Berbagi Cerita

Januari 5, 2010

Nilai Ikhtiyar

Filed under: kisah sarat makna,petualangan — masibnu @ 7:25 am

Sebuah catatan sore kemarin, semoga bermanfaat.
Sepulang dari gunung, entah kenapa atas bibir bawah hidung mengalami pembengkakan yang cukup besar. Hingga terlihat lucu wajahku. Terasa bukan diriku yang sebenarnya. Pembengkakan hingga sampai pipi yang cukup “kempis” ini. jadilah pipiku “endut”. Gigi bagian atas juga terasa ngilu. Tak kuat rasanya untuk mengunyah makanan. Ujung-ujungnya hanya makan bubur yang dengan sedikit kunyahan langsung bisa ditelan. Kejadian ini berlangsung beberapa hari.

Tetapi hari kemarin memang begitu spesial. Pagi hari setelah mengantar istri menuju tempat aktivitas, saya putuskan ke kantor Baitul Maal. Keadaanya terasa tambah tidak baik. Naik motor terasa limbung. Istirahat saja, pikir saya. Ba’da dhuhur ternyata tak jauh beda. Istirahat di “kantor” yang satunya. Ba’da asar bukannya mendingan terasa tambah berat. Kepala ikutan merasakan nyut-nyut-nyut. Ah mendingan ke klinik dulu aja sebelum pulang sebagaimana masukan yang istri sampaikan hari Ahad.

Masuk klinik, bincang-bincang sebentar dengan dokter muda yang sedang jaga. Analisa awalnya bisa jadi alergi dingin mungkin. Tapi sudah puluhan kali naik gunung tidak pernah punya riwayat alergi dingin. Kemudian analisa yang kedua bisa jadi digigit serangga tanpa sepengetahuan. Hmmm bahaya juga nich. Kemudian diberi obat dengan aturan minum standart.Dari klinik saya putuskan langsung pulang ke rumah menggunakan jasa si roda enam.

Sampai di rumah, berhubung nasi dan sayur belum matang, saya putuskan untuk mengolesi bagian yang sakit dengan minyak oles seperti 2 hari sebelumnya. Masya Allah, tak berapa lama rasa sakit, perih dan panas di atas bibir berangsur-angsur mulai reda. Malam hari setelah makan bubur baru saya minumobar yang diberikan dari dokter muda di klinik.

Hmmm.. yang kita butuhkan sebenarnya hanyalah ikhtiyar untuk urusan di dunia ini. Ikhtiyar se maksimal mungkin. Tentunya diiingi do’a. Jalan kesembuhan terkadang bukan efek langsung dari obat yang diberikan, tetapi anugerah Allah. Allahu a’lam…

Desember 21, 2009

Nilai

Filed under: lebih serius,Renunganku — masibnu @ 7:17 pm

Jika teringat masa sekolah dahulu, mungkin kita akan sangat bangga jika memperoleh nilai sempurna atau nilai tertinggi di kelas. Bahkan bisa jadi dengan modal nilai tertinggi tak jarang akan menjadi modal untuk bersikap takabur.Bisa jadi nilai yang diperoleh mencerminkan kemampuan seorang siswa bisa jadi pula nilai yang diperoleh merupakan nilai “manusiawi”. Sebagaimana cerita seorang guru yang mempunyai pengalaman mengajar di sekolah yang terkenal kelas “buangan” bagi para siswa. Bukan hanya “buangan” dari segi kecerdasan, tetapi juga “buangan” dari segi akhlaqnya. Tetapi kebijakan yang diambil oleh sekolah memberikan nilai A dan B kepada hampir seluruh siswanya.

Jika memang demikian, kiranya siapa yang lebih patut untuk disalahkan?. Apakah memang standart “benar dan salah” bagi ummat manusia telah mengalami pergeseran?. Bukankah yang dinamakan kebenaran adalah jika setiap manusia bertanya pada hati nurani yang paling dalam akan mengatakan itu perbuatan benar. Dan jika seorang manusia melakukannya tidak ada secuilpun perasaan takut dilihat orang.

Kiranya kesalahan memang tidak hanya bertumpu pada pihak sekolah yang memang mendapat “jatah” murid yang kelas buangan, sehingga harus berusaha sekuat tenaga agar siswanya “baik”. Tetapi terkadang tuntutan terhadap standart yang dibuat seakan mengharuskan berbuat seperti itu. Ataukah disisi lain sang siswa hanya melaksanakan “tes” hanya sekedar menjalankan sebuah kewajiban sebagai seorang murid. Toh nantinya nilai akan “dibuat” oleh dewan guru. Bukan motivasi memperoleh nilai terbaik.

Terlepas dari itu semua, kiranya ketika masih hidup di dunia ini, banyak “nilai-nilai” yang belum bisa mencerminkan keadaan obyektif sang pemilik nilai. Manipulasi dan rekayasa seakan sudah bukan barang tabu. Bisa diutak-atik, direvisi, dimanipulasi. Tetapi jika sudah berhubungan dengan “nilai” disisi Allah, maka tidak ada lagi urusan utak-atik, revisi, manipulasi.

Segala yang telah diperbuat manusia akan mendapatkan nilai disisi Allah. Baik nilai plus atau nilai minus. Nilai plus tentunya dalam bahasa kita adalah nilai yang diberikan sebagai “upah” bagi kebaikan yang dilakukan, begitu pula nilai minus diberikan sebagai “balasan” atas keburukan yang diperbuat.

Sehingga bagaimana upaya seorang manusia untuk mendapatkan nilai plus atau bahkan nilai paling baik disisi Allah merupakan sebuah usaha yang butuh pengorbanan. Bukan hanya sebagai penggugur kewajiba seorang “abdi” kepada “Majikan”, tetapi memberikan yang terbaik sekuat dan seoptimal mungkin. Tentunya hal ini harus sesuai dengan keinginan “Sang Majikan”. Bukan hanya atas dasar motivasi ingin memberikan yang terbaik sekuat tenaga tetapi dalam perspektif Majikan justru akan membuat kerusakan. ….

Desember 20, 2009

Walimahan Lagi

Filed under: petualangan,santai aja..,sharing — masibnu @ 7:47 pm

Siang tadi, Allah masih memberikan kesempatan untuk saya dan istri memenuhi sebuah undangan walimatul ‘ursy yang di adakan oleh salah seorang ikhwan di Semarang. Acara yang di adakan mulai pukul 11.00 itu berlangsung sangat meriah. Mengapa meriah?, lha wong acaranya aja di lingkungan pusat keramaian Semarang, simpang lima.

Walaupun agak telat, tetapi alhamdulillah masih sempat memberikanucapan selamat bagi mempelai laki-laki. Barokallahu laka wabaroka ‘alaika wajama’a bainakuma fie khoir. Tampak raut wajah yang berseri-seri.

Kemudian fokus saya sedikit berubah. Setelah memberikan ucapan selamat maka perhatian tertuju pada hidangan yang disediakan. Tanpa menunggu komando lebih lanjut langsung saya menyerbu hidangan yang disediakan. Keadaan pun sangat mendukung. Tamu ikhwan dan akhwat yang dipisah seakan mendukung untuk tidak malu-malu mengambil hidangan yang disediakan. Tak ada lagi malu-malu kucing lantaran bercampurnya ikhwan dan akhwat.

Makan siang yang maknyus, apalagi ditambah es krimnya. hmmm…. nyummy. Kebahagiaan saya siang itu agak berkurang lantara ternyata disisi lain sang istri sudah tidak kebagian lauknya. Duhh.. tau gitu bisa berbagi nich.

Memang hanya sedikit kita jumpai acara walimahan apalagi dilaksanakan di gedung yang cukup mewah dengan memisahkan tamu laki-laki dan perempuan (ikhwan dan akhwat). Berkaca dari beberapa statemen dari teman-teman yang menghadiri undangan walimahan yang tamu laki dan perempuan di pisah. Mereka mengatakan tidak lagi malu-malu untuk mengambil hidangan yang disediakan.Begitu pula jika bertemu dengan kolega, teman, atau saudara jauh yang telah lama tidak berjuma. Mereka akan merasa nyaman berbincang-bincang sambil menyantab makanan yang tersedia.

Di kalangan akhwatpun ternyata tak jauh berbeda. Sebagaimana yang disampaikan lewat istri, ternyata mereka (kalangan akhwat) jika telah dipisah memang tidak ada lagi malu-malu mau ngabil hidangan. Berbeda halnya jika dijadikan dalam satu lokasi (tidak di hijab). Sebagai seorang wanita, perasaan malu mau mencicipi semua hidangan sanatlah besar. Apalagi di sana kaum adam juga “bergentayangan” memperhatikan tingkah polah nya. Sebagai bukti, siang tadi. istri sampai tidak kebagian lauk, hehe

Itulah sediki faedah yang bisa di dapat jika melaksanakan walimahan yang berusaha sesuai syariat. Dimana terjadi pemisahan antara tamu laki-laki dan perempuan. Walaupun saat ini masih menjadi barang asing. Jak jarang  pula tamu yang belum faham menjadi kebingungan lantaranmereka datang bersama istri/ suaminya. Tentunya nilai yang lebih besar adalah acara “sakral” pernikahan yang merupakan sebuah sunnah nabi akan benar-benar bernilai ibadah disisi Allah (insyaAllah) yang tidak di cemari dengan kemaksiatan. Ikhtilath (bercampurnya) laki-laki dan wanita non mahrom dalam suatu lokasi merupakan sebuah kemaksiatan tersendiri. Kiranya kita tidak mengharapkan kebahagiaan mempelai berdua akan tercoreng di sisi Allah dengan pelaksanaan yang jauh dari tuntunan syariat.

November 28, 2009

“Cicak Vs Buaya”

Filed under: Renunganku — masibnu @ 7:18 pm

Entah apa sebenarnya yang terjadi di negeri Entah brantah. Berapa lagi kejanggalan yang harus “dinikmati” oleh kawulo alit untuk memupuk ketidakpercayaannya kepada penegak hukum. Jika sekali dilakukan bisa diaktakan itu sebuah kekhilafan dan tentunya diikuti dengan permintaan maaf serta tidak akan mengulanginya lagi. Kenyataannya, kasus “Cicak Vs Buaya” yang berbuntut kemana-mana tak kunjung selesai.

Untuk kasus yang ukurannya “Buaya” malah nonggrok tak sampai meja hijau. Tetapi kasus yang kelasnya “Cicak” malah sampai vonis pengadilan. Sebagaimana rentetan berita yang dapat kita temukan di media. Dimulai dari kasus mbah Minah yang mencuri 3 buah kakau di Banyumas yang senilai 2100 rupiah, kemudian sebuah keluarga di Batang yang mencuri 2 kg kapas senilai 4000 rupiah dan terakhir kasus pencurian 1 buah semangka oleh Basar dan Kholil di Kediri yang menjadikannya merayakan Iedul Adha di dalam tahanan.

Memang sih, untuk memburu “buaya” dibutuhkan keberanian dan peralatan yang lengkap beserta manusia yang pengalaman. Jika dengan peralatan yang seadanya bisa jadi nyawa yang jadi taruhannya. Berbeda halnya jika memburu “cicak”. Bermodalkan ketrampilan tangan kosong mampu membuat “cicak” tak berkutik. Ironis memang…….

Banyak kalangan yang kemudian menyerukan adanya reformasi total di lembaga-lembaga penegak hukum. Pertanyaan yang muncul, Apakah dengan reformasi total aparatnya akan menjamin hukum akan membawa keadalian bagi umat manusia?. Kisha pergantian tampuk dari Soekarno, kemudian era Soeharto, Habibie, Megawati, dan terkini era SBY masih banyak dibumbui ketidak adilan bagi masyarakat.

Sebagian besar masyarakat pun sudah mulai apatis dengan melontarkan statement-statemen “Siapapun aparatnya paling ga bakalan beda, ga ngefek”. Lantas adakah yang berfikir jika pertanyaan yang utama adalah mengganti hukum yang ada? Menggantinya dengan hukum buatan Dzat yang mencipta manusia, yang mengetahui seluk beluk tentang manusia. Jika penegaknya berusaha sekuatnya menegakkannya akan bernilai ibadah di sisi-Nya. Bagi yang “terpeleset” dalam berijtihad dalam ruang lingkupnya akan tetap mendapat pahala 1 dan bagi yang benar dapat pahala ganda. Hmmm.. kiranya ini perlu kita renungkan. “Dan barang siapa yang memutuskan hukum selain dengan yang diturunkan Allah maka dia adalah kafir (5 :44), Dan barang siapa yang memutuskan hukum selain dengan yang diturunkan Allah maka dia adalah dlolim (5 :45), Dan barang siapa yang memutuskan hukum selain dengan yang diturunkan Allah maka dia adalah fasik (5 :47)”.

November 26, 2009

aku berkunjung

Filed under: ga penting-penting amat — masibnu @ 7:29 am

setelah hampi 1 tahun lamanya meninggalkan rumah di wordpress, kini saatnya hampir tiba untuk kembali membenahi beranda rumah. sambut aku datang……………. (halah ga penting-penting amat)

Februari 26, 2009

Aku Rindu

Filed under: resah — masibnu @ 7:01 am

Sore ini, saat hujan rintik rintik, aku sendiri menatap layar monitor. Ada yang bergemuruh di dalam dada. Endapan kristal yang bergemuruh yang tak mampu terbendung lagi, kini tumpah menguraikan kesedihan. Ada yang bergejolak di dalam jiwa. Semua beradu memainkan nuansanya…Dengan segenap hati kurangkaikan kata demi kata untuk mengobati kerinduanku. Kerinduan pada mereka yang kini entah di mana. Aku merasa kehilangan…sangat kehilangan! Karena itu, kucoba tuliskan rinduku, pada mereka yang dulu…

Ah, masih terekam dalam ingatan seorang ikhwan yang rela berjalan kaki sejauh 10 KM seminggu 2 kali untuk mengajar anak-anak kecil belajar membaca Al Qu’ran. Mengeja A Ba Ta Tsa. Berangkat pukul 2 siang dan kembali ke rumah selepas jam 8 malam. Atau “terpaksa” menginap di salah satu rumah penduduk lantaran jalan tidak memungkinkan, karena harus menyeberang sungai dan keadaan sedang banjir. Semua itu tanpa “gaji” dari manusia walau hanya sepeserpun.

Aku rindu ikhwan di sebuah kecamatan yang cukup pelosok yang sibuk lalu lalang kehujanan hingga sakit saat itu juga lantaran mengurusi Acara Kemah lomba antar TPQ se-kecamatan. Aku rindu seorang ikhwan yang pembicaraannya untuk urusan dakwah dan jihad, mengalakan pembicaraan tentang akhwat yang terasa bak bidadari surga sedang singgah dirumahnya, menyapa dengan seutas senyum manisnya.

Aku rindu, ikhwan-ikhwan yang rela kehujanan berjalan kaki untuk mendatangi sebuah majelis ilmu. Berjalan kaki 3 KM, 2 atau 3 orang atau bahkan hanya seorang diri. Walaupun kondisi jalan gelap gulita yang saking gelapnya tak mampu melihat orang yang ada didepannya. Pernah dia hampir bertabrakan dengan seorang ikhwan lain yang melintas didepannya sepulang dari sebuah acara. Ia berjalan hanya menggunakan “insting naluri” telah sering melewati jalan tersebut baik siang ataupun malam. Jangan ditanya jam pulangnya, paling cepat pulang dari tempat acara jam 11 malam.

Aku rindu, ikhwan-ikhwan yang hampir 2 minggu sekali berenang. Jangan dibayangkan berenang di kolam renang yang enak setelah itu disuguhi santapan pengganjal perut. Bukan!. Mereka melakukan renang di sungai yang cukup besar lagi dalam dengan aliran yang cukup deras pula. Tentunya lokasi jauh dari tatapan orang-orang yang lalu lalang. Jangan bayangkan pula menuju lokasi dengan mudah karena jalan sudah halus diaspal goreng. Mereka menuju lokasi dengan berjalan kaki pula dan harus mendaki dan menuruni sebuah bukit yang cukup tinggi dengan waktu perjalanan paling cepat 1 jam. Jalan yang dilalui hanyalah jalan setapak yang hanya cukup dilalui oleh seorang saja sehingga arus berjejer ke belakang. Sesekali pula melewati tepi jurang yang dalam yang jika terperosok ke dalamnya resiko paling ringan patak tulang. Perna 2 kali kejadian jatuh ke jurang dan ditemukan di pinggir sungai dengan diiringi lantunan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Sesekali pula disaat renang diselingi dengan tarung diatas pasir di tepi sungai hingga salah satu diantara mereka menjadi pemenang turnamen.

Aku rindu, majelis muroja’ah hafalan, yang seminggu sekali setor untuk didengarkan tambahan hafalan tentang ayat-ayat yang menentramkan jiwa. Muroja’ah dengan penuh penghayatan. Seakan tidak ada kedamaian hati selain mengulang dan terus mengulang ayat demi ayat sambil berusaha mengingat dan meresapi arti dari ayat yang sedang diucapkan.

Aku rindu,!! Ikhwan ikhwan yang berusaha sekuat tenaga menjaga lisannya. Yaa menjaga lisannya dari mengucapkan kesanggupan melakukan sebuah amanah tetapi kenyataannya belum mampu dilakukan sesuai dengan batas waktu yang disanggupinya. Bukan hanya mengucapkan sanggup melakukan amanah dengan deadline waktu, tetapi lebih dari itu, berusaha melakukan amanah dengan hasil yang terbaik. Karena mereka sadar, amanah yang diembannya akan berimbas pada terbengkalainya rentetan amanah dakwah yang diemban oleh ikhwan yang lain.

Aku rindu, ikhwan lajang yang meluangkan banyak waktunya untuk kemakmuran masjid. Jika ingin mencarinya cari saja ikhwan tersebut di masjid nisacaya akan dijumpainya. Dan setumpuk rinduku pada ikhwan-ikhwan yang aku tak lagi berkenan untuk mengungkapkannya…..

Februari 24, 2009

Hidup Ini Terlalu Indah untuk Disesali

Filed under: Renunganku — masibnu @ 7:49 am

Jalinan hidup manusia adalah sebuah rangkaian puzzle yang susah untuk ditebak. Terkadang menjadi begitu rumit dan di lain waktu begitu mudah terurai permasalahan hidup. Di lain waktu pula sebuah episode hidup terkadang menjadi sebuah penyesalan yang tak kunjung berhenti. Epiode “terbodoh” yang dilakukan oleh seorang anak manusia. Yach begitu mudahnya untuk menyebut episode “terbodoh” yang dilakukan lantaran menurut perspektif manusia melakukan perbuatan yang tidak bernilai atau terkesan cenderung ceroboh.

Memang tidak perlu dipungkiri, kesalahan menjadi bumbu-bumbu penyedap kehidupan manusia. Toh tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan. Kesalahan menjadi pendidik paling berharga dalam kehidupan.

Masih segar dalam ingatan kita, masa-masa kecil, lantaran tidak membantu ibu mencuci piring, atau membantu ayah mencari rumput untuk makanan ternak, karena keasyikan bermain sepanjang hari. Lantas sore harinya mendapat teguran atau bahkan yang lebih keras dari itu “dimarahi” sang ayah. Dalam waktu seketika sang anak pastilah jadi ikut mangkel atau bahkan jadi ngambek lantaran dimarahi orang tua. Tidak tanggung-tanggung, bias jadi sang anak jadi ogah makan, ogah minum dan membiarkan dirinya kelaperan sepanjang malam. Sebagai bentuk “protes” meraka atas apa yang baru diterimanya. Bukankah masa kanak-kanak adalah masa bermain? Seandainya anak yang masih kecil telah mampu membantah.

Lantas bagaimana persepsi orang tua??. Sesuaikah dengan persepsi anak saat itu?. Bukankah teguran dan “marah” dari orang tua hakekatnya kembali untuk mengingatkan anaknya, agar tidak melupakan “membantu” orang tua.

Sepenggal kisah “sedih” tinggal meramu menjadi kenangan “manis”. Dengan sedikit merubah persepsi tentang hal itu. Bukan terbawa arus untuk menangisi berlarut larut hingga sebuah penyesalan tak kunjung henti. Toh orang tua yang meninggal tak kan kembali bangkit dan hidup kembali lantaran tangis sang anak selama sebulan penuh. Penyesalan yang tak kunjung henti takkan mampu merubah keadaan. Nasi yang terlanjur menjadi bubur bukanlah menjadi barang yang tak memiliki nilai guna. Tinggal menambahkan ayam dan bumbu-bumbu yang lain hingga menjadi bubur ayam yang lezat disantap dikala pagi.

Penyesalan tiada henti tak layak selalu dikumandangkan. Belajar dari kesalahan dan bangkit dari keterpurukan!. Bukankah penyesalan di dunia tak seberapa dibanding penyesalan di akherat???

Februari 3, 2009

Minimalis, Oke tuh

Filed under: petualangan — masibnu @ 7:18 am

Ahad, saya beserta rombongan berkesempatan jeng-jeng silaturohim ke kota spirit of java. Manalagi kalau bukan Solo. sempet mampir juga di Sukoharjo untuk nunut ngiyup kok sekalian dikasih ngombe, alhamdulillah (hehe).

Walaupun kondisi hujan lebat, kami ber 6 tetap meneruskan perjalanan ke tempat kang burhan. Awalnya sempat dibuat bingung, belum mengetahui alamat lengkapnya, pokoke asal jalan dan asal menghubungi yang bersangkutan.

Dari jembatan palur ke sini, ada lampu merah (berhenti dulu) kalau ijo baru jalan, lalu belok sini, mentok dan ketemu rumah minimalis… wuihhhh. sejuk bener. minimalis dan cukup buat hidup. Apalagi pemandangan di depan rumah yang terhampar luas dengan pematang sawah dan pegunungan yang menjulang tinggi. Kalau malam masih di iringi nyanyian alam oleh jangkrik-jangkrik yang bersenandung wujud mereka bertasbih kepada Allah.

Untuk lebih lanjut kita lihat apa kata mereka tentang jeng-jeng kami. Kang IWanK dan sang empunya sendiri kang Burhan

Januari 29, 2009

Lompatan Hidup

Filed under: get the spirit — masibnu @ 7:13 am

Tidak semua anak manusia melalui jalur hidup yang selalu enak dan menggembirakan. Tidak selalu berada pada jalan yang lempeng lagi alus sehingga sejak start mesin bisa digeber teratur meningkat kecepatannya. Tetapi ada kalanya mesin sedang bermasalah, baik itu karena aus akibat gesekan, mlepek lantaran musim penghujan kebanjiran, atau memang karena mesinnya udah ga punya tenaga alias sudah saatnya dimusiumkan.

Jika kondisi memaksa untuk istirahat sementara waktu lantaran sedang mengalami masalah dengan mesin, maka ketika mulai memacu kendaraannya butuh kecepatan yang lebih dibanding yang lain sehingga mampu menyusul ketertinggalan.

Hidup terkadang identik dengan hal itu. Saat merasa tertinggal dari yang lain, maka butuh lompatan hidup untuk menyusul mereka yang telah melaju. Tidak menutup kemungkinan ketika hendak melakukan lompatan hidup terkadang secara kasat mata terlihat mundur beberapa langkah dari perjalanan yang dilakukan. Dalam istilahnya hendak melakukan ancang-ancang.

Begitu pula akibat dari melompat banyak diantara mereka terpeleset terlebih dahulu, bahkan tidak sedikit yang berkali-kali mengalami terpeleset. Tetapi tidak sedikti pula yang langsung sukses. Bukankah jika berhasil seorang manusia hanya mengusahakan apa yang dia mampu, hasil merupakan hadiah dari Allah, sehingga tidak ada pintu untuk membanggakan diri apalagi sombong. Kecuali bagi mereka yang jumawa telah dikuasai oleh syaithon.

Begitu pula jika belum berhasil melompat, bukankah hanya sebuah kepingan puzle dari jalan menuju kesuksesan. Jika tidak patah arang mencoba dan terus mencoba niscaya akan menemukan ancang-ancang, pijakan kaki yang tepat, tinggi dan kecepatan lompatan, dan tumpuan pendaratan yang safety.

So, Jangan berhenti berpengharapan pada Allah, Dialah yang menentukan jalur hidup yang akan dilalui oleh manusia.

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.