Berbagi Cerita

Februari 29, 2008

Ujian dan Pertolongan Allah

Diarsipkan di bawah: tugas — masibnu @ 7:58 am

Manusia dengan ragam dan corak kehidupannya memang sangat menakjubkan jika ditelusuri dengan seksama. Corak kehidupan yang kadang terasa manis, menggembirakan dan menyenangkan.  Tentunya tak ketinggalan pula rasa pahit dan bahkan terasa sangat menyakitkan. Kehidupan yang serba sulit kiranya sudah menjadi skenario yang harus dilalui manusia semasa hidup di dunia. Jika ada manusia yang membayangkan kahidupan di dunianya akan senantiasa manis dan lurus-lurus saja, maka hal itu hanyalah tinggal sebuah angan-angan belaka, jikapun ada maka hanya segelintir manusia yang mengalaminya. Banyak persoalan yang menghadang di depan kita. Entah itu masalah pribadi, keluarga atau pun yang lebih luas dari itu, masalah ummat yang sangat rumit dan kompleks

Sebagaimana sebuah pepatah “Roda kehidupan senantiasa berputar, kadang di atas dan kadang dibawah”. Hal yang lebih bijak adalah mensikapi keduanya dengan tetap berpegang teguh pada aturan syar’i. Ketika berada di atas lantas tak menjadikannya berbangga diri dan melupakan Allah Sang pemberi segala kenikmatan, dan digunakan kenikmatan tersebut dalam rangka beribadah kepada Allah.  Ketika berada di bawahpun lantas tak menjadikannya menjadi manusia yang kufur terhadap nikmat Allah, lantaran merasa sedikitnya nikmat yang Allah karuniakan, (padahal Allah seatiasa mengkaruiakan nikmat yang sangat banyak lagi berlimpah). Atau bahkan merasa Allah tak adil dengan memberikan banyaknya cobaan dan ujian baginya, sedang manusia yang lain begitu enak dan bahagianya (na’udzubillah mindzalik). “sungguh ajaib pribadi seorang muslim, jika dia dikaruniai kenikmatan maka dia bersyukur, jika ditimpa musibah maka dia bersabar, dan keduanya baik baginya”.

Begitula manusia, hanya ada 2 poros hikmah terbaik yaitu syukur dan sabar.  Begitu mudah manusia memaknai syukur, tetapi lebih sulit untuk benar-benar memaknai sabar. Mudah diucap sulit teraplikasi dalam kehidupan.

Kesabaran manusia akan seiring dan sejalan dengan perasaan ridlo atas Qodlo dan Qodar Allah. Jika kehidupan manusia terasa tak pernah keluar dari ujian-ujian Allah yang terasa berat dan bahkan sangat berat, maka memang Allah telah menggariskan jalan hidup yang harus dilaluinya dengan jalan seperti itu. Dengan banyaknya ujian tersebut Allah akan menghapus dosa-dosanya dan meninggikan derajadnya. Dosa-dosa yang tak mampu dihapus hanya dengan taubat semata, tetapi dengan ujian yang bertubi-tubi, sehingga keluar dari ujian menjadi manusia yang bersih laksana bayi yang baru lahir dari rahim sang ibu. Disamping itupula Allah meyediakan kedudukan yang tinggi di Jannah yang tak dapat digapai oleh seorang hamba melainkan dengan ujian yang diterimanya, bukan lantaran amalan baik yang dilakukannya.

Sekiranya buka karena merasakan pedihnya siksa yang dilakukan oleh orang-orang Qurays kepada keluarga Yasir, niscaya takkan mendapati derajad “bersabarlah wahai keluarga Yasir, Sesungguhnya yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga”. Begitu pula sebuah contoh kisah yang membuat hati kita tergucang ketika membacanya. Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Baihaqi dari Jabir bin Abdullah, Ketika Abdullah bin Amru bin Haram terbunuh dalam medan Uhud, Rasulullah Shalallahu’alaihi wassallam bersabda “Wahai Jabir, maukah kamu aku beritahukan apa yang Allah kataka kepada ayahmu?”. Tentu saja wahai Rasulullah”, jawabku. Lalu Rasulullah Shalallahu’alaihi wassallam bersabda “Allah selalu berbicara dengan siapapun dari balik hijab, tetapi Dia berbicara dengan ayahmu secara langsung. Dia  berkata “Wahai hambaku, mintalah sesuatu kepada-Ku ,niscaya aku akan memberikanya!. Ayahu berkata “Duhai Rabbku, hidupkanlah aku sekali lagi supaya aku dapat terbunuh di jalanMu untuk yang kedua kali.”  Lalu Allah menjawab “Sesungguhnya Aku telah putuskan, bahwa orang-oran yang meniggal dunia takkan kembali lagi ke sana’. “Wahai Rabbku, kalau begitu sampaikanlah keadaanku kepada orang-orang yang berada di belakangku’, kata ayahmu. maka Allah mnurunkan firmanNya :”Jangalah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup disisi RabbNya dengan memperoleh rezki (Ali Imran:169)

Tujuan akhir manusia adalah keredlaan Allah yang implikasinya adalah dimasukkan ke dalam JannahNya, maka berapa banyak manusia yang merasa bahwa amal baik yang dilakukannya sudah cukup sebagai penebus jannah Allah. Seakan ia lupa bahwa dimasukkannya manusia ke Jannah Allah karena RahmatNya. *Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa di akherat ada seorang manusia yang akan dimasukkan ke dalam jannah “Wahai malaikatku, masukkanlah si fulan ke dalam jannah karena RahmatKu” maka si fulan berusaha “memprotes” keputusan Allah. apakah masuk jannah bukan karena ibadahnya yang banyak ketika di dunia?. Maka Allahpun kemudian menimbang antara nilai ibadahnya dengan nikmat Mata yang dikaruniakan kepada si fulan. Dan didapatinya nilai amalan ibadahnya tak mampu menebus nikmat yang hanya berupa nikmat mata. Allahu akbar..

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Meraka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : “bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah : 214)

 Ibnu katsir menjelaskan bahwa : Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Abul ’Aliyah, Sa’id bin Jabir, Murah al Hamadi, Hasan Al Bashri, Qatadah, Adh Dhahak, Rabi’ bin Anas, As Suddi, dan Muqatil bin Hayyan berkata bahwa Al Ba’saa’ berarti kefakiran, Adh Dharra berarti penyakit, wa zulzilu berarti dibuat terguncang jiwa mereka dengan goncangan yang keras dari musuh, dan mereka diuji dengan berbagai cobaan yang berat”. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits shahih, dari Khabab bin al Arat ia menceritakan kami tanyakan :

“ Ya Rasulullah, mengapoa engkau tidak memohon petolongan untuk kami, dan mengapa engkau tidak mendoakan kami?”, maka beliaupun bersabda”Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada yang digergaji pada tengah-tengah kapalanya hingga terbelah sampai kedua kakinya, namun hal itu tidak memalingkan dirinya dari agama yang dipeluknya. Ada juga yang tubuhnya disisir dengan sisir besi sampai terpisah antara daging dan tulangnya, namun hal itu tidak menjadikannya berpaling dari agamnya. Selanjutnya beliau bersabda: “Demi Allah, Allah benar-benar akan menyempurnakan perkara (agama) ini sehingga seorang yang berkendaraan dari Shan’a menuju kje hadramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan hanya mengkhawatirkan serigala atas kambingnya. Tetapi kalian adalah kauim yang tergesa-gesa”.

Allah berfirman :

Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahuia orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (Al Ankabut : 1-3)

Maka banyak contoh betapa beratnya ujian yang telah dilalu orang-orang sebelum kita. Salah satu ujian yang dijalani para sahabat adalah ketika terjadi perang Ahzab, sebagai mana Allah firmankan :

“(yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan batinmu naik menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Disitulah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata : “Allah dan Raslul_Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya” (Al Ahzaab : 10-12)

Dalam lanjutan fiman Allah dalam Al Baqarah tadi : “Dan mereka digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : “bilakah datangnya pertolongan Allah?”.

Kemudian Allahpun berfirman “dan ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat, sebagaimana Allah firmankan “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Alam Nasyrah : 5-6)

Dengan mengambil sedikit contoh bahwa cobaan yang Allah berikan kepada manusia merupakan salah satu bukti cintanya Allah pada hambanya yang beriman, maka Allah tak ridla jika hambanya tersebut masuk jannah dengan menyisakan dosa yang tak mampu dihapus dengan hanya sebatas taubat.

Maka marilah berusaha jujur pada diri sendiri, jika dibandingkan dengan ujian-ujian yang Allah berikan kepada ummat-ummat terdahulu, maka ujian yang menimpa diri kita ada pada tingkatan yang mana?, semakin berat keimanan manusia maka ujian yang diterimanya akan semakin berat pula, dan seberat-berat ujian adalah ujian yang diterima oleh para Nabi dan Rasul. Nabi Nuh yang berdakwah ratusan tahun hanya mendapat pengikut segelintir saja, nabi Ibrahim yang dibakar oleh Namruj, Nabi Ayub yang diuji dengan sakit sampai istrinya meninggalkannya, nabi Yunus yang beada dalam perut ikan sampai beberapa saat, nabi Yahya yang digergaji,  begitu pula Rasululah Shalallahu’alaihi wassallam yang mendapat “hadiah” lemparan batu dan kotoran unta hinga kaki beliau berdarah ketika berdakwah di Thaif, atau di lempari kotoran unta ketika sedang beribadah di dekat ka’bah. Begitu pula dengan ujian yang diterima oleh para shahabat Radliyallahu ’anhum. Bilal yang di jemur tapa pakaian di padang pasir karena teguh pendirian, begitu pula Khalifah kelima ‘Umar bin Abdul Aziz yang mengenyam pahit getirnya memegang kebenaran dan keadilan, hingga dalam sebuah atsar disebutan serigala yang rujuk dengan seekor domba.

Sehingga dengan melihat dan berkaca pada hal tersebut akan muncul sebuah titik temu berapa kadar keimanan kita. Tingkatan berapa kita sedang berpijak. Tetapi kebanyakan kita sekaran pada kondisi yang sebagaimana Rasulullah Shalallahu’alaihi wassallam sabdakan  Tetapi kalian adalah kauim yang tergesa-gesa”. Tergesa-gesa dalam kekurang sabaran kita menerima ujian dari Allah. Jika memang Allah telah berkenan untuk mencabut ujian yang diberikan kepada hambaNya maka itu sebuah hal yang sangat mudah bagi Allah. “dan ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. Pertanyaan yang kita ajukan pada diri kita adalah seberapa sabar dan Ridla kita menerima ujian dan cobaan yang menimpa diri kita, hingga pertolongan Allah benar-benar telah datang.

 

Bagaimana Agar turun Pertolongan Allah?

 

Tentunya bukan hanya menunggu sebuah pertolongan yang jatuh dari langit dengan tiba-tiba. Dunia merupakan tempatnya sebab akibat, jika mengharapkan akibat maka usahakan sebab-sebabnya terlebih dahulu. Sebagaimana sebuah contoh yang sangat mengagumkan ketika Allah memberikan perintah kepada Ibrahim agar meninggalkan Hajar dan Ismail di tengah padang pasir yang tandus. Ketika  Hajar dan Ismail kehabisan air minum, maka dengan sekuat tenaga Hajar berikhtiyar sekuat tenaga dengan berlari-lari mencari air dari bukit Shafa ke bukit Marwa sebanyak 7 kali. Baru kemudian Allah menurunkan pertolonganNya dengan memberikan sumber air dari pasir yang “ditendang” oleh Ismail. Secara logika kita (mungkin) akan meragukan bahwa dengan ikhtiyar berlari-lari antara Shafa-Marwa akan mampu mendatangkan pertolongan Allah. tetapi itulah salah satu Rahasia Allah. jika memang telah mencurahkan kamampuan semaksimal mungkin nisacaya Allah akan menurunkan pertolonganNya dari jalan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Manusia hanya diminta yakin akan pertolongan Allah sambil berikhtiyar. Biarlah Allah yang akan menentukan bentuk PertolonganNya.

Bagi seorang pengemban risalah Kenabian, pengusung panji-panji Dieullah agar tegak di muka bumi, biarlah Allah yang akan memberikan bentuk pertolonganNya, dengan tegaknya Dienullah atau gugur menjemput syahid di jalan Allah. Keduanya mulia disisi Allah. itulah bentuk pertolongan Allah yang paling mulia diantara pertologan pertologan yang lain semasa di dunia, yang akan didapat oleh pengusung dieullah.

Salah satu syarat agar turunnya pertolongan Allah adalah kita menolong Agama Allah. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.(Muhammad : 7) Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz menjelaskan dalam sebuah ceramahnya yang kemudian dibukukan, setelah membawakan ayat 7 Surat Muhammad. Beliau berkata, ”Maka inilah bentuk pertolongan kepada Allah dengan melakukan perintah–perintah Nya dan meninggalkan larangan–larangan Nya dengan keimanan dan keikhlasan kepada Allah serta mentauhidkan-Nya, juga keimanan kepada Rasul-Nya…. Maka menolong agama Allah adalah dengan mentaati Allah, mengagungkan-Nya dan ikhlas kepada-Nya, serta mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, mengamalkan syariat-Nya karena menginginkan pahala darinya dan untuk menegakkan agama-Nya.”

”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”(Ath Thalaq:2). Berkata lagi Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, ”Jadi, siapa yang menginginkan datangnya pertolongan Allah dan keselamatan bagi agamanya serta menginginkan kesudahan yang baik, maka hendaklah bertakwa kepada Allah, dan bersabar dalam ketaatan kepada-Nya. Juga hendaknya menjauhi larangan–larangan Allah dimana pun dia berada. Inilah sebab–sebab pertolongan Allah padanya…”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya’. (HR. Muslim), Imam Ibnu Atha’ilah menegaskan pesan takwa ini, “Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun, hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu agar tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Tuhanmu”.

 Allahu A’lam bish Showab

 

* tugasku minggu ini

Blog pada WordPress.com.