Episode kali ini adalah review dari acara Ahad, 13 April 2008 di MPD Tembalang, dengan mangambil tema Never Ending Sucses (hihi Mirip Buku Terbitannya Pro You, karya Mas Budi)…
walaupun acara dimuali agak telat sekitar 15 menit (coz pembicaranya telat datang, ada gangguan macet di perjalanan) acara tetap berjalan dengan lancar. dengan peserta yang sedikit berkurang dibanding tema sebelumnya Campur Tangan JIN di Alam manusia dan Misteri Sholat Subuh. dengan pembicara Ust Hanif Hardoyo (Mantan Presiden BEM FT UGM) yang mengupas masalah kesuksesan hakiki.
sedikit pengantar materinya
Ketika kita mendengar kata kesuksesan, maka masing-masing dari kita akan mempunyai persepsi yang beraneka ragam dalam memaknai kesuksesan tersebut. Tetapi hal yang senantiasa sama dalam setiap manusia adalah bahwa setiap manusia akan bersaha mati-matian untuk mengapai kesuksesan sesuai dengan yang dipersepsikan. Kesuksesan diibaratkan sebuah Piala bergilir yang menjadi rebutan setiap manusia yang berusaha meraihnya dengan berbagai cara, bahkan tidak jarang melalui cara-cara yang melanggar syariat.
Maka penting bagi kita bersama untuk kembali menengok ke belakang, sebelum terlanjur jauh kita melangkah dalam mengapai kesuksesan yang telah bersemayam dalam benak kita, kita bertanya pada masing2 diri kita “apa makna kesuksesan dalam hidup manusia”. Diibaratkan pemahaman yang benar tentang makna kesuksesan ini adalah sebuah tujuan, maka jika tujuan yang benar dan jelas, maka jalan yang diusahakan akan lebih mudah untuk diraba dan dilalui. Tidak sedikit kita jumpai dalam kehidupan sekitar kita manusia berlomba-lomba mengejar kesuksesan, mereka ngotot menghabiskan waktu mereka, siang dijadikan malam, malam dijadikan siang hanya untuk mengejar kesuksesan Tidak sedikit dari mereka yang terjatuh dalam lorong-lorong kegelapan lantaran terjebak dalam tipu daya duniawi, yang mau tak mau harus “bertransaksi dengan setan”. Hal ini disebabkan pemahaman yang perlu diluruskan tentang kesuksesan itu sendiri.
Pada dasarnya, kesuksesan merupakan milik setiap orang, tetapi persoalannya adalah tidak semua orang tahu bagaimana mendapatkan kesuksesan tersebut. Bahkan bukan hanya dalam mendapatkan kesuksesan, memaknai kesuksesanpun beraneka ragam.
Allah Ta’ala berfirman dalam Ali Imran : 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”.
Sudah menjadi sifat manusia bahwa mereka mencintai wanita, membangga-banggakan anak, menginginkan harta kekayaan yang melimpah, dan juga berambisi untuk memiliki kedudukan atau pangkat yang tinggi sebagai manifestasi dari eksistensinya diantara manusia lain. Kebanyakan manusia mempunyai orientasi kehidupannya hanya ditujukan untuk kehidupan duniawi. Bagaimana bisa memiliki harta kekayaan, rumah megah lengkap dengan segala perabotan yang serba wah, kedaraan mewah, wanita cantik, kursi jabatan dan kedudukan yang tinggi. Mereka merasa hebat dan sudah berhasil dengan sukses jika sudah memiliki itu semua. Walaupun pada hakekatnya nafsu tidak akan pernah merasa puas. Jika diibaratkan nafsu adalah ibarat meminum air lautan, semakin banyak kita meminumnya maka akan semakin merasa haus ditengorokan kita.
Bahkan pada saat sekarang ini pandangan masyarakat tentang kesuksesan hidup sudah keliru. Terbukti bahwa tolok ukur kesuksesan adalah jika manusia telah berhasil mengumpulan dunia dan menumpuk harta kekayaan. Sehingga tidak aneh jika kita menjumpai di kalangan remaja, memiliki cita-cita bisa masuk perguruan tingi yang terkenal, lulus cepat dengan IP tiga koma sekian, diterima di perusahaan bonafit bergaji besar, menikah dengan wanita cantik yang sudah menjadi dambaan hatinya, membentuk rumah tangga yang harmonis di huniah mewah, kemudian memiliki kendaraan yang membuat decak kagum manusia yang melihatnya, tiap akhir pekan tinggal manikmati kesenangan duniawinya bersama istri dan anak-anak yang menggemaskan sambil berlibur, dengan tetap menjalankan ibadah sholat (walaupun dengan sholat sendirian di rumah, itupun dilaksakan menjelang habis waktunya), puasa dan zakat di bulan ramadlan, kurban dan naik haji. Jika ada proposal kegiatan keagamaan tinggal “setor dana”. Seakan akan sudah cukup sebagai penebus harga surga di akherat kelak. Mengesampingkan banyak kelalaian dalam memikirkan Kondisi Umat Islam. Pertanyaannya “Apakah hal tersebut jelek?”.
Tetapi ternyata realita tak seindah bayangan. Ternyata diantara mereka hanya tinggal di rumah-rumah yang sederhana, dengan gaji pas-pasan (maksudnya pas butuh biaya pas di kantong belum tersedia), kendaraanpun warisan orang tua, kalau tidak bisa disebut “besi tua”. Atau kalaupun toh ternyata mampu memperoleh fasilitas duniawi, mempunyai kekayaan tetapi tidak mampu menikmati kekayaannya (misalnya dengan adanya penyakit yang menimpanya sehingga menurut anjuran dokter dinasehati agar meninggalkan beberapa makanan tertentu), takut dengan kekayaannya karena memikirkanya, takut kehilangan karena dicuri, dirampok. Para pejabat yang justru tersiksa dengan jabatannya, public figure dan orang-orang tenar yang senantiasa tereksploitasi kehidupan pribadinya sehingga setiap hari merasa tidak nyaman karena terlanjur jauh dicampuri kehidupan pribadinya, yang harusnya jadi privasi setiap individu mempunyai istri cantik rupawan bak bidadari turun dari surga tetapi bukan ketentraman yang didapat justru malah banyak menuntut untuk berusaha senantiasa tampil cantik walaupun itu dihadapan khalayak umum, sehingga banyak menimbulkan fitnah di sana sini.
bahkan ada pula pada titik ekstrim yang lain, ketika menganggap kesuksesan itu ada pada bersikap zuhud yang berlebihan sehingga meninggalkan fasilitas dunia. hidup dengan pakaian yang lusuh, makan dengan menggantungkan pada “bantuan” orang lain, tidak mau menikah, tidak mau makanan yang enak walaupun itu halal, semua dianggapnya sebagai bentuk ghulluw.
“Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kahidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan yang bermegah-megahan diantara kamu, serta membangga-baggakan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya membangggakan para petani, kemudian tanaman itu mejadi kering, kemudian menjadi hancur. Dan di akherat nanti adzab yang keras, dan ampunan serta keridlaan_Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (al Hadid 20)
Kunci rahasia kesuksesan hakiki adalah ketenangan dan ketentraman dalam hati yang membuat manusia mampu menikmati kehidupannya, itulah rasa yang pernah disampaikan oleh Ibnu Qoyyim dalam kata-katanya “Dalam hati ada kekusutan yang tidak bisa diuraikan kecuali dengan menghadap kepada Allah, ada juga kebuasan yang tidak akan terjinakkan kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah, di dalamnya da juga kesedihan yang tidak akan bisa hilang melainkan dengan kegembiraan mengenal Allah dan ketulusa berperilaku sesuai dengan ketentuaNya. Dalam hati ada juga kerisauan yang tak akan bisa ditenangkan kecuali dengan perasaan bersama denganNya dan kembali kepadaNya, di dalamnya ada juga api perasaan yang bergejolak yang tak akan padam kecuali dengan keredlaan akan perintah, larangan dan ketentuanNya serta mengarunginya dengan kesabaran hingga hari pertemuan denganNya, di dalamnya ada juga keinginan yang tak akan bisa terpuaskan kecuali dengan cinta dan kepasrahan serta mengingatNya terus menerus penuh ikhlash mengabdi kepadaNya, meski diberikan bumi seisinya keinginan tersebut tak akan pernah terpuaskan sama sekali”.
acara berakhir dengan penyerahan door price kepada yang berhak, berhubung yang mengajukan pertanyaan banyak tetapi waktu yang tidak memungkinkan, soo door price diberikan bagi mereka yang pertanyaannya dianggap lebih JOS. hehe…. ups door pricenya kurang satu … mana panitianya … tambah satu dunks…