandapat imbalan dari Allah dari pada sikap menggerutu. Sabar pilihan yang sikap yang bijak. sungguh menakjubkan seorang muslim, jika diberi nikmat dia bersyukur dan jika ditimpa musibah dia bersabar. dua sifat yang membawa keberuntungan.

3. Syukur. Bukan hanya ketika mendapat nikmat, rasa syukur terpanjat kepada Allah. ketika mendapat ujian dari Allah rasa syukur yang dihaturkan. bukankan semua telah menjadi Qodlo’ dan Qodar Allah?

4. Ridlo. Tingkatan tertinggi yang dicapai manusia. bukankah setiap manusia tidak mempunyai “hak” atas dirinya sendiri? setiap manusia dan segala yang melingkupinya adalah milik Allah. seluruh fasilitas manusia dipinjamkan Allah, jika Allah mengambilnya tiada sedikitpun manusia berhak memprotesnya. Ridlo dengan ujian Allah akan membawa pada tempat tertinggi di hadapan Allah. bukankan setiap pagi dan petang telah dianjurkan membaca do’a Radhiitu billahi Rabba wabil islaami diina wabimuhammadinnabiyya wa rasulan. Allahu a’lam bish showab

September 13, 2007

“Road Show” Gempa

Diarsipkan di bawah: lebih serius — masibnu @ 7:43 am


Rentetan gempa melanda negeri “Subur Makmur Rakyat Nganggur” ini,

mengapa justru menjelang datangnya Ramadhan Allah menimpakan rentetan gempa ini?? siapa yang berdosa (Semua orang Indonessia BUNG!!!) Apa hikmah dibalik semua ini

ini data rentetan gempa menjelang Ramadhan tahun ini

1. 10 September pukul 06.30 WIB

lokasi : situbondo JAtim (4,5 SR)

2. 11 September pukul 11.36 WIB

lokasi : Barat daya Kalianda Lampung (4,9 SR)

3. 12 September pukul 08.55 WIB

lokasi : Timur Laut jayapura (5,0 SR)

4. 12 September pukul 15.12 WIB

lokasi Timur laut Dili, timor leste (4,8 SR)

5. 12 September pukul 17.20 WIB

lokasi BArat daya FAk-fak Irian BArat (4,5 SR)

6. 12 September pukul 18.00

lokasi Barat daya Bengkulu (7,9 SR)

Sumber : Republika 13 september 2007

Peringatan Keras kembali datang dari Allah atas dosa yang diperbuat Masyarakat Indonesia, Terutama Kesyirikan yang jadi menu keseharian Rakyat Indonesia, Baik itu Syirik terhadap “makhluk hidup” atau syirik terhadap “benda mati”.

Ramadhan!!!! jadikan moment kembali kepada ampunan Allah….

Agustus 16, 2007

tetap manusia biasa

Diarsipkan di bawah: lebih serius — masibnu @ 7:54 am

kamis, tanggalnya dah lupa,. akhir bulan juli ‘07 Setelah mengikuti kajian syarh aqidah Thahawiyah setiap kamis pagi di sebuah masjid di ibu kota jawa tengah…., berbincang2 dengan ustadz tentang sebuah artikel yang saya peroleh di internet yang (menurut saya) lebih banyak pada nuansa politis dan misi terselubung.. (hehehe, ga tau ah). Sebuah artikel yang begitu asing di telinga… “Siapa bilang Ibnu Taimiyah Ahlus Sunnah??”. Yang dikeluarkan oleh Mbah Sastro di sebuah Situs Salafy Indonesia : http://salafyindonesia.wordpress.com. Sebuah artikel yang butuh kroscek lebih lanjut… tentunya sebagai sebuah artikel yang cukup membuat “geregetan”.

Memang benar tidak ada manusia di dunia ini yang lepas dari kesalahan dan dosa kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi bukankah cara yang ditempuh bukan dengan membeberkan kesalahan dan menolak semua kebaikan yang telah diperbuat oleh seseorang bahkan sekelas Ibnu Taimiyah. Setiap muslim yang benar akan langsung tanggap ketika sudah mulai disebut nama Ibnu Taimiyah. Kiranya jika mampu memunculkan ulama’ sekelas Ibnu Taimiyah zaman sekarang tidak akan mampu menyamai Ibnu Taimiyah asli. Bukankah semakin jauh zaman dari zamannya Rasulullah dan Para Sahabat maka akan semakin banyak penyimpangan dalam Dien Ini.

Mensikapi komentar Ibnu Taimiyah (dalam Artikel tersebut) tentang Shahabat Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘anhu, maka perlu diteliti lebih lanjut dalam kitab yang bersangkutan.. sehingga kita menilai dengan bijak. sumonggo bagi yang bisa dan mampu meneliti dan mengkroscek lebih lanjut dalam kitab2 yang disebutkan di artikel tersebut. dan jangan lupa kabarnya di beri tahu…

Kemudian berbincang2 dengan ikhwan2 tentang “amaliyah” khusus di lingkungan sebuah kampus di ibu kota jawa tengah juga …..tentang strategi yang akan dijalankan, faktor penyemangat, faktor penghambat, de es be, sampai komentar orang-orang yang terlibat di dalamnya atau bahkan orang-orang yang tidak secara langsung terlibat tetapi mempunyai peran yang cukup signifikan. (ah apa lagi ini).

dan,….sampai akhirnya obrolan santai pun berlanjut pada topik Nikah.. (ehm…) yach.. yach maklum kaum adam yang berkumpul sering juga obrolannya sampai juga di topik tersebut.

jadi deh ujungn2nya…. nanyain kapan nikahnya? hehehe halah siapakah saya.. (manusia pas2an) pas butuh sesuatu pas belum ada (hehehe). Mungkin merasa minder kali yeee….. tidak juga.. saya yakin jika sudah sampai saatnya kan datang juga bidadariku.. tentunya dengan dibarengi ikhtiyar. Bahkan sesuatu yang membuat muka agak memerah mirip pepesan gosong (kepanasan.. tuh pepesan gosong mah item….) adalah komentar seorang ikhwan yang secara spesifik ditujukan ke saya ”ane rencana nikah udah 2005 tapi jadinya nikah 2006, kalo antum bisa jadi mempunyai rencana menikah tahun depan tetapi ternyata sebelum ramadhan sudah menikah duluan. Langsung bilang sama ustadz pasti dicarikan yang sesuai” astaghfirullah.

saat itu justru pertanyaan yang muncul :”siapalah saya”
jawabnya pasti Manusia biasa.

 

Blog pada WordPress.com.