Berbagi Cerita

Januari 17, 2008

kisah Israiliyat

Diarsipkan di bawah: kisah sarat makna, ruhiyah — masibnu @ 7:36 am

pagi hari ini, dapat nasehat dari seorang ustadz tentang ayat ini :

Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri[578] yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu[579], di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. (Al A’rof :163)

(maaf bukan merupakan sebuah tafsir, hanya korelasi dengan zaman sekarang ini)

maka imajinasi saya langsung tertuju pada sebuah kondisi yang akhir-akhir ini kelihatan lebih “enak”. jika dibanding masa-masa yang lalu, lebih mending hari ini. semua memang ujian. jikadalam kisah Isroiliyat tersebut Allah menguji Bani Israil dengan mendatangkan ikan-ikan yang banyak pada hari Sabtu sehingga sebagian diantara mereka banyak yang meninggalkan pergi ke Tempat ibadah pada hari Sabtu, dan lebih memilih mencari ikan.

sungguh Allah akan menguji hambanya dengan semua fasilitas, baik itu keberadaan fasilitas atau ketidak adaan fasilitas tersebut. maka mari kita lihat kondisi sekarang, banyak diantar kita yang semakin luntur keimanan ketika banyak fasilitas duniawi. menjadi aktivis saat masih kuliah, tetapi ketika lulus kuliah lupa akan aktivitasnya. menjadi penggerak keislaman saat belum mendapat pekerjaan yang “layak”, tetapi tak sedikit yang lupa akan perannya setelah mendapat pekerjaan yang “menyenangkan”. aktivis tak kenal lelah saat masih lajang, saat telah berkeluarga menjadi nomor ke sekian kalinya aktivitasnya, rajin mengaji dan ikut majelis taklim saat masih “nganggur” tetapi tak terlihat keberadaannya saat disibukkan dengan kerja, tak ada waktu luang, kilahnya. dan lain sebagainya yang sejenis.

apakah untuk urusan Akhirat kita perlu memilih dan mencari waktu luang kita?, bukan kita yang meluangkan waktu?.. Astaghfirullah…

maka tak menutup kemungkinan, ketika pintu-pintu dunia dibukakan dengan sangat luas banyak diantara kiat yang seakan LUPA ibadahnya. tak seperti perjuangan saat masih susah, saat fasilitas harus pontang-panting untuk memenuhinya. justru saat seperti itu rasa tawakal kita akan sangat kuat kepada Allah. maka benarlah sebuah kabar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam

“Bergembiralah dengan apa yang kalian senangi (harta ). Demi Allah sesungguhnya bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi aku takut jika dunia dibukakan atas kalian sebagaimana dibukakan atas ummat sebelum kamu lalu kalian berlomba-lomba memperolehnya, sebagaimana orang-orang dahulu telah berlomba, lalu dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana orang dahulu hancur karenanya.”

dilanjutkan pada ayat selanjutnya

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu[580], dan supaya mereka bertakwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik( Al A’rof :164 – 165)

dalam tafsir Qurthubi disebutkan (dengan teks saya sendiri), bahwa Ibnu Mas’ud menjelaskan kondisi bani Israil yang terbagi dalam 3 kelompok, yang pertama tetap pergi ke laut mencari ikan pada hari sabtu, kedua tetap beribadah tetapi mengabaikan saudaranya yang tetap pergi ke laut mencari ikan, dan ketiga beribadah serta beramar ma’ruf nahyi munkar.

maka ketika kelompok ketiga ditanya oleh kelompok kedua

“Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”

jawaban yang muncul adalah “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu”.

masyaAllah…

maka Allahpun menyelamatkan orang2 kelompok ketiga dan mengadzab dua kelompok sebelumnya dengan menjadikan mereka kera yang hina.

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina[581].” (al A’rof 166).

maka ketika dibangkitkan kelak Allah akan melihat kondisi 2 kelompok tersebut berdasarkan amalnya masing-masing.

Allahu a’lam bish showab

 

[578]. Yaitu kota Eliah yang terletak di pantai laut Merah antara kota Mad-yan dan bukit Thur.
[579]. Menurut aturan itu mereka tidak boleh bekerja pada hari Sabtu, karena hari Sabtu itu dikhususkan hanya untuk beribadat.

[580]. Alasan mereka itu ialah bahwa mereka telah melaksanakan perintah Allah untuk memberi peringatan.

 

[581]. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa ini sebagai suatu perumpamaan , artinya hati mereka menyerupai hati kera, karena sama-sama tidak menerima nasehat dan peringatan. Pendapat Jumhur mufassir ialah mereka betul-betul beubah menjadi kera, hanya tidak beranak, tidak makan dan minum, dan hidup tidak lebih dari tiga hari.

 

 

Desember 28, 2007

Bencana Akhir tahun

Diarsipkan di bawah: Renunganku, ruhiyah — masibnu @ 7:46 am

hampir setiap akhir tahun, Indonesia mendapat “jatah” yang senantiasa belum mampu lepas, bencana.

sebagiam orang akan berfikiran mengapa Indonesia diterpa musibah yang bertubi-tubi, padahal mayoritas penduduknya adalah “muslim”. bukankah Allah telah berfirman :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang
tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan
siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka
sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang
yang merugi”. (QS 7:96-99).

maka marilah kita melihat lebih seksama,…

Tahun 2004, Aceh di terpa Tsunami yang menelan korban lebih dari 200 juta jiwa. tepatnya pada tanggal 26 Desember 2007 pukul 07 : 52 (waktu Dluha). belum lagi masalah banjir yang menghampiri ibukota Jakarta setinggi 1 meter lebih

Tahun 2005, banjir seakan tak lepas dari Ibukota, tanah longsor di Purworejo, gempa di NTB dan beberapa wilayah lain di Indonesia. semua terjadi di penghujung tahun 2005

Tahun 2006, tidak lebih baik, Gempa berkekuatan 5,6 SR mengguncang Sumatera Utara, begitu pula banjir melanda Tanah yang belum genap 2 tahun diterjang Tsunami; Aceh dan wilayah-wilayah lain. belum lagi berita tenggelamnya KM senopati Rute Semarang-Kumai yang menewaskan banyak nyawa. dan tentunya sederet bencana yang menimpa negeri Gemah Ripah Loh jinawi, Tanah Subur Rakyat nganggur….. :D

Tahun 2007 tak jauh berbeda, genangan air juga melanda sebagian besar wilayah di Jawa, mulai dari DKI, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus, Grobogan, Blora, Ngawi, Madiun, Trenggalek, Malang, bahkan Solo; kota yang selama ini agak asing dengan banjir tak luput dari genangan air sungai Bengawan Solo yang meluber. Praktis, rangkaian banjir tersebut melumpuhkan jalur Transportasi. belum lagi tanah longsor yang menimpa lereng gunung lawu tepatnya di kabupaten Karanganyar.

hampir semua bencana tersebut terjadi di waktu Dhuha.

Allahu Akbar

jika kita mau menelaah, Allah telah membuat perumpamaan sebuah negeri yang awalnya subur makmur menjadi epnuh bencana,… tetapi sedikit yang mau merenungi..

“.Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…”. (QS 2:155)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang
dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari
segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena
itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan
apa yang selalu mereka perbuat”. (QS. 16:112).

apakah kita akan terus LALAI dengan adzab Allah yang bertubi-tubi yang menimpa negeri ini?… akankan kita selalu menganggap semua bencana tersebut hanya sebatas ujian dari Allah?, bukan sebuah adzab atas kemaksiatan yang dilakukan masyarakat Indonesia,.

cobalah melihat, berapa banyak kaum muslimin yang telah menghilangkan konsekuensi syahadat dari dirinya dengan memberikan selamat natal, atau bahkan ikut menghadiri acara natalnya, seakan-akan ini bukan urusan Aqidah. Atau bentuk-bentuk kesyirikan yang menggerogori Aqidah kaum muslimin, baik itu syirik Qubur maupun syirik Qushur.

atau sudah menyiapkan “upacara” khusus menyambut tahun baru yang tidak ada contohnya dari Islam sama-sekali. semua terjadi di akhir tahun. beserta sederet kemaksiatan yang merajalela yang sudah menjadi barang umum. Orang muslim meninggalkan Sholat, meninggalkan zakat, Khomer bebas dijajakan, pelacuran dan perzinahan bukan hal tabu, KKN menjadi komoditi yang paling digemari baik itu untuk pejabat maupun rakyat jelata, gosip menjadi menu keseharian yang laris manis,  dan setumpuk kemaksiatan yang lain.

bahkan orang-orang yang berusaha menghapus kemaksiatan tak jarang malah dikira ekstrimis,  fundamentalis, kelompok garis keras. orang-orang yang tak rela syariatnya dilecehkan malah mendapat perlawanan yang ketat..

na’udzubillah…

mari berusaha mengoreksi diri, banyak kesyirikan, kemaksiatan yang dilakukan masyarakat Indonesia, segera berbenah diri…

Apakah kita masih merasa aman dengan azab dan siksaan Allah yang datangnya di
waktu dhuha, ketika kita sedang asyik bermain-main atau di malam hari, ketika
kita sedang enak-enaknya tidur ?

Ingatlah, tidak akan ada tempat yang aman di Indonesia ini dari azab Allah
kecuali masuk ke dalam perlindungan-Nya, yang hanya dapat dicapai dengan Taubat
yang sesungguhnya.

Saudaraku, tak usah merasa takut dan ngeri dengan pertanyaan ini, karena hal
itu memang benar-benar bisa terjadi untuk seluruh Indonesia. Bukankah kita ini
adalah orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Selama kita tetap ingat
kepada semua pesan Allah kepada kita, baik yang disuruh maupun yang
dilarangnya, maka tak akan ada kekhawatiran dan kesedihan di dalam diri kita.

“. orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS
13:28)

Meskipun, katakanlah bahwa jumlah orang yang tetap berzikir kepada Allah di
Indonesia ini sangat sedikit dan orang-orang berzikir itu berada di
tengah-tengah manusia yang bermaksiat dan melakukan kefasikan, sedangkan Allah
akan mengazab mereka, kita semua harus tetap teguh yakin, pastilah Allah akan
menyelamatkan hamba-Nya yang telah ingat dan berserah diri kepada-Nya dengan
cara yang sangat rahasia.

Maka kepada hamba-hamba tersebut, Allah telah memberikan perintah-Nya:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ["Ma'ruf":
segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan "Munkar" ialah
segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya]; merekalah orang-orang
yang beruntung”. (QS 3:104)

Allahu a’lam..

September 24, 2007

Jangan Sholat Bersama Syetan

Diarsipkan di bawah: ruhiyah — masibnu @ 7:27 am

Itulah judul buku terbitan Aqwam yang di bedah di Masjid Pangeran Diponegoro Semarang pada hari Sabtu 22 September 2007 pukul 09.30 – dluhur dengan pembicara Ust. Umar Faqhuddin dan moderator Mas Ibnu.  :P   awalnya, akan menghadirkan 2 pembicara yaitu yang kedua Ust. Tanthawi Azhar, tetapi Allah berkehendak lain. Awal Ramadhan beliau telah dipanggil oleh Allah, semoga menjadi akhir yang baik untuk beliau.

buku ini merupakan Rangkaian buku Trilogi Shalat Khusyu’ karangan Syaikh Mu’min Al Haddad,  Khusyu’ bukan mimpi, Jangan Shalat bersama Syetan dan Perbarui Shalat anda, menurut penerbit jangan shalat bersama setan merupakan buku pertama dari ketiga buku trilogi shalat khusu’ tersebut, tetapi beliau (Ust. Umar Faqh) lebih menaruh buku tersebut pada bagian kedua.

ketika keinginan dan impian agar mampu malaksanakan sholat khusyu’ sudah kuat tetanam (dengan buku : Khusyu’ Bukan Mimpi) maka angan angan manusia untuk menggapainya akan semakin menggebu-gebu.

tetapi kenyataan di lapangan tidaklah semudah harapan. bahkan sering di jumpai dalam sebuah masjid ketika shalat berjama’ah tidak satupun didapati orang yang sholat dengan khusyu’. banyak sekali godaan yang diperoleh ketika seorang muslim hendak atau sedang melaksanakan shalat. pikiran dan hayalan yang tidak melintas di benak ketika sebelum shalatpun terasa datang begitu saja. misal membaca tulisan pada punggung baju orang di depannya (jangankan tulisan, motif batikpun akan mendapat komentar di benak ketika dalam sholat, padahal ketika diluar sholat hal itu merupakan perkara yang tidak menarik untuk dikomentari). digigit nyamuk sudah mulai kesakitan yang luar biasa seakan-akan sedang ditusuk tombak. suasana masjid yang tanpa kipas angin membuat gerah yang shalat. bau parfum  jama’ah di dekatnya juga akan menimbulkan bisikan  tersendiri di batin.  belum lagi rasa was-was  akan  jumlah rakaatnya, saya tadi udah sujud berapa kali ya?? semua itu  merupakan beberapa contoh riil upaya syetan merusak shalat dengan bisikan, hayalan yang ditaburkan ke hati.

berbeda halnya ketika membandingkan dengan kisah ‘Urwah bin Zubair yang diamputasi kaki beliau menggunakan gergaji kayu saat sholat. atau kisah Ali bin Abi Tholib yang di cabut anak panahnya ketika sedang melaksanakan  shalat. kenikmatan para salaf ketika shalat mengalahkan sakitnya di amputasi atau dicabutnya anak panah tersebut.

bahkan banyak muncul anekdot di sekitar kita “jika lupa menaruh barang yang penting, (misal kunci) maka lakukan sholat 2 rekaat. pasti ingat kembali”. Ternyata amat sulit melaksanakan shalat khusyu’

buku yang ketiga sebuah motivasi dan cara agar kembali berusaha “menemukan” sholat khusyu’ dengan beberapa lembar kontrol terhadap shalat khusyu’ seorang muslim..

ada yang berminat? (lho kok kaya’ promosi?). ……..

Agustus 27, 2007

Hasad!!!!

Diarsipkan di bawah: ruhiyah — masibnu @ 7:24 am

Hasad

ya hasad,… bukan kata lain. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam pun sampai mewanti-wanti akan salah satu sifat yang akan menghapuskan kebaikan laksana api yang menelan kayu bakar.

sebuah contoh

ada seorang pengusaha kaya (taruhlah namanya fulan A) yang hendak keJakarta dengan membawa uang 50 juta yang akan disumbangkan ke Fakir miskin. di tengah jalan, Fulan A bertemu dengan Fulan B dan Fulan C yang bersama-saman hendak ke Jakarta juga mencari kerjaan dengan tangan kosong (tanpa modal). untuk mengisi waktu mereka bertiga akhirnya berbincang-bincang. akhirnya fulan B dan C mengetahui tujuan Fulan A ke Jakrta. dengan kepandaian fulan B dan C membujuk fulan A, akhirnya Fulan A berubah niat. uang 50 juta yang sekiranya di pergunakan untuk membantu fakir miskin diberikannya kepada Fulan B dan C, tetapi dengan satu syarat “Uang ini saya berikan ke kalian berdua dan terserah Fulan B mau membaginya, dan Fulan C harus menerima”. Fulan B ternyata membagi uang 50 juta tersebut dengan 49,5 juta untuk dirinya dan 500 ribu untuk Fulan C.

apa yang terjadi??.

ternyata Fulan C tidak terima. “Lebih baik tidak menerima sama sekali kedua-duanya dari pada saya (fulan C) hanya menerima 500 ribu”. bukahkan sebelumnya mereka berdua berangkat ke Jakrta tanpa membawa bekal? ketika di tengah jalan memperoleh bekal yang mampu menambah uang mereka?

inilah sekelumit cerita tentang hasad. tidak terima jika orang lain memperoleh “rezeki” yang lebih banyak(baik) dari dirinya. lebih baik sama-sama tidak memperoleh sama sekali.

Tidak mudah lepas dari hasad

jika selama ini banyak yang berperasangka, hasad lebih banyak menjangkiti orang-orang yang “kurang” dalam segi agamanya, maka hal ini harus menjadi koreksi tersendiri. jika selama ini hasad hanya di identikkan dengan “jatah” harta (rizqi) yang diterima, ternyata masih banyak hal lain yang mampu menyuburkan sifat ini.Ibnu Qoyyim menjelaskan hal ini dengan panjang lebar. (maaf ini hanya ringkasan)

bahkan hasad tidak menutup kemungkinan banyak menimpa kalangan “aktifis”. membatasi dengan harus dan hanya memperbolehkan mentornya “mengaji” pada kelompoknya saja, “Dari pada mengaji ke tempat lain, dan lepas dari kelompok saya lebih baik tidak mengaji saja”. dan lain lain. Na’udzubillah min dzalik. inilah hasad yang tidak sedikit menjangkiti dunia dakwah kita. rasanya tidak ada yang bisa dijadikan pegangan ketika menghadap Allah di akherat kelak jika kalangan aktifis masih berfikiran seperti ini.

atau sebuah contoh lain, seorang muslim yang tidak suka ketika saudaranya mendapat banyak pujian lantaran terkenal akan sholat malamnya, sehingga dia mengupayakan mengajak ngobrol saudaranya yang rutin sholat malam ini hingga larut malam. dan pada akhirnya  akan ketinggalan sholat malamny gara gara tiudr yang terlarut malam. sehingga ketika ada manusia yang memuji ikhwan tersebut ada bantahan bahwa ketika malam itu bersamanya, shoat malamnya tidak sebagaimana yang diceritakan selama ini, bahkan tidak melaksanakan sholat malam. na’udzubillah…… dan beberapa kisah lain yang ada dalam hidup ini.

bukankah Allah telah berfirman dalam Al Kahfi : “Katakanlah, apakah akan kami beritahukan orang-orang yang paling merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia amalnya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya” (al kahfi : 103-104).

sebuah renungan bagi kita bersama.

waktuku…

Diarsipkan di bawah: ruhiyah — masibnu @ 7:33 am

“maaf mas, saya belum sempat mengerjakan tugas tersebut”.

kata-kata tersebut tak jarang kita dengarkan dari seseorang ketika mendapatkan amanah tetapi ketika sampai hari H_nya tak kunjung selesai amanah tersebut. entah dengan ucapan tersebut sebagai “hujjah” atas ketidak sanggupan menyelesaikannya  atau memang benar-benar belum sempat :D . jika alasan tersebut sebagai pembenaran atas ketidak sanggupan menyelesaikan sebuah amanah, bukankah seharusnya hal itu disampaikan sejak awal, sehingga amanaha tidak akan terbengkalai….

pernah ada cerita ketika seorang teman yang diamanahi untuk membuat sebuah surat permohonan kepada pembicara untuk mengisi sebuah acara ta’lim, dari ketua panitia mengamanahkan pada si fulan dan si fulan punmenyanggupi amanaha tersebut. ternyata ketika hari H surat permohonanpun belum nampak fisiknya (belum dibuat). dengan alasan lupa, sibuk, atau yang lainnya. akhirnya ustadz yang diundang tidak jadi datang, tidak ada surat permohonan resmi. jadi semakin berat….harus mencari pengganti dalam waktu singkat kalau tidak dapat ustadz bagaimana caranya agar acara tetap berlangsung. hal ini mungkin akan menimbulkan pertanyaan lucu… bukankah surat itumampu di buat oleh ketua panitia? yup betul… jika di selesaikan ketua panitia mungkin akan lebih cepat jadinya. tetapi bukankah semua itu sebuah pembelajaran.???

ilustrasi di atas hanya sekelumit cerita tentang sepak terjang manusia yang “kelewatan” dengan waktunya. benarkah tidak ada waktu lagi untuk sekedar “membuat” surat???. tidak adakah waktu khusus untuk senantiasa berusaha menghadiri sholat berjama’ah, tidak adakah wktu khusus untuk tilawah ditidak adakah waktu untuk syura’ membahas dan memikirkan urusan Ummat , dll. ataukah seluruh waktu yang Allah berikan telah habis untuk mengais “sepeser” rupiah, sesuatu yang telah Allah atur bagi makhlukNya?

menurut seorang ulama salaf pembagian waktu seorang muslim  menjadi 4 macam :\

1. Waktu untuk munajad dan beribadah kepada Allah. waktu khusus yang dipergunakan untuk mendekat dan berduaan dengan Allah, sebagai wujud penghambaan yang tulus ikhlash.

2. Waktu untuk progres report (instrospeksi diri) baik dalam urusan ukhrowi maupun dalam  urusan duniawi. hal ini untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai dan sebagai modal awal untuk masuk tahap berikutnya.

3. waktu untuk berkumpul dengan orang-orang sholeh. waktu yang digunakan sebagai implementasi eksistensi diri. memang bisa dicapai eksistensi diri bersama orang-orang buruk, tetapi hal itu tidaklah membawa kemanfaatan sama sekali bahkan membawa kemadlorotan.

4. waktu menikmati kesenangan yang dihalakan. menikmati kesenangan yang halal merupakan kebahagiaan tersendiri yang di peroleh seorang muslim yang tidka akan diperoleh dengan jalan yang lain. carilah kenikmatan hidup dalam hal ketaatan.

bagaimana dengan alokasi waktu kita selama ini????!!!!….

Agustus 17, 2007

galau

Diarsipkan di bawah: ruhiyah — masibnu @ 7:27 am

ketika kokok ayam mulai menyambut datangnya pagi, hati mulai galau (ada apa nie??). sambil ngucek-ngucek mata yang terasa berat untuk memperlihatkan kelopaknya, langsung aja ambil air wudlu.. mata terasa berat bukan karena ikut tirakatan 17-an bersama orang-orang kampung. bodo amat. mau orang-orang melek semalaman ga ada urusan sama saya. mending cepet bobo’ biar bangunnya tidak kesiangan. lagian mata juga sudah ngantuk karena seharian kemarin full time, tidak sempat istirahat siang.

hari jum’at, hari raya mingguan bagi setiap muslim terasa telah berlalu. padahal baru setengah jalan dari hari jum’at dijalani.  maklum belum melakukan rutinitas hari jum’at. mulai dari baca sambil muraja’ah surat al kahfi, “bersih-bersih” diri, dan sebagainya. lha khan masih ada setengah jalan lagi??…

apalah daya, lha hari jum’at jadwal sudah full, mulai ba’da subuh sampai sebelum jum’atan “mengais” maisyah, ba’da jum’atan diundang mendatangi walimahan seorang ikhwan di semarang, ba’da asar jadwal jaga MDO sampai malam. yach… terasa waktu belum memungkinkan untuk mengerjakan semua aktivitas rutin di hari jum’at.

kiranya hanya sebuah keroksi bagi diri sendiri, kok malamnya banyak membuang waktu hanya untuk menuruti kehendak mereme mripat “.

rasa galau semakin diperparah. waktu sholat subuh… innalillahi wa inna ilaihi raji’un..  masjid yang biasanya ketika sholat berjama’ah jumlah shaffnya sampai 3-4, tenyata hanya terisi setengah shaff saja. yaa jika masjidnya besar sebesar masjid raya jumlah segitu sudah terhitung banyak. tetapi dengan kondisi masjid yang tidak terlalu besar dan berada di lingkungan kampus, rasanya kok yaa aneh gitu. sholat subuh berjama’ah yang dikatakan sholat paling berat bagi seorang munafik, hanya terisi oleh jama’ah yang cukup dihitung dengan hitungan jari tangan.

belum lagi ditambah mu’adzin dan imam tetap yang sudah “digaji” oleh pihak takmir juga tidak menampakkan batang hidungnya.  (mungkin kelelahan, ikut tirakatan “melek mbengi” bersama orang-orang kampung).

ah.. rasanya kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih seksama. lingkungan kampus yang identik dengan para “aktivis”nya hari ini sedang istirahat sholat subuh berjama’ah khusunya di masjid ini. apa yang salah? dan siapa yang salah?

mungkin gerakan subuh masal perlu dicanangkan lagi…..

Blog pada WordPress.com.