Sabtu, awal Mei 2008 pukul 11.30, ketika dalam perjalan dari Ngawi menuju Semarang. Sesampainya di Termonal Tirtonadi Solo, saya memutuskan untuk naik Bus AC (bukan patas), yang memang keadaannya saat itu sedang panas . Ternyata saya menjadi penumpang pertamax (dapet diskon karcis ga yach hihi). Saya putuskan untuk menempati kursi paling depan, dengan harapan agar tidak tidur di perjalanan Solo Semarang. Sambil menunggu penumpang yang lain, beberapa pedagang asogan datang menawarkan jajanannya, yang pertama adalah seorang laki-laki yang sudah cukup tua datang menawarkan aneka kacang godok dan tahu asinnya,
“Kacang-kacang, tahu asin, kacang mas?, seribu rupiah aja”…
sampai dihadapanku saya lambaikan dengan isyarat tangan tanda tidak berminat dengan salah satu jajanan tersebut. Pedagang kedua adalah penjual Koran yang sukup terkenal di jawa tengah yang mengabarkan salah seorang bakal calon Guberur Jateng dalam Pilkadal Juni mendatang (yang juga di dukung oleh salah satu Partai Islam) dikabarkan dicekal dengan tuduhan kasus Korupsi. Saya pun tak ambil pusing dengan penjual Koran tersebut.
Pedagang ketiga adalah seorang penjual minuman kemasan, yang sejak saya naik bus mondar-mandir didekat bus yang saya naiki tersebut, lalu mendekati saya dan menawarkan dagangannya. Saya lihat dari penampilannya, orangnya cukup santun, penampilannya dengan celana di atas mata kaki, jenggotnya cukup tebal untuk ukuran orang Indonesia, dan jidatnya berwarna hitam. Akhirnya saya lihat barang dagangannya dan saya putuskan untuk membeli air minum kemasan. Ketika menawarkannyapun si bapak tadi menyuruh saya untuk memilih sendiri barang yang akan saya beli. Saya pun mengambil sebuah merk yang saya rasa bukan milik orang Yahudi (yang sebagian uang hasil produksiya untuk membantai kaum muslimin di penjuru dunia)
“berapa pak air minum dan ekstra josnya”
“4000 mas”.
“Oh ya ini pak. Sukron”.
Sambil menunggu berangkatnya armada bus, saya menyalakan MP3 yang saya pinjam dari teman sekontrakan yang saya isi dengan murotalnya Syaikh Misyari Rasyid Al Ifasi, untuk mendengarkan surah Al Anfaal. Ditengah asyiknya mendengarkan merdunya murotal, masuklah 2 orang mbak-mbak yang maaf (malunya hampir habis terkikis angin), dengan celana jins hanya setengah pahanya langsung duduk “jegang” dengan kaki kanan disilangkan di atas kaki kiri, mengambil duduk teap di kursi disebelah saya, dan yang satunya dibelakang pak sopir. Padahal jok di bagian belakang yang berisi dua kursi masih sangat banyak yang kosong…
Huh…… ini orang pakaian adiknya kok dipakai terus, ntar masuk angin gimana?. Batin saya dalam hati. Kok yaa ga punya malu sih?
Dengan hati deg-degan, saya putuskan untuk “menyingkir” dari kursi tersebut. Saya pindah ke kursi yang belakang. Ketika saya memutuskan pindah mbaknya berujar
“makasih ya mas”.
akhirnya setelah saya pindah mereka berdua bisa duduk bersebelahan.
“kurang ajar”, batin saya..
Awalnya saya ragu-ragu untuk memutuskan pindah kursi, dengan maksud saya mendengarkan murotal sambil menirukan dengan lidah saya agar mbak yang duduk di samping saya ini merasa bahwa saya ini orang muslim, tapi apakah masih ada perasaan menghormati bahwa saya seorang laki-laki muslim yang sedang duduk disampingnya??
Apa karena tampang saya yang jenggoten tipis dan kumis saya cukur habis menandakan saya seorang muslim yang akan mengambil langkah seribu kalau si mbak duduk didekat saya.
Kejadian hampir serupa juga terjadi ketika saya dalam kendaraan sewaktu balik. Dari arah Sragen ke Ngawi saya memutuskan untuk mengambil duduk di jok paling belakang yang masih kosong. Ketika sedang asyiknya mendengarkan murotal juga, masuklah serombongan anak-anak SMA cewek yang dengan candaan khasnya langsung duduk berjejer di dekat saya, baik di sebelah kanan maupun di sebelah kiri saya. Sehingga tinggallah saya laki-laki yang diapit oleh beberapa wanita baru gede. Dengan mangkel dan ngrundel saya putuskan pula untuk maju ke beberapa jok depannya yang masih kosong.
Hmmm… inikah sedikit gambaran sebagian kaum hawa yang rasa malunya telah dijual atau bahkan tanpa dibeli, rela dan ikhlas hati…
Nau’dzubillah min dzalik..
“Allah, apalagi adzab yang akan Engaku timpakan pada kami, jika kemaksiatan di depan mata kami, kami menjadi manusia kerdil yang tak berani menegurnya. Ampuni atas kesalahan dan kekhilafan kami Yaa Allah, dan berikanlah hidayahMu bagi mereka yang belum menemukan jalan terindahMu”