Berbagi Cerita

Januari 22, 2009

Uban

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:45 am

Tadi pagi, ketika hendak berangkat kerja, saya sempatkan menyisir rambut di depan cermin. Melihat diri sendiri, apakah sudah cukup ganteng untuk ukuran manusia seperti saya. Tetapi sayangnya saat itu tidak ada pembanding untuk ukuran “kegantengan” saya di depan cermin. Kalau membandingkan dengan istri jadinya paling ganteng. hehehe.

Saat di depan cermin itulah saya baru sadar, ternyata uban di kepala saya sudah mulai banyak. Apakah ini gara-gara menikah yach. hehehe. Saya jadi teringat akan dialog dengan seorang teman yang ubannya mulai tambah banyak setelah menikah. Ketika ditanya apakah lantaran beratnya menanggung istri?.

Dengan santainya menjawab “Setiap hari istri saya suruh jalan sendiri loh, ngga’ saya gendong ataupun saya panggul, jadi ga ada alasan berat menanggung istri lalu tambah banyak ubannya”. hehe

Hmm, Entah karena menikah atau tidak, uban sebagai tanda awal semakin berkurangnya jatah umur alias semakin bertambah tuwir. Emang sih, seiring bertambahnya waktu, jatah umur manusia akan semakin berkurang. Dan tentunya bagi yang belum menikah jangan takut tambah ubannya lantaran menikah. Tetapi dengan menikah banyak rahasia ibadah yang tak mampu didapat jika masih melajang.

Panggil Aku : Rijaluddien

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:03 am

Ibnu, sebuah nama yang sudah cukup lama melekat dalam diri saya. Apalagi jika dibelakangnya ditambahi nama Mukmin, mengambil nama ayah kelihatan lebih pas. Keberlangsungannya waktu, beberapa teman baik itu teman maya maupun teman nyata menambahi nama panggilan didepannya dengan bang atau mas, maka jadilah MasIbnu, sebagaimana nama blog ini.

Setelah menggenapkan dien dengan salah seorang akhwat asli Semarang,  muncullah beberapa kerisauan. Nama saya jadi terkesan kurang SREG, dengan tetap memakai nama Ibnu. Apalagi “pacar” baru (baru 7 bulan hehehe) kurang suka dengan panggilan Masibnu. Dia pun menyarankan agar ganti nama aja.  Memang sihh, panggilan Ibnu memiliki kesan tetap menjadi seorang “walad” padahal status sekarang sedang mengharap kehadiran seorang walad. (Apa hubungannya??)

Saya kemudian berfikir, merenung, mencerna beberapa kata yang terlintas dalam benak beberapa saat lamanya, akhirnya terpikirlah sebuah nama pena baru :

“Rijaluddien”

Sebuah nama yang memiliki tanggung jawab yang besar. Bukankah seorang tentara mampu mengangkat bebean yang berat lantaran sering dilatih (baca : dipaksa pada awalnya) untuk mengangkat beban yang berat pada masa awal diklat.

Disamping itu, tetap menampilkan nama As Sinay, yang diambil dari nama sebuah kecamatan tempat lahir yang terletak di kaki gunung Lawu, SINE.

so, Call me : Rijaluddien As Sinay

Desember 22, 2008

Maka Sempurnalah Diennya

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:42 am

Semarang, 20 Desember 2008, hari yang bersejarah bagi “Agen Terbaik” Ar Risalah. Siapa lagi kalau bukan Alfian Y, S.E. Apalagi kalau bukan menemukan labuhan “cinta” pertamanya. Menyunting dengan seorang Akhwat asli Purworejo, Alfian berusaha menggenapkan diennya.love

“Alfi juga Butuh Istri”

Sebagaimana slogan majalah yang didistribusikannya

‘Menata Hati Menggapai ridlo Ilahi’

Hari sabtu yang bahagia, walaupun acara walimahan diadakan si siang bolong selepas sholat dluhur, tetapi tidak menyurutkan niat bagi undangan menghadiri walimahan. Teman kolega, rekan sejawat sengak-sengak’an dan handai tolan tumplek bleg jadi 2 bagian (bagian ikhwan dan akhwat jee). Sambil makan bakso dan eskrim membuat suasana jadi sumringah. Tak kalah sumringahnya bang Arianda dan bang I want tampak ikut mesam-mesem sambil membayangkan kapan dapet “giliran”.

Selamat menempuh hidup baru sebagai seorang suami wahai agen terbaik ! semoga segera dapet momongan yang banyak. Barokallahu laka wabaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fie khoir.

November 11, 2008

Tetep Jalan Dengan Komentar Orang lain

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:39 am

Sebuah cerita yang tiba tiba terlintas dalam benak saya,
Suatu ketika seorang bapak melakukan safar dengan anak laki-lakinya menggunakan keledai yang kurus. Ditengah jalan muncullah ide diantara mereka bahwa, anak laki-lakinya yang naik keledai dan sang ayah menuntun keledainya. Ditengah jalan mereka berpapasan dengan seseorang yang mengomentari tindakan tersebut, bahwa sang anak tidak berbakti pada orang tua dengan naik keledai sedang orang tuanya yang menuntun keledai.

Mendengar komentar tersebut, akhirnya gantian sang anak yang menuntun keledai dan sang ayah naik ke atasnya. Kemudian mereka berpapasan lagi dengan orang lain yang juga ikut berkomentar, bahwa seorang anak dibiarkan kelelahan menuntun keledai sedang orang tuanya enak-enakan diatas keledai. Mendengar komentar tersebut, mereka kemudian memutuskan untuk bersama-sama naik diatas keledai.

Dijalan, merekapun kembali mendapat komentar dari orang yang berpapasan, bahwa mereka tidak mempunyai belas kasihan pada binatang, seekor keledai yang kurus dinaiki berdua.
Lagi-lagi mereka memutuskan untuk berubah dengan jalan bersama-sama menuntun keledai.

Sebuah cerita yang saya sendiri kurang begitu faham keotentikan cerita tersebut, tetapi bagi saya cerita tersebut memberikan sebuah pelajaran yang berharga. Bagaimanapun perbuatan dan tindakan kita baik perbuatan baik atau buruk, ada saja orang-orang yang akan mengomentari. Baik itu komentar baik dan mendudung atau komentar yang bernada sinis bahkan terkesan berusaha menjatuhkan mental.

Terkait itu semua, tentunya Amrozi dkk, mempunyai dalil rujukan dan keadaaan empiris dilapangan dalam segala tindak tanduknya, terlepas dari komentar-komentar yang mengiringinya hingga akhir hayatnya. Mulai dari Komentar mendukung aksinya, Komentar yang “Diam” tidak mendukung tetapi juga tidak mengutuknya, atau komentar yang mengutuk aksi yang dilakukan mereka Oktober 2002 di Bali.

So, Terserahlah seseorang akan berkomentar sesuka hatinya menghadapi sebuah kejadian, toh mereka pulalah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Persepsi seseorang pastilah berbeda-beda. Asal seseorang melakukan perbuatan berdasarkan pijakan yang jelas dan Qoth’i yang diyakininya, toh dialah jua yang kelak akan menerima balasan baik dan buruknya dari Sang Maha Adil.

Oktober 21, 2008

Ada Orang Meninggal; Alhamdulillah??

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:33 am

“Mbah kung, lek Parmin RT 3 meninggal ndek dalu jam 12″

“Alhamdulillah….”

“loh mbah kok malah alhamdulillah, kudune Innalillahi wa inna ilaihi roji’un toh mbah”

“lah piye ora alhamdulillah, Parmin lagi 40 tahun wes dipundut karo Seng Kuwasa, mbahmu iki umure wis 70 tahun isih diparingi umur”….

“oOo, ngono toh mbah”…..**

sudahkah tadi pagi kita bersyukur atas nikmat usia yang diberikan pada kita setelah dimatikan sementara waktu??……


** “Kakek, paman Parmin RT 3 meninggal dunia tadi malam jam 12″
“Alhamdulillah..”
“loh kek, kok malah alhamdulillah, harusnya
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un loh kek”.
“lha gimana tidak Alhamdulillah, Parmin baru berusia 40 tahun udah dipanggil sama Yang Kuasa, kakekmu ini usianya udah 70 tahun masih diberi umur..”
“oOo gitu toh kek”…

September 1, 2008

Pengantin Baru Ngantukan??

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:06 am

hari selasa yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang telah agak lama tak bersua. lantaran masing-masing telah menjalani hidup bersama “teman hidupnya”. Awalnya, sebagaimana biasa ciri khas teman yang udah agak lama tak bertemu, yaitu bercanda, (dan kadang sampai gasak-gasakan), apalagi kalau bukan masalah munculnya makhluk baru yang diidamkan oleh setiap pasangan. Hadirnya sang buah hati pelengkap kebahagiaan. hihi

setelah beberapa saat berbincang-bincang maka si ikhwan tersebut mengutarakan sebuah hal yang cukup bikin Gres,…

“Eh antum khan pengantin baru, biasanya pengantin baru itu khan ngantukan toh bawaannya”.

“Iya, saya memang pengantin baru, baru 2,5 bulan. tapi udah hilang tuh ngantukkannya, kelihatanya ente yang masih ngantukan. tuh matanya aja masih merah. hehe”

“yeee… merah bukan selalu ngantuk tau… ini mah kelilipan”. Dengan tangkas si ikhwan langsung berkilah.

sebuah percakapan singkat, yang membuat seakan hipotesa pengantin baru hampir selalu ngantukan jadi tambah kuat terbukti.

so, bagi yang mau nikah, buktikan sendiri yach gimana ntar setelah nikah jadi ngantukan atau biasa saja,
dan bagi yang udah nikah bagi-bagi dunk pengalaman ngantukannya………
(hahaha)

Agustus 5, 2008

Panitia Isra’ Mi’raj 100% Non Muslim

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:03 pm

Apa yang sedang melanda manusia Indonesia memang benar-baner aneh. tak cukup waktu semalam suntuk untuk membayangkannya. Dari sederetan peristiwa yang membuat “berdecak kagum”, mulai dari kasus suap, korupsi, pemimpin negeri dengan fasilitas serba wah sedangkan rakyatnya sangat gelisah lantaran ga tau besok pagi bisa makan atau tidak sampai kasus “penjagalan” berantai sesama manusia dan yang satu ini tak kalah luput dari “decak Kagum” saya.

Sebuah acara Peringatan Isro’ Mi’raj di Malut 100% panitianya dari kalangan Non Muslim (baca: KAFIR). Bagi saya pribadi (yang telah enggan melaksanakan peringatan Isra’ mi’raj tsb) melihatnya sebagai sebuah hal yang menggelikan. Peringatan Isra’ Mi’raj sendiri yang dari kalangan Kaum muslimin masih memperdebatkan manfaat dan mudlaratnya, atau bahkan sampai pada tatanan kebid’ahannya, kenapa justru dari kalangan Non Muslim (baca lagi : KAFIR) yang memprakarsai (baca : 100% panitia dari kalangan non muslim)

terlepas dari pernyataan bahwa hal tersebut menjadi indikasi bahwa suasana di Malut sudah “Kondusif” masalah toleransi antar umat beragama, tetapi apakah Kita akan melupakan begitu saja kasus pembantaian berdarah Iedul Fitri atas Kaum Muslimin di Malut beberapa waktu lalu hanya lantaran “hadiah” peringatan Isra’ Mi’raj doank???….

Juli 10, 2008

Ta’aruf Sepanjang Hayat

Diarsipkan di bawah: ga penting-penting amat, santai aja.. — masibnu @ 7:54 am

Edisi perdana pasca menggenapkan separuh dien ….

Apakah bayangan yang ada dalam benak ketika mendengar sepatah kata TA’ARUF mengiang di telinga kita? bayangan proses “perkenalan” 2 orang yang sebelumnya tidak kenal… untuk lebih mampu mengenal lawan “maen”nya.

Ops…. Tulisan ini bukan bermaksud mengupas sisi “pra” tersebut, tetapi kiranya manusia bukanlah makhluk statis, yang senantiasa sama seiring berlangsungnya waktu. Tetapi manusia adalah makhluk yang mampu berubah, dinamis seiring berkurangnya jatah usia.
Sehingga proses “Tak Kenal Maka Tak Aruf” akan berlangsung sepanjang hayat.

Begitu pula ketika baru memasuki jenjang pernikahan. Manusia yang sebelumnya asing, kini menjadi teman tidur, teman makan (sepiring berdua), teman bercerita, bahkan teman hidup. (dalam bahasa Jawa adalah GARWO = Sigarane Nyowo*). Akan banyak terjadi “penyesuaian” dengan adanya orang “baru” dalam hidupnya. bagi seorang akhwat, tanggung jawab sepenuhnya yang awalnya milik orang tua, kini berpindah tangan menjadi milik suami, begitu pula bagi seorang ikhwan, tanggung jawab akan bertambah dengan hadirnya seorang akhwat “baru” yang mengisi hari-hari dalam hidupnya.

Sikap berusaha saling memahami dan saling menerima kelebihan dan kekurangannya kiranya menjadi salah satu senjata ampuh untuk mengurangi jurang yang terjadi….

“Jika aku merasa nyaman dalam pelukmu adalah suatu kesalahan, aku akan melakukannya lagi..
Jika menciummu adalah suatu dosa, aku akan selalu melakukannya lagi…
dan jika Allah telah menuliskan aku menjadi istrimu saat ini, aku berharap tinta takdir telah kering, agar aku senantiasa berada disisimu selalu suamiku,.. selamanya…….
Aku Mencintaimu Apa Adanya”

To Be Continu

*Sigarane nyowo = belahan jiwa,

Mei 10, 2008

Malu yang hilang

Diarsipkan di bawah: santai aja.. — masibnu @ 7:55 pm

Sabtu, awal Mei 2008 pukul 11.30, ketika dalam perjalan dari Ngawi menuju Semarang. Sesampainya di Termonal Tirtonadi Solo, saya memutuskan untuk naik Bus AC (bukan patas), yang memang keadaannya saat itu sedang panas . Ternyata saya menjadi penumpang pertamax (dapet diskon karcis ga yach hihi). Saya putuskan untuk menempati kursi paling depan, dengan harapan agar tidak tidur di perjalanan Solo Semarang. Sambil menunggu penumpang yang lain, beberapa pedagang asogan datang menawarkan jajanannya, yang pertama adalah seorang laki-laki yang sudah cukup tua datang menawarkan aneka kacang godok dan tahu asinnya,

“Kacang-kacang, tahu asin, kacang mas?, seribu rupiah aja”…

sampai dihadapanku saya lambaikan dengan isyarat tangan tanda tidak berminat dengan salah satu jajanan tersebut. Pedagang kedua adalah penjual Koran yang sukup terkenal di jawa tengah yang mengabarkan salah seorang bakal calon Guberur Jateng dalam Pilkadal Juni mendatang (yang juga di dukung oleh salah satu Partai Islam) dikabarkan dicekal dengan tuduhan kasus Korupsi. Saya pun tak ambil pusing dengan penjual Koran tersebut.

Pedagang ketiga adalah seorang penjual minuman kemasan, yang sejak saya naik bus mondar-mandir didekat bus yang saya naiki tersebut, lalu mendekati saya dan menawarkan dagangannya. Saya lihat dari penampilannya, orangnya cukup santun, penampilannya dengan celana di atas mata kaki, jenggotnya cukup tebal untuk ukuran orang Indonesia, dan jidatnya berwarna hitam. Akhirnya saya lihat barang dagangannya dan saya putuskan untuk membeli air minum kemasan. Ketika menawarkannyapun si bapak tadi menyuruh saya untuk memilih sendiri barang yang akan saya beli. Saya pun mengambil sebuah merk yang saya rasa bukan milik orang Yahudi (yang sebagian uang hasil produksiya untuk membantai kaum muslimin di penjuru dunia)

“berapa pak air minum dan ekstra josnya”

“4000 mas”.

“Oh ya ini pak. Sukron”.

Sambil menunggu berangkatnya armada bus, saya menyalakan MP3 yang saya pinjam dari teman sekontrakan yang saya isi dengan murotalnya Syaikh Misyari Rasyid Al Ifasi, untuk mendengarkan surah Al Anfaal. Ditengah asyiknya mendengarkan merdunya murotal, masuklah 2 orang mbak-mbak yang maaf (malunya hampir habis terkikis angin), dengan celana jins hanya setengah pahanya langsung duduk “jegang” dengan kaki kanan disilangkan di atas kaki kiri, mengambil duduk teap di kursi disebelah saya, dan yang satunya dibelakang pak sopir. Padahal jok di bagian belakang yang berisi dua kursi masih sangat banyak yang kosong…

Huh…… ini orang pakaian adiknya kok dipakai terus, ntar masuk angin gimana?. Batin saya dalam hati. Kok yaa ga punya malu sih?

Dengan hati deg-degan, saya putuskan untuk “menyingkir” dari kursi tersebut. Saya pindah ke kursi yang belakang. Ketika saya memutuskan pindah mbaknya berujar

“makasih ya mas”.

akhirnya setelah saya pindah mereka berdua bisa duduk bersebelahan.

“kurang ajar”, batin saya..

Awalnya saya ragu-ragu untuk memutuskan pindah kursi, dengan maksud saya mendengarkan murotal sambil menirukan dengan lidah saya agar mbak yang duduk di samping saya ini merasa bahwa saya ini orang muslim, tapi apakah masih ada perasaan menghormati bahwa saya seorang laki-laki muslim yang sedang duduk disampingnya??

Apa karena tampang saya yang jenggoten tipis dan kumis saya cukur habis menandakan saya seorang muslim yang akan mengambil langkah seribu kalau si mbak duduk didekat saya.

Kejadian hampir serupa juga terjadi ketika saya dalam kendaraan sewaktu balik. Dari arah Sragen ke Ngawi saya memutuskan untuk mengambil duduk di jok paling belakang yang masih kosong. Ketika sedang asyiknya mendengarkan murotal juga, masuklah serombongan anak-anak SMA cewek yang dengan candaan khasnya langsung duduk berjejer di dekat saya, baik di sebelah kanan maupun di sebelah kiri saya. Sehingga tinggallah saya laki-laki yang diapit oleh beberapa wanita baru gede. Dengan mangkel dan ngrundel saya putuskan pula untuk maju ke beberapa jok depannya yang masih kosong.

Hmmm… inikah sedikit gambaran sebagian kaum hawa yang rasa malunya telah dijual atau bahkan tanpa dibeli, rela dan ikhlas hati…

Nau’dzubillah min dzalik..

“Allah, apalagi adzab yang akan Engaku timpakan pada kami, jika kemaksiatan di depan mata kami, kami menjadi manusia kerdil yang tak berani menegurnya. Ampuni atas kesalahan dan kekhilafan kami Yaa Allah, dan berikanlah hidayahMu bagi mereka yang belum menemukan jalan terindahMu”

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.