Berbagi Cerita

Februari 24, 2009

Hidup Ini Terlalu Indah untuk Disesali

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:49 am

Jalinan hidup manusia adalah sebuah rangkaian puzzle yang susah untuk ditebak. Terkadang menjadi begitu rumit dan di lain waktu begitu mudah terurai permasalahan hidup. Di lain waktu pula sebuah episode hidup terkadang menjadi sebuah penyesalan yang tak kunjung berhenti. Epiode “terbodoh” yang dilakukan oleh seorang anak manusia. Yach begitu mudahnya untuk menyebut episode “terbodoh” yang dilakukan lantaran menurut perspektif manusia melakukan perbuatan yang tidak bernilai atau terkesan cenderung ceroboh.

Memang tidak perlu dipungkiri, kesalahan menjadi bumbu-bumbu penyedap kehidupan manusia. Toh tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan. Kesalahan menjadi pendidik paling berharga dalam kehidupan.

Masih segar dalam ingatan kita, masa-masa kecil, lantaran tidak membantu ibu mencuci piring, atau membantu ayah mencari rumput untuk makanan ternak, karena keasyikan bermain sepanjang hari. Lantas sore harinya mendapat teguran atau bahkan yang lebih keras dari itu “dimarahi” sang ayah. Dalam waktu seketika sang anak pastilah jadi ikut mangkel atau bahkan jadi ngambek lantaran dimarahi orang tua. Tidak tanggung-tanggung, bias jadi sang anak jadi ogah makan, ogah minum dan membiarkan dirinya kelaperan sepanjang malam. Sebagai bentuk “protes” meraka atas apa yang baru diterimanya. Bukankah masa kanak-kanak adalah masa bermain? Seandainya anak yang masih kecil telah mampu membantah.

Lantas bagaimana persepsi orang tua??. Sesuaikah dengan persepsi anak saat itu?. Bukankah teguran dan “marah” dari orang tua hakekatnya kembali untuk mengingatkan anaknya, agar tidak melupakan “membantu” orang tua.

Sepenggal kisah “sedih” tinggal meramu menjadi kenangan “manis”. Dengan sedikit merubah persepsi tentang hal itu. Bukan terbawa arus untuk menangisi berlarut larut hingga sebuah penyesalan tak kunjung henti. Toh orang tua yang meninggal tak kan kembali bangkit dan hidup kembali lantaran tangis sang anak selama sebulan penuh. Penyesalan yang tak kunjung henti takkan mampu merubah keadaan. Nasi yang terlanjur menjadi bubur bukanlah menjadi barang yang tak memiliki nilai guna. Tinggal menambahkan ayam dan bumbu-bumbu yang lain hingga menjadi bubur ayam yang lezat disantap dikala pagi.

Penyesalan tiada henti tak layak selalu dikumandangkan. Belajar dari kesalahan dan bangkit dari keterpurukan!. Bukankah penyesalan di dunia tak seberapa dibanding penyesalan di akherat???

Januari 19, 2009

Krisis Gaza dan Krisis Global

Diarsipkan di bawah: Renunganku, sharing — masibnu @ 7:43 am

Menilik langkah Yahudi Israel yang berangsur-angsur menarik pasukannya dari beberapa wilayah penting di Jalur Gaza, setelah sejak 27 Desember menggempur salah satu markaz HAMAS, yang mengakibatkan lebih dari 1200 orang meninggal dunia (semoga menjadi syuhada’). Berbanding dengan 13 “penjagal” Israel yang Tewas, memang menimbulkan sebuah pertanyaan besar dalam benak kita. Langkah mundur Israel tersebut diambil setelah Israel menyatakan telah terpenuhi “target” penyerangan ke Gaza.

Jika menilik lebih jauh tentang beberapa stategi Yahudi “menguasai” dunia dalam rangka mendirikan Israel Raya, sebagaimana dipaparkan dalam Akar Konflik Palestina-Israel, memang beralasan jika kita melihat dalam skenario global Yahudi.  Menilik krisis global yang mendera negeri “boneka” Yahudi, siapa lagi kalau bukan Amrik, dan mulai hancurnya kepercayaan dunia pada finansialnya, maka tidak menutup kemungkinan yahudi memunculkan intrik untuk mengalihkan perhatian dunia dari krisis global, salah satunya yaitu dengan penyerangan ke Gaza. Untuk mencari dalih penyerangan tersebut rasanya tidaklah sulit, mengingat Gaza merupakan salah satu markaz HAMAS, kelompok militan perlawanan Israel.

Ketika dunia mulai beralih perhatiannya kepada konflik Gaza, maka Yahudi mampu kembali “pasang kuda-kuda” untuk memperbaiki perekonomian ribawi yang sedang sekarat tersebut. Jika memang waktunya persiapan “pembenahan” tersebut telah dirasa cukup, pasukan ditarik dari Gaza. Hal ini terlihat pula dari reaksi VETO Amrik atas Resolusi DK PBB ketika penyerangan baru berlangsung beberapa hari. Disamping itu target penyerangan Israel tidaklah murni mecari “militan” HAMAS sebagaimana alasan yang dikemukakan oleh Israel. Jika memang memburu HAMAS, tayangan di media tidak pernah menukilkan militan hamas yang tertangkap, ditawan ataupun disiksa sebagaimana penyarangan AMrik atas Iraq.

so, Bagi kaum Muslimin, mari selalu waspada atas tipu daya Israel Yahudi.

Oktober 9, 2008

Mulai dari Nol lagi??!!

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:45 am

Mulai dari Nol lagi??!!

Demam lebaran memang begitu “menyihir” masyarakat Indonesia, khususnya Kaum Muslimin yang merasa memiliki Hari besar tersebut. Tak ketinggalan juga beberapa kalangan dari Non Muslim (baca : Kafir) ikut-ikutan mengucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1429 H Mohon Maaf Lahir dan Batin, sebagaimana yang saya lihat dalam Baliho besar yang di pajang di pinggir Jalan, di depan sebuah gereja mewah di Kota Semarang, dengan tulisan sebelumnya “segenap Warga Gereja Agung K*****k mengucapkan…. bla bla bla”.

Secara spontan ketika saya membaca tulisan tersebut lantas berucap pada teman disamping saya “Mereka telah murtad dari Agama K*****k nya”. Jika dalam Islam mengucapkan Selamat hari raya kepada Agama lain akan mampu jatuh pada derajad keluar dari millah. Tetapi karena saya tidak belajar tentang ajaran Agama K*****ktersebut maka dalam benak yang muncul sebagaimana aturan keluar dan masuknya dalam Islam *Maaf bukan berarti menyamakan ajaran Islam dengan ajaran K*****k tersebut. Al Islamu Ya’lu wala yu’la ‘alaih.

So, sebenarnya berapa banyak juga Kaum Muslimin yang sering keluar masuk agama Islam lantaran seringnya bersyahadat, dan dalam kesempatan lain melakukan ucapan, perbuatan atau bahkan i’tiqodi yang menjadikannya keluar dari Islam.

“Mulai dari Nol lagi yaaa….” Maka nilai amal baik manusia yang keluar masuk agama Islam tersebut tak ubahnya bunyi iklan tersebut. Saat dirinya keluar dari millah maka semua amal baiknya sejak kecil akan terhapus, tetapi amal buruknya akan terus berjalan dan di akumulasi. Saat ia kembali bersyahadat maka barulah dimuai dari Nol lagi hitungan amal baiknya.

Sebagaimana dalam sebuah riwayat, salah seorang Sahabat bertanya tentang perbuatan yang mengaibatkan manusia masuk neraka, padahal kebanyakan sahabat saat itu bertanya tentang amalan yang memasukkan manusia ke dalam syurga.

Kertas putih manusia setelah berlebaran, dan baru di tulisi dengan yang lebih bermakna (insyaAllah) akankah langsung terhapus kembali lantaran perbuatan yang menjadikannya keluar dari millah.

Allahu a’lam bish showab

September 23, 2008

Susah Menulis??

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:07 am

“Mas ibnu masih sering menulis?”
suatu ketika ‘patner’ di tempat kerja bertanya nyelonong aja.

“Nulis-nulis di blog, dan sudah punya rencana mau nulis buku”

“biasanya nulis tentang apa to mas?”

“yaa sesukanya, lagi pengin nulis tentang agama yaa tulis aja, pengin nulis keprihatinan hati tentang kondisi masyarakat yaa tinggal nulis, pokoknya apa yang saat itu sedang ada di benak”

“Lha gimana seh mas, caranya nulis?, sistematikanya, apa harus punya masalah trus nyari solusi dulu, baru ditulis”

“itu dah terlalu berlebihan, kalau saya selama ini ga manut pakem, sistematika penulisan, apa yang ada di benak yaa udah trus ditulis, lom mikirin bagus dan tidaknya, kalau baru mulai udah berfikir ntar tulisannya tidak bagus gimana??, bisa-bisa ga jadi nulis”.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ternyata menulis menjadi momok bagi sebagian besar orang. Saya masih teringat ketika zaman SD dulu dalam pelajaran Bahasa Indonesia setiap kali ujian catur wulan (dahulu masih menggunakan sistem catur wulan) pasti ada tugas mengarang. Baik itu mempersepsikan beberapa gambar yang ditampilkan dalam kertas ujian atau hanya disuguhi sebuah Tema saja.

Ketika melihat peradaban zaman pun tidak akan bisa lepas dari yang namanya TULISAN. Beberapa prasasti yang ditemukan di bumi Nusantara menandai berakhirnya zaman prasejarah, yang dimulai dengan tulisan juga.

Bahkan dalam sebuah cerita dari seorang teman dekat, dia tidak benar-benar mengetahui kepribadian ayahnya, bahkan hingga sang ayah meninggal sebelum dia ia menemukan buku harian yang ditulis oleh almarhum ayahnya. Semua berawal dari tulisan juga.

Nulis,. kok terkadang syusyah banget yach menuangkan isi benak?, apakah harus mempunyai hati yang lembut selembut hati seorang A Be Ge yang sedang Fall in Love, hingga tak terasa begitu mudah menggoreskan pena, hingga menghasilkan begitu banyak dan begitu panjang lebar tulisan untuk mengungkapkan perasaan yang berkecamuk di dadanya???

September 18, 2008

Alkohol di Prancis, Banci di Indonesia

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:28 am

Bagi penggemar sepak bola, rasanya jika melihat tayangan Liga Champion antara Marseille Vs Liverpool pasti melihat sebuah keanehan tersendiri. Kostum Liverpoll yang biasanya terdapat logo sponsor  Carlsberg saat itu tidak terpampang di kostum. Lha apa hubungannya??
dari berita yang saya dapat disini diketahui bahwa Prancis melarang iklan alkohol tayang di televisi.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri?? beranikah melarang hal sejenis tayang di televisi?, atau bentuk pelanggaran yang lain seperti yang saat ini sedang marak-maraknya, pelarangan BANCI nongol di televisi. Katanya Indonesia negara yang sebagian besar penduduknya Muslim. Lantas kenapa masih memperdebatkan pelarangan tersebut?? Orang-orang yang aneh.

Agustus 27, 2008

laksana burung ‘Emprit’ atau jadi Ular

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:39 am

“mas, saya itu seorang yang belum lama belajar agama, nah trus sekarang khan menjelang Ramadhan. padahal saya bekerja dengan membuka warung makan kecil-kecilan di pinggir jalan. buka tiap hari mulai jam 9 pagi sampai jam 6 sore. setelah jam 6 sore tersebut, lokasinya gantian dengan teman saya yang jualan nasi kucing. lha selama Ramadhan ini saya harus bagaimana?, apakah menutup warung saya, atau tetap jualan, atau tetap jualan dengan dijalankan oleh orang lain yang “tidak berpuasa” sedang saya sebagai pengawas saja”

sebuah pertanyaan yang jawabannya mudah, tetapi aplikasi dilapangan yang sangat susah. Di satu sisi sudah faham hukum makan di hadapan orang yang berpuasa, atau dalam kasus ini hampir serupa, menjual makanan saat orang berpuasa. Disisi lain tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki yang telah berkeluarga, bekerja mencukupi kebutuhan keluarganya.

Memang, setiap menusia dikaruniai rezeki oleh Allah dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian sebagaimana burung emprit, pagi keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, dan sore kembali ke sarang sudah dalam keadaan kenyang. Jika hari tersebut tidak keluar dari sarang maka tidak akan makan. Tetapi sebagian yang laen sebagaimana Ular, sekali makan dapat anak kambing, lalu istirahat selama sebulan sudah cukup.

jikalau yang ditanyain mempunyai kemampuan untuk menanggung biaya hidup si ikhwan yang bertanya selama sebulan, maka unutk menjawab, silahkan kamu tutup sebulan saja, dan fokuslah untuk menuntut ilmu, sambil mencari kerja yang laen” akan lebih mudah untuk diucapkan. Tetapi jika kemampuan menanggung biaya hidup itu tak ada, rasanya seperti dilema simalakama.

so, marilah berusaha melihat bagaimana para Shahabat dalam menyambut Ramadhan dengan tetap mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Kebanyakan para shahabat menghabiskan bulan Ramadhan untuk urusan akherat, bagaimanakah dengan diri kita??

April 19, 2008

Siang jadi malam, malam jadi siang

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:37 am

bismillah

ketika saya dahulu memutuskan untuk mengais maisyah diantara serpihan-serpihan Internet (hehe jadi satpam), maka ada sebuah asa yang senantiasa dipegang teguh. ketika jadwal mulai dibuat per shift, maka dengan banyak pertimbangan saya memutuskan untuk memilih jadwal shift pagi atau siang. dengan harapan ketika malam hari bisa berkativitas yang laen yang lebih bermanfaat untuk urusan ukhrowi.

tetapi ketika kesibukan bertambah dan bertambah, komitmen itu seakan mulai dipertanyakan. dengan adanya beberapa shift jaga malam (baik itu mulai ba’da maghrib atau mulai tengah malam sampai pagi), maka secara otomatis harus menggusur jadwal “istirahat dan rekreasi” saya.

mungkin risau hati (cieee) belum seberapa mengingat status yang masih “single”. bagaimana kelak jika sudah tidak “single” lagi…

seakan tergusurnya jadwal membuat beberapa perubahan yang ketika disikapi dengan lebih teliti membawa dampak yang cukup signifikan. BERUBAHNYA POLA HIDUP.

begitu pula ketika saya membandingkan antara kehidupan semasa Es Em A dengan semasa kuliah.

semasa Es Em A, tidur pukul 21.00 terasa sudah cukup larut malam (jika malam tersebut tidak ada aktivitas bersama teman-teman pengajian). hal tersebut begitu terasa mengingat tempat tinggal saya saat itu di sebuah dusun kecil di kaki gunung lawu, sehingga ketika ba’da isya’ sudah terasa menjadi dusun mati. hampir semua penduduknya sibuk dengan acara televisi masing-masing.

semasa Kuliah, istirahat pukul 21.00 bisa di cap bukan Mahasiswa, tetapi masih Es Em A. mahasiswa tidurnya paling cepat jam 12 malam.  paling tidak itulah doktrin yang kemudian menjadi brand image yang terbentuk di jurusanku, image yang ditanamkan oleh senior-senior semasa OSPEK. sebuah image yang sebetulnya kurang begitu berdasar. apalagi jika kita korelasikan dengan sebuah pesan Rasulullah, bahwa lebih utama mempercepat tidur selepas isya’ kecuali jika ada tamu atau belajar ilmu.

diantara kita mungkin banyak dijumpai orang-orang yang memang telah berubah pola hidupnya. siang jadi malam dan malam jadi siang. ketika ditanya mengapa pola hidup tersebut berubah? kebanyakan jawabnya hanya simpel “tuntutan pekerjaan”.

“Dan Kami jadikan malam sebagai perhiasan.  Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (An Naba’ : 10-11).

bagitulah kondisi kehidupan masa sekarang yang memang sudah mulai keluar dari fitrahnya. ada sebuah kisah menarik dari salah seorang ulama’ salaf. ketika malam mulai datang, sang ulama’ mulai memakai pakaian yang paling bagus dan memakai wangi-wangian. selepas isya’ sang ulama langsung berkholwah dengan Sang Kholiq. menikmati  malam-malamnya dengan “rekreasi”.

kiranya tulisan ini menjadi sebuah koreksi bagi saya pribadi, jika mengingat untuk apakah saya bekerja?

Abdullah bin Mubarok salah seorang tabi’in yang sangat kaya-raya, seorang ulama besar, Mujahid besar, ketika ditanya untuk apa beliau tetap bekerja, maka Ibnu Mubarok menjawab “Saya bekerja agar Dien ini tetap tegak dan murni” Masya Allah. Dalam catatan sejarah, kekayaan Ibnu Mubarok dipergunakan untuk menggaji para Ulama’ dan penuntut ilmu agar fokus dalam mempelajari dien, tidak risau dengan penghidupannya (disamping sebagian harta beliau untuk fie sabilillah). sebuah sosok Mujahid yang rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk fie sabilillah.

Berbeda halnya jika saya melihat lebih seksama beberapa motivasi  manusia untuk bekerja (yang sampai lupa waktu untuk ibadah), kabanyakan diantara kita merasa telah cukup berandil jika sudah menginfaqkan harta di jalan Allah. seakan jika sudah pada tataran jiwa atau nyawa kebanyakan akan menjadi pengecut. pikiran-pikiran tentang pekerjaannya senantiasa ada di benak nya, yang menjadi penghalang jika di tuntut untuk berkorban jiwa dan raga. maka keadaan seperti ini bertolak belakang dengan sebuah ungkapan Umar Ibn Khotob “jadikan hartamu di tanganmu dan akhirat di hatimu”

banyak contoh kaum salaf yang mampu dijadikan contoh. Salman Al Farisi, seorang sahabat asal persia, dalam hidupnya beliau bekerja sebagai pedagang. keuntungan yang diperoleh dibagi menjadi 3 bagian, sebagian untuk modal yang akan diputar kembali, sebagian untuk nafkah keluarganya, dan sebagian yang lain diinfaqkan fie sabilillah. apalagi jika kita melihat infa yang diberikan Abu Bakar, Umar, Utsman. membuat hati ini terasa sangat kerdil.

to be continu….

*maaaf jika alur tulisannya ga jelas… sedang terburu-buru nulisnya, di kejar deadline tugas
wassalam….

Februari 18, 2008

Teguran Allah

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:29 am

kejadian tidak menyenangkan acap kali terjadi menimpa diri kita, bahkan terkadang pula tak hanya “kurang” menyenangkan, bahkan membuat hati kita merasa sakit dan teriris-iris. seiring dengan kejadian menyakitkan tersebut, sering pulakah kita berusaha memahami hikmah di balik kejadian “naas” yang menimpa diri kita, sebuah pejalaran bagi kita, terkadang kita perlu untuk “dijewer” dengan kejadian yang tidak mengenakkan agar kembali kepada Allah.

========================================

hari Jum’at ba’da maghrib beberapa kali mengalami kejadian yang tak biasanya, mulai dari kran yang rusak sehingga basah kuyup sekujur tubuh.., angkot yang ditumpangi kehabisan bahan bakar dan harus berlarian membeli bahan bakar di SPBU terdekat, sampai mencari seorang “tukang ojek” yang ga dapet-dapet dan “harus” naik taksi untuk memburu waktu agar masih dapat mengikuti majelis ilmu. semua seakan telah menjadi “pertanda” awal.

ba’da majelis ilmu jam 9.30 malam kami, ikhwan bertiga berdiskusi panjang lebar tentang masalah yang banyak dihadapi oleh ikhwan-ikhwan sampai jam 1 dini hari sambil menunggu waktu untuk berangkat mudik ke kampung halaman.sekitar pukul 1 sabtu dinihari akhirnya perbincangan diselesaikan dengan sebelumnya mengisi perut di warung “kucingan”. hmm bisa mengganjal perut yang sejak sore belum diisi makanan.saya putuskan untuk langsung menunggu bus jurusan Semarang-Solo tanpa pulang ke kost terlebih dulu. 5 menit, 10 menit sampai setengah jam berlalu dan akhirnya bus yang ditunggu datang juga, dengan trayek Pulo gadung sampai Pacitan akhirnya saya “terpaksa” naik. gelagat sudah tidak baik dengan kondektur yang menarik ongkos dengan duduk bersebelahan di Jok bus. sambil memberikan uang 50 ribuan, saya mengeluarkan dompet dari dalam tas. setelah mendapat uang kembalian dari kondektur saya langsung terlelap. maklum sejak siang tak ada waktu istirahat.di tengah perjalanan antara boyolali sampai kartosuro, saya dibuat agak kaget dengan adanya orang bertopi duduk di samping saya. masuk belum lama kok cepat turunnya (dengan setengah sadar) saya berusaha mengecek tas.

“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Dompet saya raib. dopet yang berisi Tanda Pengenal, ATM, KTA Valensi (Lembaga penelitian Mahasiswa) dan sejumlah uang untuk perjalanan balik ke Semarang bersama Orang Tua. melihat hal demikian sekonyong-konyong saya langsung berusaha mengejar manusia bertopi yang duduk di samping saya (bertepatan dia turun di Kartosuro) padahal tiket saya sampai Solo.

ah ternyata lebih cepat menghilangnya dari pada “pengejaran”. akhirnya dengan berusaha menghibur diri, kutenangkan fikiran sejenak. memang sihh tidak terlalu banyak nilai uang yang ada di dompet, tetapi ada pula di sana ATM BNI, yang juga sudah saya cantumkan No PIN ATM tersebut dalam secarik kertas (baca : wasiat) yang memang saya letakkan di dompet tersebut. hakekatnya bukanlah sebuah catatan surat wasiat tetapi catatan hutang agar, jika kejadian tak terduga menimpa saya, ada saudara yang berusaha mengecek rekening, jika ada tabungan biar melunasi dengan itu.

========================================

akhirnya setelah sampai di sragen berusaha sholat subuh dan mencari setitik hikmah dari kejadian tersebut. dengan kajdian tersebut mungkin ada harta yang belum bersih dan dengan hal itu Allah berusaha mengingatkan dengan “menjewer” saya. bagitu pula dengan sebuah keteledoran. tidak biasanya saya meletakkan dompet di dalam tas. begitu pula sebuah “kesalahan” lain yang saya letakkan di dalam dompet.Teguran ini begitu berharga disamping terdesaknya kebutuhan dalam jangka dekat. semoga kita mampu mengambil hkmah dari kejadian pahit yang meimpa diri kita. kita tinggal meyakinkan diri kita bahwa kejadian tersebut telah ada yang MERENCANAKAN. hanya setitik keredlaan kita yang dibutuhkan untuk menghadapi kenyatan yang kadang terasa pahit.
Allahu a’lam

Februari 9, 2008

Salah Eja

Diarsipkan di bawah: Renunganku — masibnu @ 7:34 am

 

gambar.jpg

pernah tidak suatu ketika kita mengalami salah ejaan dalam berucap. memang seh terkadang hal tersebut terjadi tanpa kesengajaan, bahasa orang jawa “Kamisosolen”. memang bedanya pangucapan akan merubah makna secara total.
sebagai contoh ini nich

“Pak, Carikan Teman-teman”

tetapi akan berbeda makna ketika pemutusan kalimatnya disini

“Pak Carik AnTeman-teman”, (Pak Sekdes sedang berantem) :D

*******

btw,

ini adalah dalam urusan perkataan manusia saja, mampu membuat orang lain Berang dengan salah ucap.

apalagi jika kita sedang membaca “Perkataan” Allah. salah eja, salah ucap, salah lafadz akan merubah makna secara total. sehingga seyogyanya kita mengilmui tentang tajwid. memang sehh faham ilmu tentang tajwid “jatuhnya” fardlu kifayah, tetapi membaca AlQur’an dengan benar “dikenai” Fardlu ‘Ain.

*******

*yang lagi merenung, yuuuk belajar lagiii, ternyata masih banyak Makhorijul Huruf yang belum bener

** : Gambar dapat “wangsit” dari mbah Gugel

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.