pagi hari ini, dapat nasehat dari seorang ustadz tentang ayat ini :
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri[578] yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu[579], di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. (Al A’rof :163)
(maaf bukan merupakan sebuah tafsir, hanya korelasi dengan zaman sekarang ini)
maka imajinasi saya langsung tertuju pada sebuah kondisi yang akhir-akhir ini kelihatan lebih “enak”. jika dibanding masa-masa yang lalu, lebih mending hari ini. semua memang ujian. jikadalam kisah Isroiliyat tersebut Allah menguji Bani Israil dengan mendatangkan ikan-ikan yang banyak pada hari Sabtu sehingga sebagian diantara mereka banyak yang meninggalkan pergi ke Tempat ibadah pada hari Sabtu, dan lebih memilih mencari ikan.
sungguh Allah akan menguji hambanya dengan semua fasilitas, baik itu keberadaan fasilitas atau ketidak adaan fasilitas tersebut. maka mari kita lihat kondisi sekarang, banyak diantar kita yang semakin luntur keimanan ketika banyak fasilitas duniawi. menjadi aktivis saat masih kuliah, tetapi ketika lulus kuliah lupa akan aktivitasnya. menjadi penggerak keislaman saat belum mendapat pekerjaan yang “layak”, tetapi tak sedikit yang lupa akan perannya setelah mendapat pekerjaan yang “menyenangkan”. aktivis tak kenal lelah saat masih lajang, saat telah berkeluarga menjadi nomor ke sekian kalinya aktivitasnya, rajin mengaji dan ikut majelis taklim saat masih “nganggur” tetapi tak terlihat keberadaannya saat disibukkan dengan kerja, tak ada waktu luang, kilahnya. dan lain sebagainya yang sejenis.
apakah untuk urusan Akhirat kita perlu memilih dan mencari waktu luang kita?, bukan kita yang meluangkan waktu?.. Astaghfirullah…
maka tak menutup kemungkinan, ketika pintu-pintu dunia dibukakan dengan sangat luas banyak diantara kiat yang seakan LUPA ibadahnya. tak seperti perjuangan saat masih susah, saat fasilitas harus pontang-panting untuk memenuhinya. justru saat seperti itu rasa tawakal kita akan sangat kuat kepada Allah. maka benarlah sebuah kabar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
“Bergembiralah dengan apa yang kalian senangi (harta ). Demi Allah sesungguhnya bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi aku takut jika dunia dibukakan atas kalian sebagaimana dibukakan atas ummat sebelum kamu lalu kalian berlomba-lomba memperolehnya, sebagaimana orang-orang dahulu telah berlomba, lalu dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana orang dahulu hancur karenanya.”
dilanjutkan pada ayat selanjutnya
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu[580], dan supaya mereka bertakwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik( Al A’rof :164 – 165)
dalam tafsir Qurthubi disebutkan (dengan teks saya sendiri), bahwa Ibnu Mas’ud menjelaskan kondisi bani Israil yang terbagi dalam 3 kelompok, yang pertama tetap pergi ke laut mencari ikan pada hari sabtu, kedua tetap beribadah tetapi mengabaikan saudaranya yang tetap pergi ke laut mencari ikan, dan ketiga beribadah serta beramar ma’ruf nahyi munkar.
maka ketika kelompok ketiga ditanya oleh kelompok kedua
“Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”
jawaban yang muncul adalah “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu”.
masyaAllah…
maka Allahpun menyelamatkan orang2 kelompok ketiga dan mengadzab dua kelompok sebelumnya dengan menjadikan mereka kera yang hina.
Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina[581].” (al A’rof 166).
maka ketika dibangkitkan kelak Allah akan melihat kondisi 2 kelompok tersebut berdasarkan amalnya masing-masing.
Allahu a’lam bish showab
[578]. Yaitu kota Eliah yang terletak di pantai laut Merah antara kota Mad-yan dan bukit Thur.
[579]. Menurut aturan itu mereka tidak boleh bekerja pada hari Sabtu, karena hari Sabtu itu dikhususkan hanya untuk beribadat.
[580]. Alasan mereka itu ialah bahwa mereka telah melaksanakan perintah Allah untuk memberi peringatan.
[581]. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa ini sebagai suatu perumpamaan , artinya hati mereka menyerupai hati kera, karena sama-sama tidak menerima nasehat dan peringatan. Pendapat Jumhur mufassir ialah mereka betul-betul beubah menjadi kera, hanya tidak beranak, tidak makan dan minum, dan hidup tidak lebih dari tiga hari.


