Berbagi Cerita

Januari 19, 2009

Krisis Gaza dan Krisis Global

Diarsipkan di bawah: Renunganku, sharing — masibnu @ 7:43 am

Menilik langkah Yahudi Israel yang berangsur-angsur menarik pasukannya dari beberapa wilayah penting di Jalur Gaza, setelah sejak 27 Desember menggempur salah satu markaz HAMAS, yang mengakibatkan lebih dari 1200 orang meninggal dunia (semoga menjadi syuhada’). Berbanding dengan 13 “penjagal” Israel yang Tewas, memang menimbulkan sebuah pertanyaan besar dalam benak kita. Langkah mundur Israel tersebut diambil setelah Israel menyatakan telah terpenuhi “target” penyerangan ke Gaza.

Jika menilik lebih jauh tentang beberapa stategi Yahudi “menguasai” dunia dalam rangka mendirikan Israel Raya, sebagaimana dipaparkan dalam Akar Konflik Palestina-Israel, memang beralasan jika kita melihat dalam skenario global Yahudi.  Menilik krisis global yang mendera negeri “boneka” Yahudi, siapa lagi kalau bukan Amrik, dan mulai hancurnya kepercayaan dunia pada finansialnya, maka tidak menutup kemungkinan yahudi memunculkan intrik untuk mengalihkan perhatian dunia dari krisis global, salah satunya yaitu dengan penyerangan ke Gaza. Untuk mencari dalih penyerangan tersebut rasanya tidaklah sulit, mengingat Gaza merupakan salah satu markaz HAMAS, kelompok militan perlawanan Israel.

Ketika dunia mulai beralih perhatiannya kepada konflik Gaza, maka Yahudi mampu kembali “pasang kuda-kuda” untuk memperbaiki perekonomian ribawi yang sedang sekarat tersebut. Jika memang waktunya persiapan “pembenahan” tersebut telah dirasa cukup, pasukan ditarik dari Gaza. Hal ini terlihat pula dari reaksi VETO Amrik atas Resolusi DK PBB ketika penyerangan baru berlangsung beberapa hari. Disamping itu target penyerangan Israel tidaklah murni mecari “militan” HAMAS sebagaimana alasan yang dikemukakan oleh Israel. Jika memang memburu HAMAS, tayangan di media tidak pernah menukilkan militan hamas yang tertangkap, ditawan ataupun disiksa sebagaimana penyarangan AMrik atas Iraq.

so, Bagi kaum Muslimin, mari selalu waspada atas tipu daya Israel Yahudi.

April 22, 2008

Jins dan Rohis

Diarsipkan di bawah: sharing — masibnu @ 7:06 am

beberapa waktu lalu, saya teringat akan sebuah cerita yang menurut saya agak lucu. yaa agak lucu. seorang ketua Rohis Fakultas di tempatku kuliah. ketika saya baru masuk kuliah di era 200x, yang langsung bergaul akrab dengan mas’ul rohis Fakultas. apalagi beliau satu kontrakan denganku (halah bahasanya, saya yang satu kontrakan dengan beliau). kami menempati satu-satunya “Base Camp” anak-anak rohis yang baru dibentuk.

seiring berjalannya waktu, ketika sang ketua Rohis hendak kuliah ke kampus untuk mengajukan proposal skripsinya, karena semua celana selain jins beliau kotor dan baru dicuci, maka dari pada tidak menghadap dosen mendingan pakai jins ke kampus.

tak disangka tak di duga, sekembalinya dari kampus, sang mas’ul rohis di SMS sama seorang Akhwat yang mengkomplain “Seorang mas’ul Rohis kok memakai Jins”. saya kurang faham apakah ini sebuah indikasi perhatian seorang akhwat kepada seorang ikhwan atau murni sebuah peringatan agar istiqomah dengan paradigma bahwa anak rohis tak pantas memakai jins. jika hal ini murni sebatas pehatian kepada mas’ulnya tanpa embel-embel “penyakit hati”, kok dalam kesempatan lain, ketika rambut kepala sang mas’ul sudah mulai panjang datang lagi Sms yang bernada “akh, seorang mas’ul lebih pas kalau rambutnya tidak gondrong”. sampai sejauh itu???

hmm. sampai saat ini pun saya tak habis pikir, image bahwa anak-anak rohis “tak pantas” memakai celana jins, seakan tetap terjaga kualitasnya :D . begitu pula ketika saya di beri tahu oleh salah seorang santri sebuah pondok pesantren putra di Semarang, bahwa terdapat peraturan dilarang memakai celana jins dengan pertimbangan celana jins merupakan sebuah bentuk lahwun dan lebih dekat menyerupai orang-orang KxfxR

terlepas dari itu semua, bagi saya pribadi yang memang sejak kecil tidak memiliki celana Jins (memang saya kurang suka dan biasanya harga jins relative lebih tinggi dari pada yang bukan jins). jika larangan memakai jins itu sudah menjadi sebuah peraturan di sebuah lembaga maka bagi saya itu sebuah peraturan yang memang harus diikuti, apalagi sebuah lembaga keislaman seperti ponpes yang memang dalam menentukan peraturan tentunya sudah dengan pertimbangan syariat.

Berbeda halnya jika hal itu sebuah image yang berkembang. Saya lebih bisa menerima memakai jins tetapi tidak isbal dari pada memakai selain jins tetapi masih isbal (apalagi dalam hal ini jika sudah dalam keadaan sholat). Walaupun memang terdapat perbedaan pendapat mengenai isbal ini. Antara dengan kesombongan dan tanpa kesombongan. Tetapi bukankah tidak salah memilih salah satu diantaranya yang saya nilai lebih kuat dasarnya. Tetapi dalam keadaan sholat saya mendapati larangan isbal menjadi jumhur ulama’. Berdasar sebuah riwayat bahwa suatu ketika ada salah seorang arab badui yang sholat 2 raka’at dengan isbal kemudian Rasulullah menyuruh arab badui tersebut untuk mengulangi sholatnya (mohon jika salah saya diingatkan).

Allahu a’lam

Maret 29, 2008

Presiden Nonton AAC

Diarsipkan di bawah: sharing — masibnu @ 7:48 am

pagi tadi, ketika sampai ditempat kerja langsung menyalakan televisi melihat berita terhangat (biasanya sehh hangat-hangat tahi ayam ). disamping berita kerusuhan di Kendari, salah satu berita yang cukup menarik minat saya adalah pak presiden SBY di dampingi beberapa jajaran menterinya menonton Film Ayat-Ayat Cinta.

* maaf bukan bermaksud mendukung film tersebut atau langsung menolak mentah-mentah kehadirannya, ditengah kontroversi film tersebut.

walaupun sebetulnya saya sendiri kurang Sreg dengan film tersebut jika dibandingkan dengan novel aslinya. btw, bukan disini tempat membahas beberapa perbedaan pendapat mengenai film tersebut. sudah banyak blog-blog yang berdiskusi panjang lebar tentang film tersebut.

yang ingin saya soroti adalah, pak presiden butuh hiburan yach . diantara ngurusin rakyat (semoga bener-bener ngurusin rakyat, bukan hanya ngurusin diri sendiri, keluarga atau par*** nya).

banyak sekali contoh seorang pemimpin yang dapat dijadikan contoh, Umar Ibn Khottob tak akan makan enak sebelum semua rakyatnya telah makan, dalam Sidak beliau (hehe) ditengah malam (beliau sering melakukan Sidak sendirian dengan pakaian rakyat jelata, agar tidak diketahui bahwa beliau adalah seorang amirul mukminin, berbeda dengan sidak jaman sekarang yang udah direncanakan jauh-jauh hari ), beliau mendapati seorang ibu yang dikelilingi beberapa anak kecil yang menangis minta makan. padahal ibu tersebut telah menanak sesuatu, bukannya gandum tetapi batu (kerikil) yang sedang dimasak, dengan harapan agar anaknya terkantuk dan tertidur dalam kelaparan lantaran menunggu masaknya barang yang sedng dimasak (kapan yach matangnya kerikil??)..

mengetahui hal tersebut, Umar bin khotob langsung manangis meninggalkan ibu tersebut dan langsung menuju kerajaan mengambil sekarung gandum yang hendak diberikan kepada ibu tersebut dengan beliau sendiri yang memanggulnya. ketika ada pembantunya berusaha memanggulnya beliau lantas berkata “apakah kelak di akherat engkau akan mampu memikul beban yang saya emban lantaran rakyatku kelaparan?”….. MasyaAllah
*dengan teks pribadi penulis.

atau contoh lain ketika Umar bin abdul aziz menjabat gubernur, beliau dalam keadaan gemuk (kalau tidak bisa dibilang tidak kurus), tetapi setelah kematian pendahulunya, Sulaiman bin abdul Aziz dan beliau dibaiat untuk menggantikannya, maka kondisi beliau jadi kurus kering lantaran memikirkan urusan rakyatnya…

memang berat amanah bagi seorang pemimpin…… jika ada salah satu rakyatnya yang kelaparan maka dia manusia pertama yang akan dimintai pertanggungjawaban.

jika melihat kondisi Indonesia yang masih banyak rakyatnya yang kelaparan, maka silahkan korelasikan dengan keadaan yang dijalani para pejabatnya….. …

sooo….(bagi saya pribadi) terkesan berita yang cukup lucu dan membuat gemez, ditengah banyaknya rakyat yang kelaparan, di tengah naiknya harga sembako, di tengah naiknya harga minyak, masih bisa santai dan leha-leha dengan seperti itu……………

Allahu a’lam bish showab

Januari 24, 2008

“Balapan”

Diarsipkan di bawah: sharing — masibnu @ 7:29 am

“Balapan” dalam bahasa jawa, sedang dalam perspektif keseharian kita mengenalnya dengan adu cepat.

kemarin, ba’da subuh saat masih umun-umun, mentari pun masih malu-malu menampakkan wajahnya, saat kaki mulai melangkah menuju tempat “ngetem” seperti biasanya. tetapi ada hal lain di luar kebiasaan. sudah dapat sebuah “wejangan” lewat HPku

“proposal penawarannya OMT segera di ajukan di SMA ..><..  nbiar ga kalah cepet dapat proyek dari yang laen”

oalah…..

gawe proposal maning.  proposal maning. belajar bahasa ngapak  :)
kalau proposal acara-acara tabligh akbar, bedah buku, proposal Kuliah sudah biasa. tetapi ini proposal yang tidak biasanya. belum pernah membuat proposal penawaran seperti ini sebelumnya.

saya coba meng_SMS bos, menanyakan  keberadaan proposal yang sejenis. walaupun sudah banyak menangani kegiatan sejenis selama hampir 4 tahun, tetapi biasanya hanya cukup dengan pendekatan lesan saja. Tetapi apa mau dikata, jawaban Bospun juga tak ada contoh serupa. yachhh..

bahkan siang ini dapat sms terbaru, dari TPC sudah memasukkan proposalnya ke “Target Operation”

——)(——–

semua memang kompetisi dan kompetisi………

kompetisi menjadi pribadi tebaik bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Sang Hakim Agung yang tak pernah meleset KeputusanNya.

Januari 21, 2008

beranikah?

Diarsipkan di bawah: sharing — masibnu @ 7:26 am

beranikah kita “menghukum” diri sendiri lantaran berbuat kesalahan yang sama??

(wuihh,,, ini bener2 lalai)

sebuah “hukuman” bagi diri sendiri (mungkin) efektif agar tidak mengulangi kesalahan yang lebih fatal.

tetapi BERANIKAH?……

Blog pada WordPress.com.